Selasa, 21 Mei 2013

Uji Tilt Table



Apa Anda sering pingsan saat berdiri terlalu lama? Apalagi lagi disertai tanda-tanda pre-sinkop sebelumnya; mungkin penyebabnya adalah refleks vasovagal.

Untuk mengetahui apakah kondisi Anda merupakan bagian dari pingsan vasovagal, sebuah tes sederhana bernama tilt table test diperlukan. Coba lihat video di atas. Hanya saja, saya belum menemukan, di mana tes ini biasa dikerjakan di negara kita.

Rabu, 06 Maret 2013

Sarjana Ke Daerah Terpencil

Saya tergelitik ketika membaca-baca beberapa percakapan tentang mewajibkan lulusan dokter dikirim ke daerah terpencil. Tidak ada yang salah dengan wacana tersebut, kecuali sedikit melanggar hak asasi manusia dan mungkin menjadi misi bunuh diri. Tapi mungkin bunuh diri bersama-sama, karena aturannya tampak berasal dari pewajiban semua sarjana (lulusan perguruan tinggi) untuk mengabdi pasca kelulusan di daerah terpencil.

Program dokter internship sendiri saat ini membuat banyak dokter lulusan baru menjadi hidup segan, mati pun tak mau, dan ini pun belum ke daerah terpencil, hanya ke rumah sakit tipe C atau D.

Kenapa? Pertama-tama dokter bukanlah Tuhan, bahkan tidak mendekati manusia setengah dewa sekalipun. Dokter tak bisa menyulap hutan menjadi pusat kesehatan, tidak juga bisa membuat masyarakat serta merta terbebas dari segalas jenis penyakit. Meskipun rasanya ingin punya kemampuan seperti itu.

Dokter bukanlah jin dari lampu tua yang bisa mengabulkan segalanya.

Saya banyak mendengar keluhan dari rekan sejawat, bahwa sistem tidaklah mendukung dengan baik. Jangankan di daerah terpencil, di kota kabupaten saja masih bisa berantakan. Dokter tidak bisa berbuat banyak dalam sistem yang tidak mendukung.

Dokter dididik bekerja dengan menggunakan standar. Namun standar sering tidak ada di lapangan. Akhirnya diturunkan, dirujuk atau dipasrahkan saja. Saya menyadari betapa sulitnya bekerja tanpa adanya dukungan standar yang memadai, misalnya sarana dan prasana, termasuk ketersediaan obat sebagai salah satu hal yang paling sederhana.

Pemerintah bisa mengirim dokter ke daerah terpencil, namun tanpa adanya sarana, tidak akan ada banyak yang berubah. Kecuali dalam beberapa hal, terdapat dukungan yang cukup kuat dari pihak-pihak lainnya.

Sehingga saya rasa saya menjadi setuju. Jika dokter diwajibkan ke daerah terpencil selama dua atau tiga tahun, maka demikian juga dengan profesi dan sarjana lainnya. Pembangunan wilayah terpencil tidak hanya bidang kesehatan, namun semua bidang kehidupan. Kesehatan tidak bisa berdiri sendiri sementara bidang-bidang lainnya terpuruk.

Kirimkan para sarjana di bidang kesehatan, pendidikan, industri, pertanian, ekonomi, kehutanan atau kelautan, niaga, teknologi dan sisanya. Sebuah tim yang memang akan bisa memberikan pandangan menyuluruh mengenai bagaimana daerah terpencil dapat ditingkatkan mutu kehidupan masyarakatnya.

Jika sarjana diwajibkan ke daerah terpencil dahulu, mungkin wakil rakyat juga perlu diwajibkan juga ke daerah terpencil selama dua tiga tahun mengabdikan diri sebelum duduk di senayan.

Dan jangan lupa, perlindungan dan dukungan pemerintah yang dalam hal ini memiliki tanggung jawab jika membuat kewajiban ini berjalan. Jangan membuat kebijakan, kemudian cuci tangan.

Bagaimana kehidupan mereka yang dikirim ke wilayah terpencil juga layak diperhitungan, bahkan wajib. Jangan sampai sarjana yang dikirim kemudian kembali dalam kondisi memperihatikan karena hidup serba kekurangan selama ditempatkan.

Tapi apakah hal itu bisa terwujud di negeri ini. Ada banyak yang mengabdi, namun hidup tidak menentu, sebut saja para pekerja honorer di instansi pemerintah yang berasal dari pelbagai profesi. Di kota madya pun nasib mereka bisa dikatakan memprihatinkan, apalagi nanti mereka yang ditempatkan di daerah terpencil.

Pemerintah bisa jadi dianggap melanggar HAM dalam kasus-kasus seperti ini. Tapi karena mereka bekerja dalam label "pengabdian", bisa jadi tidak banyak protes yang muncul.

Saya kadang muak mendengar orang berceloteh bahwa "kamu karena sudah menjadi profesi xxx maka layaknya yang memang mengabdi", sementara dia mungkin merasa dirinya berbeda profesi tidak perlu melakukan pengabdian.

Pada mereka yang bekerja untuk sesama, saya rasakan bahwa pengabdian ada untuk kemanusiaan, bukan untuk penindasan dan kesewenang-wenangan.

Saya rasa apapun profesi Anda, Anda akan tetap mampu mengabdikan diri pada kemanusiaan. Jika Anda membaca ini dan memiliki sebuah profesi, apakah Anda sedang berada di daerah terpencil untuk sebuah label "pengabdian"? Jika tidak, mengapa Anda tidak berada di sana?

Pertanyaan itu akan menjawab, bagaimana sudut pandang setiap orang tetang wacana mewajibkan dokter atau sarjana lain ditempatkan di wilayah terpencil.

Senin, 14 Januari 2013

Di Zaman Serba Instan

Zaman sekarang semua instan. Mie instan, uang instan, bahkan mungkin ada yang pacaran instan. Kadang segala sesuatu yang instan membuat kita lupa menengok ke kiri dan ke kanan.

Perjalanan instan memang membantu kita sampai dengan cepat, namun kadang membuat kita tidak sempat memerhatikan keindahan atau kerusakan alam di sekitar kita. Lalu apakah yang serba instan itu keliru?

Hmm..., saya sendiri gemar menikmati yang serba instan. Hanya saja pemikiran kita mungkin selayaknya tetap terbuka untuk sebuah dunia yang luas. Bahkan ketika sebuah salon menjadi pembenahan penampilan yang seketika, jangan lupa tetap membersihkan cermin nurani kita.

Oke. Sekarang saya mau menikmati makanan instan saya dulu.

Kamis, 10 Januari 2013

Pendidikan itu Selayaknya Cerdas Mencerahkan

Bukan hal yang aneh melihat saat ini dunia pendidikan berlomba-lomba memasang plat visi dan misi yang paling mentereng, seakan-akan memberikan jaminan mencetak keluaran yang mampu diandalkan dan siap terjun ke medan kehidupan. Dengan kata lain, masuk ke jenjang favorit berikutnya, atau mendapatkan pekerjaan yang layak.

Dengan segudang program yang menjejali para siswa, semuanya dituntut untuk maju sejauh mungkin. Entah mungkin maksudnya hingga ke negeri Cina.

Kelulusan adalah nilai mutlak, dan kegagalan adalah haram hukumnya. Prestasi akan menjadi tropi tertinggi, sedemikian hingga bukannya murid belajar untuk saling mendukung, tapi justru saling bersaing, dengan sela-selanya saling bergunjing.

Ketakutan akan kegagalan di dunia pendidikan menekan banyak anak, beberapa menjadi stres, beberapa yang lain menyerah dan menjadi tak acuh. Hanya mereka yang bermental baja yang mampu keluar dalam keadaan selamat, dan hanya yang cerdas luar biasa bisa selesai dari jerat pendidikan dengan tetap waras.

Ketika pendidikan tidak memanusiakan manusia, maka apa yang dapat kita harapkan lagi? Memperbaiki bangsa, ah - saya rasa itu akan tetap menjadi mimpi di atas mimpi.

Ketika pendidikan itu tidak membebaskan jiwa, apa yang bisa dihasilkan? Sekumpulan jiwa-jiwa kerdil yang selalu ikut arus, bekerja ibaratnya pahat menunggu ketukan palu, menjadi bagian dari mekanisme di mesin raksasa yang bernama peradaban - atau masihkah kita kemudian dapat menyebutnya peradaban?

Pendidikan selayaknya cerdas mencerahkan, karena hanya dengan ilmu manusia bisa menyalakan lentara, dan dengan lentera manusia bisa melihat dalam cahaya, dengan ketika dunia dipenuhi cahaya, maka manusia bisa mengenal dirinya dan yang disekitarnya dengan tanpa kepalsuan.

Pendidikan bukan mengejar prestasi, pendidikan bukan mencetak mesin berjalan, pendidikan bukan menanamkan ketakutan. Pendidikan adalah pintu yang jika dibuka, maka semua orang dapat melihat dunia yang tidak lagi gulita.

Selasa, 08 Januari 2013

Karena Tidak Semua yang Dipelajari itu Benar



Ketika duduk di bangku sekolah, saat memandang buku fisika. Kita belajar bahwa nilai momentum bisa didapatkan dari nilai massa dikalikan kecepatan yang dimiliki oleh massa tersebut. Namun pada kenyataan nilai tersebut tidak didapatkan sesederhana itu.

Banyak hal yang kompleks tidak bisa diajarkan pada kita secara gamblang. Oleh karena itu beberapa "kerumitan" (saya beri tanda petik karena ini sangat relatif) disembunyikan untuk menghindari "kepanikan" dan "keputusasaan" dalam belajar bagi para pemula, selama hasil akhir yang diperlukan masih dalam jangkauan dan ranah mereka yang belajar.

Lalu mungkin saja tanpa kita sadari, banyak hal-hal yang kita pelajari selama ini bukanlah hal yang sebenarnya, atau setidaknya sesuatu yang menyerupai "benar". Ilmu selalu berkembang, bahkan mungkin sesuatu yang telah diwariskan selama bertahun-tahun atau berabad-abad, katakanlah seperti agama dan budaya - salah satu pengetahuan tertua peradaban manusia.

Sehingga jika kita bisa membuka diri untuk belajar terus, dan tidak terikat secara membabi-buta pada apa yang dulu pernah kita pelajari, saya rasa ini adalah awal sebuah kebijaksanaan.