Sabtu, 19 November 2016

Planet Kita hanya Satu

Di antara banyak hal dunia ini, kadang masih bisa tertawa geli melihat orang saling berebut kekayaan. Planet kita cuma satu, jika berebut apa jadinya nasib orang-orang yang lemah? Ini seperti sebuah rumah yang hanya punya satu toilet.

Kamis, 10 November 2016

Jadilah Pahlawan

Anak-anak pada zaman saya dahulu disuguhi pelbagai karakteristik kepahlawanan. Mulai dari para pahlawan nasional di buku-buku sejarah, pahlawan mitologi seperti di kisah-kisah Ramayanan dan Mahabarata yang merupakan karya klasik tak lekang oleh waktu, hingga karakter pahlawan import seperti Batman, Superman atau Ultraman - jangan lupa juga Kesatria Baja Hitam yang sempat melenggang di layar kaca ketika itu.

Mungkin banyak anak yang tumbuh dan ingin menjadi pahlawan. Tapi pahlawan yang seperti apa?

Pahlawan selalu ditampilkan dalam sisi terang, sisi kebenaran, sisi membela yang lemah, dan sisi yang menegakkan keadilan. Walau tidak selalu dipuja, setidaknya dicintai oleh banyak orang.

Mungkin karena dampak hebat dari citraan ini, banyak orang hingga besart ingin tampil sebagai pahlawan.

Sayangnya, sisi terang tak selamanya terang, kebenaran tidak selalu hakiki, dan kaum lemah kadang hanya selubung kemunafikan, bahkan keadilan pun tak serta merta berperasaan dan berkemanusiaan.

Membela yang satu dan menjatuhkan yang lain. Menjadi pahlawan di mata yang satu, dan menjadi musuh di mata yang lain. Ini adalah lingkaran kehidupan, roda sebab dan akibat yang tak dapat dipungkiri.

Tidak perlu menjadi Dead Pool untuk menyelami sisi gelap dunia kepahlawanan. Namun mengetahuinya tidak patut menjadikan orang mundur dari apa yang hendak dicapainya. Karena pahlawan tidak selamanya jaya, kadang berkubang lumpur merupakan sebuah berkah yang tak terhingga.

Anda mungkin berjuang menjadi pahlawan, namun belum tentu waktu membuktikannya demikian. Anda mungkin tidak hendak menjadi pahlawan, namun waktu bisa jadi menghadiahkan Anda kejutan ini. Mengapa? Karena jejak yang Anda tinggalkan telah mengubah kehidupan banyak orang menuju kebaikan bagi mereka dan orang-orang yang mereka kasihi.

Berjalanlah di jalan Anda, dan mungkin kelak Anda menemukan orang yang berbahagia karenanya. Dan jangan melupakan mereka yang menjadi pahlawan bagi Anda, meski Anda tak bisa berbuat banyak untuk berterima kasih.

Sabtu, 29 Oktober 2016

Di Bawah Kilauan Waktu

Aku bertanya padamu sebagaimana awal yang pernah membisikkan pada tarikan napas yang pertama. Apa yang kau renungkan di bawah kilauan waktu?

Seperti angin yang pergi tak pernah kembali, seperti itu juga waktu yang pernah kita dekap dengan erat.

Aku akanmu, hanya menjadi tebaran bintang di langit malammu, menjadi kilauan kenangan yang selalu menaungi perjalananmu.

Jangan bersedih, jangan berhenti. Karena engkau tetap berada di bawah kilauan sang waktu. Dan napasmu masih cukup untuk melantunkan Gita kehidupan, sebagaimana yang pernah kita dendang bersama pada awal permulaan.

Selasa, 11 Oktober 2016

Mewariskan Mimpi

Zaman dan era akan berlalu untuk diganti yang baru. Generasi seakan tak henti berganti dan berlari. Dan manusia sering berpikir bahwa ia tak berumur lebih panjang dari sebatang jagung, serta peradaban tak lebih abadi dibandingkan awan yang lenyap bersama angin.

Kadang aku teringat ketika menggenggam tangan mungilmu dan membawamu berjalan di bawah tarian rembulan dan para bintang. Ketika hujan menyusuri malam dan menghanyutkan sanubariku.

Aku berkata padamu, bahwa kelak engkau akan mewarisi semestaku, mimpiku akan menjadi hari esok di mana engkau melangkah di bawah rerimbunan bambu yang meneduhkan. Dan menjadikan langit jendela bagi kisah-kisah yang melagukan keabadian kita.

Aku teringat langkah kecilmu, dalam gemericik perdu yang terkulai oleh tetesan hujan dan embun yang saling bergelut. Dan ketika aku melihat senyum ceria di wajah polosmu. Maka aku tahu bahwa aku telah mewariskan mimpi padamu.

Senin, 10 Oktober 2016

Let's Talk

Depresi bisa terjadi pada siapa saja. Maka jangan jangan khawatir untuk memulai berbuka hati kepada orang lain yang bersedia mendengarkan.

Depresi bukan untuk dianggap remeh. Mari saling berbicara satu sama lainnya, dan hadapi depresi dengan lebih dewasa.