Sabtu, 20 September 2014

Pilih Sisi yang Mana?

Kehidupan orang itu kadang yang tidak enak adalah selalu merasa sial. Apapun yang dikerjakan susah sukses, ada tujuan yang ingin dicapai, tapi sepanjang jalan semuanya terkesan suram.

Orang orang seperti ini mungkin akan melihat orang hidupnya cerah ceria itu benar-benar beruntung!

Tapi kenyataannya mereka memang beruntung. Jalan selalu mulus, apa yang ditemukan sepanjang jalan enak-enak semua.

Atau mungkin orang-orang beruntung ini memang memilih untuk hadir dalam kehidupan dengan keberuntungan yang dia miliki.

Apakah kamu sudah memilih untuk menjadi beruntung?

Bukankah katanya kehidupan itu seperti sekeping mata uang? Sisi mana yang mau kita pilih?

Kita bisa mengubah banyak hal dengan mengubah cara pandang kita. Kita bisa mengubah banyak jika kita bukan bongkah batu yang cuma dia menerima nasib, apalagi membela nasib.

Orang yang mencintai kehidupan akan mengasihi setiap momen kehidupan dan menjadikannya baru serta penuh makna.

Rabu, 20 Agustus 2014

Bepergian ke dan dari Wilayah Wabah Ebola

Ebola saat ini dinyatakan sebagai wabah di sejumlah negara Afrika. WHO memberikan peringatan potensi risiko terinfeksi jika seseorang bepergian ke negara yang sedang terjadi wabah Ebola. Walau risikonya tidak tinggi, kecuali bagi petugas kesehatan yang menangani langsung kasus Ebola.

Anda harus memerhatikan sejumlah hal jika bepergian ke negara yang mengalami wabah Ebola. Hindari kontak dengan penderita, lalu jangan menyentuh tubuh penderita yang meninggal karena Ebola. Selalu bawa semprotan alkohol ke manapun pergi, jika tangan terlihat kotor, cuci dengan sabun dan air.

Jika Anda menemukan tanda atau gejala infeksi Ebola yang menyerupai influenza tapi dengan adanya perdarahan. Segera laporkan ke petugas kesehatan, atau jika sedang berada di bandara/pesawat, hubungi petugas berwenang terdekat sehingga segera mendapatkan bantuan medis.

Selasa, 19 Agustus 2014

Hidup Tanpa Mimpi

Menjadi anak-anak memiliki harta tersendiri, yaitu bebas membangun mimpi tanpa ada dinding pembatas. Walau kadang anak-anak menjadi terlalu cepat dewasa ketika mereka dibentur oleh dinding realitas.

Aku memahami sebuah senja yang menggantung di antara nyiur dan hamparan sawah dan ladang yang selalu digitakan oleh para penyair sejak dulu. Seakan-akan mimpi juga memiliki hak untuk diwariskan ke generasi selanjutnya.

Tapi setiap orang akan membangun mimpi mereka. Bahkan sangat beruntung mereka yang masih dapat bermimpi walau realita memberikan begitu banyak kepahitan. Walau mimpi itu kekanak-kanakan.

Ketika orang hanya sibuk bergulat dengan realita, mereka lupa melihat kehidupan dengan utuh. Hanya ketika orang mampu bersentuhan dengan kehidupan, mereka akan dianugerahi imajinasi yang luar biasa, dan mereka adalah yang dapat bermimpi untuk kemudian berjumpa lagi dengan sang kehidupan.

Mereka yang bergulat melawan realita, tidak pernah memiliki waktu untuk bermimpi, mungkin saja, dan mereka kehilangan sentuhan dengan sang kehidupan.

Tempo Dulu



Seperti apa Bali tempo dulu? Satu generasi sebelum saya mungkin bisa menceritakannya dengan jelas, tapi generasi saya dan generasi setelah saya hanya tahu bagaimana cerita itu diceritakan kembali. Masa kecil saya pun sudah melihat bagaimana Bali berubah menjadi modern karena arus wisata global yang tidak terbendung, dan kehidupan berubah dari tanah yang mandiri secara agraris menjadi ketergantungan terhadap datangnya dolar-dolar asing.

Video yang dipublikasikan ke jejaring sosial ini bisa menunjukkan pada kita bagaimana setidaknya Bali beberapa dekade yang lampau. Kita bisa melihat bagaimana berbedanya pulau dewata dulu dan saat ini.

Perubahan tidak selalu bermakna buruh, kedamaian itu bisa ditemukan dulu dan hari ini juga. Pertanyaannya adalah, apakah yang kini ada bersedia melepaskan apa yang menjadi tempo dulu, dan mengambil apa yang ditawarkan hari ini.

Senin, 04 Agustus 2014

Emosi Bumbu Kehidupan

Sesuatu yang menemani kita sehari-hari, dan paling dekat dengan manusia, mungkin adalah emosi itu sendiri. Emosi memberikan bumbu dalam kehidupan.

Hanya saja, emosi yang terlalu deras  bak sungai banjir yang menggerus semua kehidupan di sekitarnya. Yang memercik konflik dan menyisakan kehancuran.

Jika kita termasuk orang yang emosional. Kita mungkin akan menghadapi keadaan yang serupa ke depannya.

Belajar menerima dan berdamai dengan diri sendiri bisa menjadi langkah awal yang baik untuk semuanya.