Selasa, 11 Oktober 2016

Mewariskan Mimpi

Zaman dan era akan berlalu untuk diganti yang baru. Generasi seakan tak henti berganti dan berlari. Dan manusia sering berpikir bahwa ia tak berumur lebih panjang dari sebatang jagung, serta peradaban tak lebih abadi dibandingkan awan yang lenyap bersama angin.

Kadang aku teringat ketika menggenggam tangan mungilmu dan membawamu berjalan di bawah tarian rembulan dan para bintang. Ketika hujan menyusuri malam dan menghanyutkan sanubariku.

Aku berkata padamu, bahwa kelak engkau akan mewarisi semestaku, mimpiku akan menjadi hari esok di mana engkau melangkah di bawah rerimbunan bambu yang meneduhkan. Dan menjadikan langit jendela bagi kisah-kisah yang melagukan keabadian kita.

Aku teringat langkah kecilmu, dalam gemericik perdu yang terkulai oleh tetesan hujan dan embun yang saling bergelut. Dan ketika aku melihat senyum ceria di wajah polosmu. Maka aku tahu bahwa aku telah mewariskan mimpi padamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar