Sabtu, 29 Oktober 2016

Di Bawah Kilauan Waktu

Aku bertanya padamu sebagaimana awal yang pernah membisikkan pada tarikan napas yang pertama. Apa yang kau renungkan di bawah kilauan waktu?

Seperti angin yang pergi tak pernah kembali, seperti itu juga waktu yang pernah kita dekap dengan erat.

Aku akanmu, hanya menjadi tebaran bintang di langit malammu, menjadi kilauan kenangan yang selalu menaungi perjalananmu.

Jangan bersedih, jangan berhenti. Karena engkau tetap berada di bawah kilauan sang waktu. Dan napasmu masih cukup untuk melantunkan Gita kehidupan, sebagaimana yang pernah kita dendang bersama pada awal permulaan.

Selasa, 11 Oktober 2016

Mewariskan Mimpi

Zaman dan era akan berlalu untuk diganti yang baru. Generasi seakan tak henti berganti dan berlari. Dan manusia sering berpikir bahwa ia tak berumur lebih panjang dari sebatang jagung, serta peradaban tak lebih abadi dibandingkan awan yang lenyap bersama angin.

Kadang aku teringat ketika menggenggam tangan mungilmu dan membawamu berjalan di bawah tarian rembulan dan para bintang. Ketika hujan menyusuri malam dan menghanyutkan sanubariku.

Aku berkata padamu, bahwa kelak engkau akan mewarisi semestaku, mimpiku akan menjadi hari esok di mana engkau melangkah di bawah rerimbunan bambu yang meneduhkan. Dan menjadikan langit jendela bagi kisah-kisah yang melagukan keabadian kita.

Aku teringat langkah kecilmu, dalam gemericik perdu yang terkulai oleh tetesan hujan dan embun yang saling bergelut. Dan ketika aku melihat senyum ceria di wajah polosmu. Maka aku tahu bahwa aku telah mewariskan mimpi padamu.

Senin, 10 Oktober 2016

Let's Talk

Depresi bisa terjadi pada siapa saja. Maka jangan jangan khawatir untuk memulai berbuka hati kepada orang lain yang bersedia mendengarkan.

Depresi bukan untuk dianggap remeh. Mari saling berbicara satu sama lainnya, dan hadapi depresi dengan lebih dewasa.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Semburat Terakhir

Layaknya napas yang enggan terputus. Seperti juga nyala lentera di penghujung badai. Dan tak beda dengan semburat terakhir di antara balik awan. Kehidupan menyentuh insan dengan kerinduan pada keabadian.

Dan setiap hembusan napas berubah menjadi keabadian. Seakan-akan waktu tak memiliki lagi tikungan. Dan manusia dapat berjalan dalam bentang penuh kebebasan.

Yang lampau telah lapuk ke pangkuan pertiwi. Dan kini, semburat terakhir menjadi senyum yang terpatri dalam pelukan sanubari.

Sulitnya Hal yang Sederhana

Menikmati kehidupan adalah hal yang sederhana. Namun banyak orang tidak bisa melakukannya. Apa karena kita mungkin tidak menyukai ha-ha sederhana, dan lebih senang dengan gemerlapan kerumitan hidup kita?

Pergi ke tempat kerja, menikmati pemandangan sepanjang jalan, pulang ke rumah dan mengisi waktu luang, dan kemudian istirahat dengan pulas. Ini adalah rutinitas kita sehari-hari. Tapi adakah yang menemukan ini bisa menjadi kebalikannya?

Jika iya, kita mungkin belum bisa menikmati kesederhanaan hidup kita. Itu saja.

Kamis, 06 Oktober 2016

Dunia Dalam Secangkir Kopi

Seperti menyeruput kopi di bawah mega-mega kelabu dengan rintik gerimis dan sinar mentari yang mencuri-curi pandang dari langit senja Selatan. Seperti demikian pula suasana hatiku yang merindu terbitnya terang dari balik selimut yang mengusir dingin kalbuku.

Minggu, 02 Oktober 2016

Jiwa-jiwa yang tak Terpisahkan

Kehidupan membuat orang bertemu dengan banyak hal. Saling bertegur sapa dan saling bertukar pandang. Kita bagaikan bulir bulir pasir yang hanyut di dasar sungai. Menari bersama waktu untuk saling dipertemukan dan saling mengenal.

Jiwa manusia dipenuhi dengan kelembutan. Dan kelembutan membuka jalan bagi semesta kemanusiaan yang lebih tak bertepi.

Dua jiwa yang bertemu dalam kelembutan adalah Jiwa-jiwa yang tidak terpisahkan. Bagai lumpur yang mengendap di dasar sungai. Menjadi abadi dalam keheningan dan keintiman hingga akhir zaman.