Jumat, 23 Desember 2016

Song of teh Rain

I am dotted silver threads dropped from heaven by the gods.
Nature then takes me, to adorn her fields and valleys.
I am beautiful pearls, Plucked from the crown of Ishtar by the daughter of Dawn to embellish the gardens.
When I cry the hills laugh; When I humble myself the flowers rejoice; When I bow, all things are elated.
The field and the cloud are lovers And between them I am a messenger of mercy.
I quench the thirst of one; I cure the ailment of the other. The voice of thunder declares my arrival; The rainbow announces my departure.
I am like earthly life, Which begins at the feet of the mad elements And ends under the upraised wings of death.

I emerge from the heard of the sea Soar with the breeze.
When I see a field in need, I descend and embrace the flowers and the trees in a million little ways.
I touch gently at the windows with my soft fingers, And my announcement is a welcome song all can hear But only the sensitive can understand.
The heat in the air gives birth to me, But in turn I kill it, As woman overcomes man with the strength she takes from him.
I am the sigh of the sea; The laughter of the field; The tears of heaven.
So with love— Sighs from the deep sea of affection; Laughter from the colourful field of the spirit; Tears from the endless heaven of memories.

Gibran, Kahlil. The Complete Works of Kahlil Gibran: All poems and short stories (Global Classics) (Kindle Locations 565-582). GENERAL PRESS.

Sabtu, 19 November 2016

Planet Kita hanya Satu

Di antara banyak hal dunia ini, kadang masih bisa tertawa geli melihat orang saling berebut kekayaan. Planet kita cuma satu, jika berebut apa jadinya nasib orang-orang yang lemah? Ini seperti sebuah rumah yang hanya punya satu toilet.

Kamis, 10 November 2016

Jadilah Pahlawan

Anak-anak pada zaman saya dahulu disuguhi pelbagai karakteristik kepahlawanan. Mulai dari para pahlawan nasional di buku-buku sejarah, pahlawan mitologi seperti di kisah-kisah Ramayanan dan Mahabarata yang merupakan karya klasik tak lekang oleh waktu, hingga karakter pahlawan import seperti Batman, Superman atau Ultraman - jangan lupa juga Kesatria Baja Hitam yang sempat melenggang di layar kaca ketika itu.

Mungkin banyak anak yang tumbuh dan ingin menjadi pahlawan. Tapi pahlawan yang seperti apa?

Pahlawan selalu ditampilkan dalam sisi terang, sisi kebenaran, sisi membela yang lemah, dan sisi yang menegakkan keadilan. Walau tidak selalu dipuja, setidaknya dicintai oleh banyak orang.

Mungkin karena dampak hebat dari citraan ini, banyak orang hingga besart ingin tampil sebagai pahlawan.

Sayangnya, sisi terang tak selamanya terang, kebenaran tidak selalu hakiki, dan kaum lemah kadang hanya selubung kemunafikan, bahkan keadilan pun tak serta merta berperasaan dan berkemanusiaan.

Membela yang satu dan menjatuhkan yang lain. Menjadi pahlawan di mata yang satu, dan menjadi musuh di mata yang lain. Ini adalah lingkaran kehidupan, roda sebab dan akibat yang tak dapat dipungkiri.

Tidak perlu menjadi Dead Pool untuk menyelami sisi gelap dunia kepahlawanan. Namun mengetahuinya tidak patut menjadikan orang mundur dari apa yang hendak dicapainya. Karena pahlawan tidak selamanya jaya, kadang berkubang lumpur merupakan sebuah berkah yang tak terhingga.

Anda mungkin berjuang menjadi pahlawan, namun belum tentu waktu membuktikannya demikian. Anda mungkin tidak hendak menjadi pahlawan, namun waktu bisa jadi menghadiahkan Anda kejutan ini. Mengapa? Karena jejak yang Anda tinggalkan telah mengubah kehidupan banyak orang menuju kebaikan bagi mereka dan orang-orang yang mereka kasihi.

Berjalanlah di jalan Anda, dan mungkin kelak Anda menemukan orang yang berbahagia karenanya. Dan jangan melupakan mereka yang menjadi pahlawan bagi Anda, meski Anda tak bisa berbuat banyak untuk berterima kasih.

Sabtu, 29 Oktober 2016

Di Bawah Kilauan Waktu

Aku bertanya padamu sebagaimana awal yang pernah membisikkan pada tarikan napas yang pertama. Apa yang kau renungkan di bawah kilauan waktu?

Seperti angin yang pergi tak pernah kembali, seperti itu juga waktu yang pernah kita dekap dengan erat.

Aku akanmu, hanya menjadi tebaran bintang di langit malammu, menjadi kilauan kenangan yang selalu menaungi perjalananmu.

Jangan bersedih, jangan berhenti. Karena engkau tetap berada di bawah kilauan sang waktu. Dan napasmu masih cukup untuk melantunkan Gita kehidupan, sebagaimana yang pernah kita dendang bersama pada awal permulaan.

Selasa, 11 Oktober 2016

Mewariskan Mimpi

Zaman dan era akan berlalu untuk diganti yang baru. Generasi seakan tak henti berganti dan berlari. Dan manusia sering berpikir bahwa ia tak berumur lebih panjang dari sebatang jagung, serta peradaban tak lebih abadi dibandingkan awan yang lenyap bersama angin.

Kadang aku teringat ketika menggenggam tangan mungilmu dan membawamu berjalan di bawah tarian rembulan dan para bintang. Ketika hujan menyusuri malam dan menghanyutkan sanubariku.

Aku berkata padamu, bahwa kelak engkau akan mewarisi semestaku, mimpiku akan menjadi hari esok di mana engkau melangkah di bawah rerimbunan bambu yang meneduhkan. Dan menjadikan langit jendela bagi kisah-kisah yang melagukan keabadian kita.

Aku teringat langkah kecilmu, dalam gemericik perdu yang terkulai oleh tetesan hujan dan embun yang saling bergelut. Dan ketika aku melihat senyum ceria di wajah polosmu. Maka aku tahu bahwa aku telah mewariskan mimpi padamu.

Senin, 10 Oktober 2016

Let's Talk

Depresi bisa terjadi pada siapa saja. Maka jangan jangan khawatir untuk memulai berbuka hati kepada orang lain yang bersedia mendengarkan.

Depresi bukan untuk dianggap remeh. Mari saling berbicara satu sama lainnya, dan hadapi depresi dengan lebih dewasa.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Semburat Terakhir

Layaknya napas yang enggan terputus. Seperti juga nyala lentera di penghujung badai. Dan tak beda dengan semburat terakhir di antara balik awan. Kehidupan menyentuh insan dengan kerinduan pada keabadian.

Dan setiap hembusan napas berubah menjadi keabadian. Seakan-akan waktu tak memiliki lagi tikungan. Dan manusia dapat berjalan dalam bentang penuh kebebasan.

Yang lampau telah lapuk ke pangkuan pertiwi. Dan kini, semburat terakhir menjadi senyum yang terpatri dalam pelukan sanubari.

Sulitnya Hal yang Sederhana

Menikmati kehidupan adalah hal yang sederhana. Namun banyak orang tidak bisa melakukannya. Apa karena kita mungkin tidak menyukai ha-ha sederhana, dan lebih senang dengan gemerlapan kerumitan hidup kita?

Pergi ke tempat kerja, menikmati pemandangan sepanjang jalan, pulang ke rumah dan mengisi waktu luang, dan kemudian istirahat dengan pulas. Ini adalah rutinitas kita sehari-hari. Tapi adakah yang menemukan ini bisa menjadi kebalikannya?

Jika iya, kita mungkin belum bisa menikmati kesederhanaan hidup kita. Itu saja.

Kamis, 06 Oktober 2016

Dunia Dalam Secangkir Kopi

Seperti menyeruput kopi di bawah mega-mega kelabu dengan rintik gerimis dan sinar mentari yang mencuri-curi pandang dari langit senja Selatan. Seperti demikian pula suasana hatiku yang merindu terbitnya terang dari balik selimut yang mengusir dingin kalbuku.

Minggu, 02 Oktober 2016

Jiwa-jiwa yang tak Terpisahkan

Kehidupan membuat orang bertemu dengan banyak hal. Saling bertegur sapa dan saling bertukar pandang. Kita bagaikan bulir bulir pasir yang hanyut di dasar sungai. Menari bersama waktu untuk saling dipertemukan dan saling mengenal.

Jiwa manusia dipenuhi dengan kelembutan. Dan kelembutan membuka jalan bagi semesta kemanusiaan yang lebih tak bertepi.

Dua jiwa yang bertemu dalam kelembutan adalah Jiwa-jiwa yang tidak terpisahkan. Bagai lumpur yang mengendap di dasar sungai. Menjadi abadi dalam keheningan dan keintiman hingga akhir zaman.

Selasa, 27 September 2016

Berjalan Bersama Kehidupan

Kehidupan menunggu uluran tangan kita untuk diajak berjalan bergandengan. Menyambut kehidupan seperti menyambut angin pagi yang penuh semangat dan kehangatan.

Mereka yang menghargai kehidupan akan dapat berjalan berdampingan dengan sang kehidupan.

Sabtu, 03 September 2016

Dongeng untuk Masa Depan

Ketika malam merayap semakin gelap, seberapa banyak dongeng kembali diwariskan dari generasi ke generasi? Siapakah yang kini masih suka mendongeng bagi generasi baru negeri ini?

Adakah beban kehidupan telah menghempaskan generasi kita ke dalam ceruk yang melelahkan akal kita menumpulkan nurani kita dari menyajikan buah pikiran yang nikmat bagi anak dan cucu?

Kala televisi belum menjadi pelabuhan hiburan dari pelayaran harian yang memenatkan batin, kala gawai-gawai belum menjajah anak cucu bahkan sebelum mereka bisa mulai bertutur. Masa itu, di antara nyala lampu yang masih merupakan kemewahan, dongeng adalah pupuk bagi kecerdasan imajinasi tanpa batas generasi generasi baru.

Dongeng hidup dari generasi ke generasi karena merupakan bagian dari budaya yang memanusiakan kita. Dan dongeng adalah pengantar jiwa-jiwa muda menuju masa depan bahkan ketika mereka terlelap penuh senyum dan harap.

Sudahkah Anda berdongeng malam ini?

Jumat, 02 September 2016

Tanjakan Kehidupan

Bergembiralah yang hidup naik dan turun, setidaknya Anda menikmati perosotan yang nyaman sesekali. Tapi kehidupan tidak selalu manis, masalah bisa jadi datang bertubi-tubi, dan manusia mengais harapan pada hari esok yang justru menampilkan dinding tebing yang mesti dilewati.

Adakah insan yang hendak mengutuk takdir? Jika bukan aku yang sirna maka engkau yang runtuh!

Ah kawan, apakah kita lupa bahwa makhluk kecil bernama manusia itu begitu rentan digilas oleh roda zaman? Untuk apa kita mengutuk berharap dilempari balik dengan segenggam keadilan?

Mengeluh tidak akan membawa kita beranjak naik di tebing yang curam. Menunda tidak akan mendatangkan keajaiban seperti di kisah-kisah para pencinta.

Tegakkan kepala dan busungkan dada! Katakan, maju!

Satu langkah pertama mungkin yang tersulit salam kehidupan kita. Tapi tanpa langkah pertama, maka tiada sudah langkah-langkah berikutnya yang akan membawa kita ke puncak kehidupan!

Di mana di situ kita melihat betapa indahnya kehidupan.

Jumat, 12 Agustus 2016

Bersama Bahagia

Jika melihat para kucing bergerombol, maka saya bertanya-tanya - apakah mereka bahagia? Ah, mengapa bertanya demikian, toh kita tak akan pernah tahu apa yang mereka pikirkan. Tapi kok rasanya ya mereka memang bahagia.

Sepertinya enak sekali kalau tidak memikirkan terlalu banyak hal, bisa bercengkerama seperti mereka. Seperti kata Koes Plus ketika mereka bernyanyi akan masa bujangan.

Tapi bersama itu memang membuat bahagia. Bagaimana tidak, toh manusia tidak mungkin hidup sendiri kan? Tapi ya tetap saja, ketika orang berusaha hidup bersama, ada saja yang lebih suka mendapat keuntungan pribadi dengan mericuhkan suasana.

Eh... akhirnya berpikir... mau bahagia saja ada yang bikin susah.

Kamis, 11 Agustus 2016

Jauhkan Anak dari Sosmed?

Kadang ada isu menarik untuk mengajak para orang tua menjauhkan anak dari sosial media atau jejaring sosial. Bagi mereka yang mengadopsi pandangan nilai-nilai privasi, tentunya ini terkesan wajar. Namun bagi mereka yang lebih terbuka akan kehidupan pribadi mereka, akan merasa ajakan ini berlebihan.

Tapi kadang sebagai orang tua, masyarakat yang dewasa juga harus mulai mempertimbangkan bagaimana anak melihat diri mereka. Apakah orang tua pernah bertanya tentang apakah anak mereka menginginkan privasi atau tidak dalam kehidupannya?

Bijaksana dalam memilih bagaimana Anda membagikan informasi di media sosial ☺.

Rabu, 03 Agustus 2016

Dukung Ibu agar Bisa Menyusui Di Mana Saja

Air susu ibu adalah hak dan anugerah yang tak terbantahkan bagi bayi kita. Sayangnya, tidak pada semua kesempatan seorang ibu bisa memberi ASI pada bayinya.

Maka dari itu, mari kita bangun sebuah suasana dan lingkungan di mana masyarakat dapat saling mendukung sedemikian hingga ibu bisa menyusui di tempat-tempat umum dengan tenang dan nyaman demi kebaikan si buah hati.

Senin, 01 Agustus 2016

Mengapa Membakar Tempat Ibadah?

Setahun belakangan ini saya tidak habis pikir, mengapa ada orang yang (sengaja?) Membakar tempat ibadah? Katakanlah mereka oknum agar terdengar lebih nyaman. Dan tidak hanya satu golongan agama saja yang menjadi sasarannya.

Apa yang didapatkan dari membakar tempat ibadah?

Kepuasan akan ego? Menyatakan bahwa agama kita benar sementara yang lain salah dan harus tunduk?

Lalu setelah ego dan emosi terlampiaskan, lalu apa yang didapat? Surga?

Anda belum mati, masih bernapas, surga hanya masih dalam angan saja. Dan jika Anda bisa masuk surga karena menyengsarakan orang lain, maka Anda harus berhati-hati dan waspada, mungkin saja surga itu penuh dengan orang yang gemar memuaskan diri dengan menyengsarakan orang lain, bukan tidak mungkin Anda akan terkena getahnya di dalam sana.

Tuhan dan semesta tidak perlu dibuat terkesan. Tidak siapa pun di dunia ini perlu kita buat terkesima. Apalagi jika menggunakan jalan kekerasan. Kekerasan hanya akan menumbuhkan benih kebencian. Dan jika kebencian telah tumbuh dengan subur, maka tidak akan ada tempat bagi kasih sayang untuk bersemi.

Apakah Anda yakin akan mendapatkan damai di tempat yang gersang akan cinta dan kasih sayang? Dan apakah Anda yakin surga akan hadir di antara tempat-tempat yang hampa kedamaian?

Hanya ketika jiwa tidak terjerumus ke dalam keinginan untuk tampil hebat, ketika tidak terikat dalam lingkaran kebencian, maka kedamaian bisa hadir dalam kehidupan.

Sabtu, 30 Juli 2016

Bermain Pokémon Jangan Berlebihan

Saya sebenarnya tidak masalah jika ada yang bermain game Pokémon GO yang baru-baru ini populer. Tapi sebaiknya jangan bermain dengan berlebihan. Apalagi mengganggu jam kerja aktif sedemikian hingga menghalangi produktivitas.

Pokémon GO cocok untuk bersosialisasi, biar tidak cuma main di dalam rumah mengurung diri. Hanya jangan berlebihan sampai mengganggu kepentingan orang lain, atau mengganggu privasi orang lain - berikan Pikachu sedikit waktu.

Senin, 25 Juli 2016

Donor Darah Lagi

Kemarin iseng setelah acara syawalan bareng istri lalu singgah di UDD Kota Jogja. Mendonor Darah yang sempat tertunda karena memang susah meluangkan waktu untuk itu, pas ada waktu luang kondisi tubuh yang kurang fit.

Akhirnya setelah melihat darah diambil dengan jarum yang "gede", lalu pulang dengan membawa biskuit dan susu coklat segar.

Apakah anda sudah donor darah belakangan ini?

Banjir Informasi

Dunia modern, demikian kita sebut era di mana kita hidup saat ini. Bahkan akhir dekade di milenium sebelumnya sudah kita lihat sebagai era yang tertinggal jauh melalui kacamata lompatan teknologi yang dibangun oleh umat manusia.

Salah satu teknologi ini adalah pesatnya arus informasi melalui Internet yang semakin sulit dibendung. Karena setiap orang dapat menciptakan, menyadur dan berbagi informasi nyaris tanpa batas.

Hanya saja, kita sedang kekurangan kemampuan dalam menyaringkan informasi ini. Menelannya mentah-mentah tanpa pertimbangan dan kebijaksanaan, layaknya orang kaya baru yang gemar menghabiskan junk food. Kita akan gemuk oleh informasi, namun menjadi pesakitan jiwanya karena minim kebijaksanaan untuk mencerna apa yang kita telan.

Maka, jadilah orang yang bijaksana dalam memilah-milah informasi.

Senin, 11 Juli 2016

Makna Kehidupan

Mengapa kita sibuk mencari makna kehidupan ketika kehidupan itu sendiri bermakna?

Apa kita mempertanyakan mengapa kita miskin? Mengapa kita sakit? Mengapa kita bahagia? Mengapa kita menderita?

Semua pertanyaan itu adalah pertanyaan yang mencari makna kehidupan. Biarkan saja pertanyaan akan datang, mereka sering mengetuk pintu kita tanpa diundang.

Jika lelah mencari jawabannya di luar sana. Mengapa tidak mencari jawabnya di dalam diri masing-masing diri kita?

Rabu, 06 Juli 2016

Tidak Menyerah

Mungkin langit tidak runtuh ketika kita menapak kehidupan ini. Tapi bumi tempat kita berpijak dapat runtuh meninggalkan kehampaan yang besar yang membuat kita tidak tahu harus berpijak ke mana lagi.

Namun mereka yang mencintai kehidupan tidak akan menyerah dalam ketidakberdayaan. Kehidupan harus terus berlanjut.

Sabtu, 26 Maret 2016

Tempat di Mana Kamu akan Kembali

Seperti seekor kura-kura yang pertama kali merangkak keluar dari pasir setelah terbebas dari cangkang telurnya. Di situ kesadarannya akan terisi oleh aroma dan gurat pasir yang kemudian tenggelam dalam ingatannya.

Jauh sebelum dia menuju ke dalam deburan ombak di pantai. Dia akan menyimpan kenangan pertama ini dalam-dalam... karena ke sinilah dia suatu saat kelak akan kembali.

Demikian juga kita, di mana kenangan kita tertanam sedemikian kuat. Di kelak kesadaran kita akan kembali.


Selasa, 22 Maret 2016

Jalan Kehidupan Tak Mesti Lapang

Berjalan di jalan yang lapang memang enak. Bahkan bisa pakai angkutan masal, tinggal naik bareng-bareng, sampai dah ke tempat tujuan. Namun tidak semua jalan lapang membawa kita ke tempat yang kita inginkan. Kadang jalan yang sempit yang akan menyambut kita.

Demikian juga dengan kehidupan. Kadang jalan yang sempit yang memberikan kita keindahan berpijak di bumi. Bagaimana kita memandang jalan kehidupan kemudian menjadi hal yang bermakna.

Jika kita bahagia, maka jalan kehidupan akan menjadi indah dengan sendirinya, walau pun harus busukan ke dalam lorong-lorong yang sempit.


Senin, 21 Maret 2016

Sudahkah Anda Mendongeng Hari Ini?

Saya hanya ingin mengucapkan, selamat Hari Mendongeng Internasional. Semoga dongeng nusantara tidak punah digerogoti zaman.


Rabu, 13 Januari 2016

Kebenaran Tak Selalu Seperti yang Kita Bayangkan

Kita bisa membaca banyak hal mengenai matahari, bahkan menyaksikan sejumlah karya seni akan kisah matahari, atau galeri fotonya. Informasi juga banyak tersedia. Tapi kita tidak pernah mengenal matahari, bagaimana mau berkenalan, kita mungkin tidak akan tersisa utuh jauh sebelum kita bisa mendekat dan melihatnya sebesar semangka.

Kebenaran pun demikian. Kita tahu banyak hal, namun kebenaran tak akan pernah sama dengan apa yang kita bayangkan. Jadi santai sajalah.

Merasa Sendiri?

Apakah kita merasa sendiri? Mengapa merasa sendiri ketika masih ada rerumputan yang tumbuh di sekitar kita? Ketika masih ada angin yang berembus,  dan bintang yang menerangi malam?

Apakah kita takut akan kesepian?

Bagaimana dunia yang selalu bergejolak pernah sepi?

Ataukah kita sudah menemukan sisi kehidupan yang lainnya. Di mana kesunyian membukakan pintu ke dunia yang sepenuhnya baru?

Sabtu, 09 Januari 2016

Aku Menantimu di Bawah Rembulan

Seperti aroma basahnya ilalang oleh embun malam, aku menantimu di bawah rembulan. Dan kubiarkan angin membawa muram, yang telah lama dibungkus oleh waktu dan pengharapan.

Kepada siapa lagi aku berkata, tentang kisah yang hilang di antara dua cakrawala senja. Dan ketika semburat perak itu muncul di langit merah, maka ingatlah bahwa aku menantimu di bawah rembulan.

Jumat, 08 Januari 2016

Jangan Merokok di Depan Ibu Hamil

Sebaiknya kamu tidak merokok di depan ibu hamil. Kenapa?

Ealah... merokok buat diri sendiri saja sudah merusak kesehatan, apalagi merokok di dekat ibu hamil. Apa mau mencelakakan ibu dan bayi dalam kandungannya?

Kalau ada yang menanyakan logika sederhana ini, saya sendiri bingung harus jawab apa.

Memandang Dunia

Jangan melihat dunia dengan sebelah mata, jangan juga melihat dunia dengan kacamata kuda. Tapi jadilah seperti seekor kucing hutan dewasa, yang mengendap menatap mangsanya.

Memandang dunia dengan segenap perhatian kita. Dengan seluruh jiwa raga kita. Bahwa inilah yang ada di hadapan kita. Tanpa berusaha lari darinya.

Walau hanya sekejap, memandang dunia dengan seutuhnya akan memberikan dimensi baru yang sama sekali berbeda.

Lepaskan Semua Beban Pikiran

Ketika orang berkata, lepaskan beban pikiran. Maka bisa jadi kita balik berpikir, mau dibawa ke mana beban hidup kita? Siapa yang akan menanggung?

Tapi kadang kita lupa, menjejali beban dalam pikiran kita tidak menyelesaikan masalah apapun. Orang bilang, makan bubur panas itu tidak pakai otak, tapi pakai tindakan. Mau dipikirkan sampai kepala berasap pun bubur panas tidak akan habis di atas piring. Apalagi kalau kita sampai jatuh stres memikirkan bagaimana makan bubur panas.

Melepaskan beban pikiran tidak bermakna melepas apa yang layaknya kita kerjakan. Hanya saja, kita tidak membuatnya menjadi beban lagi secara psikologis.

Ini mudah disampaikan, tapi sulit tercipta. Jika tidak, bagaimana tidak mungkin dunia ini penuh dengan orang yang stres sepanjang harinya.

Apakah kita bisa melihat dunia yang terang sepenuhnya?