Senin, 12 Oktober 2015

Hingga di Ujung Semesta

Kayuhlah bahteramu hingga ke ujung semesta, di kaki langit di mana para bintang dilahirkan untuk menyala sebelum padam di akhir zamannya. Biarlah benderang malam menjadi saksi akan jejakmu yang hilang di atas bumi demikian juga di muka samudra.

Engkau adalah titipan yang dari yang diharapkan dalam impianku. Datanglah seperti sunyi yang menyanyikan dendang pengantar lelap. Dan biarkan kebenaran beristirahat sementara tiada insan yang memedulikan.

Datanglah di atas bahtera, dan kunanti engkau di ujung semesta, di batas angan dan hasratmu akan rahasia seluruh alam.


Minggu, 11 Oktober 2015

Bukan Melihat ke Depan

Bermimpi itu indah, melihat jauh dibandingkan apa yang dilihat oleh orang lain. Seakan-akan meninggalkan dunia jauh ke depan.

Hanya saja, kehidupan kadang bukan tentang melihat ke depan. Namun melihat apa yang ada di depan, di hadapan kita.

Melihat dunia dengan begitu murni, dengan tanpa ide dan interpretasi. Seperti ketika berjalan pulang ke rumah dan melewati tepi sungai nan jernih. Adakah yang kita lihat rumah, ataukah kita melihat sungai?

Melihat dalam makna yang sesungguhnya - benar-benar melihat dengan seluruh daya hidup kita. Bukan angan-angan atau ingatan kita akan sungai yang setiap hari kita lewati.

Jika kita tidak melihat kehidupan dengan bersubgguh-sungguh, berapa banyak hal yang telah kita lewatkan selama ini?


Menjaga Lingkungan Tetap Sehat

Sudahkah kita membuang sampah pada tempatnya? Bersih-bersih di dalam maupun  luar rumah? Membasmi sarang nyamuk, kecoak dan tikus? Membuka jendela setiap hari dan membiarkan udara segar masuk? Serta tidak buang air kecil dan besar sembarangan?

Semua itu terkesan sederhana, tapi begitu sederhananya toh tidak semua orang bisa bersikap demikian. Karena wacana jauh lebih mudah daripada realita.

Orang hanya tahu, tapi tidak semuanya sadar, lingkungan bersih adalah penjaga harta yang berharga - yaitu kesehatan. Karena ketika kita jatuh sakit akibat lingkungan yang tidak bersih, maka semua sesal akan selalu datang terlambat.

Yup, sehingga jangan lupa untuk selalu menjaga agar lingkungan kita tetap bersih. Hari Minggu ini adalah hari bersih-bersih yang baik.


Sabtu, 10 Oktober 2015

Ruang tak Berbatas

Apa yang kau tatap ke dalam bilik kecil di dalam masa lalumu? Bukankah semua itu sudah engkau tinggalkan semenjak angin tak lagi berlabuh dalam secangkir kopi yang kau nikmati setiap pagi?

Apa yang membuatmu terpikat dari wajah keberadaan yang tiada berwujud? Adakah kerendahan hati dalam sebuah wujud yang menahan nuranimu dalam bilik kecil ini?

Lepaskan jiwamu, karena yang tak berwujud menunjukkan kedalaman tak bertepi. Seperti engkau juga, akulah seluruh keberadaan, aku pula awal dan akhir dari ketiadaan.

Tapi apakah engkau melihat maya dari pikat bilik berbatas ini? Karena sesungguhnya, engkaulah yang membangun semua ini.


Selalu Melihat Padamu

Dunia tak cukup luas, dan juga tak cukup terang. Aku melihat dari dalam gulita yang menyenandungkan Gita sunyi.

Aku bertanya pada rembulan, tentang waktu yang ditinggalkan oleh masa lalu, apakah kita akan berjumpa lagi?

Karena pada akhirnya, apa pun jawabannya - maka aku selalu melihatmu.


Kamis, 08 Oktober 2015

Bertambah Tua

Menggerakkan badan itu bukan tidak mungkin, lembur juga bukan tidak mungkin. Tapi seiring bertambah usia (baca: bertambah tua) maka semua menjadi terasa "berbeda".

Bukan beda seperti di saat orang bilang "jatuh cinta membuat dunia terasa berbeda", tapi beda karena perubahan yang "begitu" alami. Tidak bisa lagi lari keliling lapangan tanpa tersengal, atau renang tanpa nyeri kepala. Tidak juga kuat angkat terlalu banyak atau jauh. Bahkan tidur pun bisa menimbulkan sakit-sakit di badan.

Ya, yang bisa dilakukan bertahan untuk tetap hidup sehat. Mau bagaimana lagi, uang masih bisa dicari, tapi tidak dengan waktu dan usia.


Rabu, 07 Oktober 2015

Karena Kita Ingin Tahu?

Kadang cara manusia memandang dunia sangat aneh, mungkin karena dia senantiasa selalu ingin tahu akan sesuatu. Penasaran? Atau hanya sekadar ingin membandingkan?

Manusia tumbuh besar dengan menumpuk banyak pengetahuan di atas batinnya. Dia tahu akan ini dan akan itu, dan mungkin lebih banyak lagi.

Tapi setelah dia tahu, kapankah dia melihat sesuatu lebih dalam lagi?

"Saya tahu ini kembang melati!" - tapi kemudian apakah kita pernah melihat dengan lebih seksama si "kembang melati" ini ketika kita menjumpai mereka kembali?

Kita selalu punya rasa ingin tahu, karena itulah kita memerhatikan dunia. Tapi ketika kita (sudah merasa) tahu, kita sering kehilangan harta yang berharga ini, lalu ketika ternyata kita tidak bisa melihat kehidupan dengan utuh, siapa lagi yang akan kita salahkan?


Ketika Rakyat Makan Asap

Kabut asap (yang kebanyakan) menutupi wilayah Riau bisa dikatakan bencana nasional. Ancaman kesehatan merupakan potensi risiko nyata yang dihadapi "korban" kabut asap, di mana udara tidak lagi sehat dihirup.

Tapi ke mana pemerintah? Saya tidak tahu. Karena berita dan media sosial hanya diliputi oleh bencana yang tampaknya belum memiliki solusi.

Kita berada dalam musim kering yang panjang, area bencana yang luas, kesulitan akses ke wilayah penyebab bencana, dan tentu saja diperparah memang wilayah gambut adalah "makanan renyah" yang akan mendorong kelanjutan bencana kebakaran yang kemudian memperburuk bencana kabut asap.

Sebagai bagian dari yang tidak berdaya dalam bencana seperti ini, saya hanya bisa berharap semoga lekas teratasi. Dan jangan sampai sindiran bahwa pemegang dan pelaksana kebijakan tak acuh akan kondisi bencana ini menjadi kenyataan pahit bagi kita semua.


Tetap Rendah dan Ramah

Tidak selamanya menyusuri langit tak bertepi itu memuaskan. Manusia kadang turun kembali berpijak ke bumi untuk melihat keindahannya dari dekat, demikian juga dengan kehangatannya. Mungkin dewata yang ada di langit juga merasakan hal yang sama.

Tapi dengan berpijak di bumi, kita akan menjadi sama rendah dengan semua, hanya dengan berada sama rendah kita dapat melihat apa yang mereka lihat di bumi sebagaimana dikisahkan dari sejak dahulu kala.

Lipat sayap sayap kecil kita, tanda sebuah keramahan yang mengikhlaskan identitas. Karena pada akhirnya kita semua sama, tanpa perbedaan kecuali apa yang tampak.

Memijak kaki di bumi, setelah lama lelah terbang di langit.


Selasa, 06 Oktober 2015

Tidak Seperti yang Diharapkan?

Kehidupan kadang bisa menjadi lucu, ketika tiba pada apa yang dicari-cari, ternyata di situ tidak ditemukan apa yang dicari. Akhirnya manusia pun cuma bisa berekspresi.

Semua orang punya harapan, tapi seberapa orang yang tidak terikat pada hasil?