Jumat, 26 Juni 2015

Pendidikan untuk mengejar apa?

Orang yang terdidik memiliki kesempatan untuk hidup lebih baik, dan ini seperti sebuah fatwa yang sudah diterima oleh sebagian besar dari kita (saya tidak tahu jika ada yang tidak setuju). Tapi kemudian, kita melihat tidak sedikit mereka yang sudah mendapat gelar terdidik dari jenjang pendidikan formal, kadang tidak hidup dengan baik.

Orang kemudian bertanya ulang, mengapa kita perlu pendidikan? Mengapa kita perlu bersekolah?

Ketika banyak sekarang lapangan pekerjaan hanya mensyaratkan ijazah sebagai formalitas, maka makna hakiki proses pendidikan kembali dipertanyakan. Dan pada akhirnya ada juga yang mengambil jalan pintas dengan cukup mencetak ijazah saja. Apalagi ketika kemudian pekerjaan bisa dibeli.

Ada orang yang konon bersedia membayar belasan hingga puluhan juta rupiah untuk bisa menjadi pegawai honor atau bahkan calon PNS di instansi pemerintah. Dan tentunya dengan hitungan balik modal, dan hitungan lapangan kerja yang sulit, mau tidak mau pintu belakang selalu punya kelompok orang yang memfavoritkannya.

Maka ketika kita sampai di sini. Eksistensi pendidikan menjadi nirasa, sudah hambar kata orang-orang. Asal nilai bagus, syukur bisa dibeli, dan punya ijazah, sekolah cukup formalitas saja.

Dulu, ketika nilai buruk. Orang tua memarahi anak-anak mereka, karena mereka tahu, anak-anak harus berusaha keras demi masa depan mereka. Sekarang ketika nilai buruk, sekolah dan guru takut mendapat nama buruk dan jadi kecaman para wali murid. Dan sekolah tertekan untuk mencetak nilai di atas lembar prestasi siswa, bukan mencetak prestasi dalam arti yang lebih dimanusiakan.

Lalu sekarang kita akan bertanya, pada akhirnya, semua proses pendidikan itu untuk mengejar apa? Seakan-akan para pelajar berlari ke sini dan ke sana begitu sibuknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar