Selasa, 27 Januari 2015

Laut Biru dalam Dongeng

Mungkin tidak lama lagi (walau dalam hitungan generasi), bisa jadi laut yang baru hanya ada di dalam dongeng saja. Bagaimana tidak, berjalan saja ke pinggir pantai, entah itu akan menjadi area penuh sampah buah tangan dari para pelancong, atau hasil tabungan dari tangan-tangan di pemukiman sepanjang daerah aliran sungai yang malangnya bermuara di situ.

Di tengah laut tidak usah ditanya lagi. Dongeng tentang mikropartikel plastik menghiasi sejumlah halaman majalah lingkungan sejak tahun lalu. Pakai plastik menjadi "kepingan debu" dan masuk ke dalam rantai makanan, yang tentu saja penikmat akhirnya adalah kita juga si pengkreasi plastik.

Tanya juga tentang limbah cair dan padat yang tak berhenti mengalir ke laut. Laut yang dulu dikenal mungkin tidak akan pernah sama lagi, dan tidak akan sama untuk mereka yang datang di abad mendatang.

Apalagi jika kita justru mulai mencoba untuk menutup mata dengan menyatakan bahwa keburukan bagi laut sebenarnya adalah kebaikan mereka. Marah itu sayang, reklamasi itu untuk revitalisasi katanya. Dan jargon lainnya. Politik kita akan keuntungan finansial telah membuat remah laut kita semakin dekat menjadi kenangan ke dalam buku cetakan dongeng masa depan.

Pertanyaannya, apakah kita akan meninggalkan laut dan pantai yang indah ke dalam tulisan dan dongeng semata?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar