Selasa, 19 Agustus 2014

Hidup Tanpa Mimpi

Menjadi anak-anak memiliki harta tersendiri, yaitu bebas membangun mimpi tanpa ada dinding pembatas. Walau kadang anak-anak menjadi terlalu cepat dewasa ketika mereka dibentur oleh dinding realitas.

Aku memahami sebuah senja yang menggantung di antara nyiur dan hamparan sawah dan ladang yang selalu digitakan oleh para penyair sejak dulu. Seakan-akan mimpi juga memiliki hak untuk diwariskan ke generasi selanjutnya.

Tapi setiap orang akan membangun mimpi mereka. Bahkan sangat beruntung mereka yang masih dapat bermimpi walau realita memberikan begitu banyak kepahitan. Walau mimpi itu kekanak-kanakan.

Ketika orang hanya sibuk bergulat dengan realita, mereka lupa melihat kehidupan dengan utuh. Hanya ketika orang mampu bersentuhan dengan kehidupan, mereka akan dianugerahi imajinasi yang luar biasa, dan mereka adalah yang dapat bermimpi untuk kemudian berjumpa lagi dengan sang kehidupan.

Mereka yang bergulat melawan realita, tidak pernah memiliki waktu untuk bermimpi, mungkin saja, dan mereka kehilangan sentuhan dengan sang kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar