Selasa, 27 Mei 2014

Naikkan Pajak Rokok

Sebentar lagi hari bebas tembakau sedunia, sementara kita di Indonesia mungkin belum bisa begitu peduli karena tengah dilanda euforia pemilihan presiden di bulan Juli mendatang.

Permasalahan tembakau dan rokok sendiri masih menjadi masalah tak berkesudahan di negeri ini. Dan upaya terakhir pemerintah mengganti peringatan bahaya rokok menjadi "rokok bisa membunuhmu" tampaknya tidak banyak berpengaruh.

Siapa pun yang menjadi presiden di Indonesia pada masa jabatan mendatang harus memiliki kepedulian yang nyata terhadap permasalahan tembakau ini.

Salah satu solusi nyata yang ditawarkan pada masyarakat dan pemerintahan di pelbagai negara saat ini untuk mengatasi masalah rokok adalah dengan meningkatkan atau menaikkan pajak tembakau atau rokok. Jika pajak naik, maka harga akhir di pasar akan ikut, ini akan memberikan perubahan prioritas belanja produk tembakau bagi masyarakat, terutama masyarakat (yang katanya) miskin untuk membeli rokok. Bagaimana jika satu batang rokok di pasaran seharga minimal sepuluh hingga dua puluh lima ribu rupiah seperti yang ada di negara maju Amerika. Orang pasti akan berpikir ulang untuk membelinya.

Semakin rendahnya konsumsi tembakau akan menurunkan angka kesakitan yang diakibatkan oleh penggunaan dan ketergantungan terhadap produk tembakau. Hal ini cukup logis. Jika dalam sebuah desa dari 100 orang yang biasanya hadir rapat desa ada 95 perokok, maka jika jumlah perokok berkurang menjadi separuhnya, itu sudah merupakan pencapaian besar. Tentu saja kalau bisa dibuat demikian.

BPJS Kesehatan dan sistem JKN juga tidak perlu dibebani untuk membiayai mereka yang sengaja mencari sakit dengan merokok. Jika perokok aktif bisa dikurangi dengan kebijakan tersebut.

Tentu saja pendapatan negara dari pajak rokok tidak bisa ditebak apakah akan meningkat atau menurun secara total. Bisa jadi meningkat jika ternyata jumlah konsumsi rokok tidak berkurang, bisa jadi menurun jika jumlah yang merokok berkurang.

Tapi apalah artinya berkurangnya pendapatan dibandingkan investasi di bidang kesehatan yang cukup vital ini.

Anda bisa bayangkan remaja SMA yang mengalihkan uang saku mereka dari dulunya membeli rokok mungkin ditabung untuk hal lainnya. Seperti untuk hobi mereka, membeli sarana atau peralatan olahraga atau musik. Karena rokok sudah menjadi begitu mahal bagi mereka, dan merokok sesekali mungkin bukan lagi prioritas mereka.

Saya tidak tahu kemungkinan apa saja yang bisa dibuka oleh peningkatan pajak rokok dan tembakau. Yang jelas potensi menurunkan angka kematian dan penyakit akibat konsumsi rokok tentu ada di sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar