Rabu, 28 Mei 2014

Belajar Satir - Hindari Penjara

Sejak munculnya Undang-Undang no. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, pasal 27 terutama ayat 3 menjadi begitu kontroversial. Karena bisa mengancam kebebasan penulis - seperti saya - dalam mengekspresikan diri.

Penghinaan dan pencemaran nama baik itu susah dicari sengaja dan tidaknya. Kalau orang bilang "Si A kemarin merokok loh di tempat kendaraan umum", padahal itu fakta, lalu si A merasa nama baiknya tercemar dan menuntut yang mengeluarkan pernyataan itu, atau orang malang yang tidak sengaja membuat pernyataan itu tersebar di dunia maya.

Jadi kalau sekarang mau aman mengkritik seseorang. Mungkin ada baiknya kita menerapkan metode enkripsi 128 bit ke dalam tulisan kita sehingga tidak bisa dipecahkan. Tapi tentu saja lebih enak menulis dalam bentuk metafora satir. Karena pencemaran nama baik harus mengacu pada orang secara jelas, atau diketahui umum mengacu pada orang tersebut.

Jika metafora disusun secara apik, maka kita bisa melakukan kritik tanpa perlu khawatir dituduh menyerang langsung lewat satir kita. Di sinilah kegunaan ilmu bahasa dan sastra yang dipelajari di bangku sekolah. Memperjuangkan kemerdekaan kita dengan bergerilya di dalam ranah sajak dan sastra.

Anda tidak bisa membuat satir dengan metafora? Kembalilah sejenak ke bangku sekolah jika demikian. Pelajaran sekolah bisa membantu Anda terhindar dari jerat penjara yang tidak masuk akal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar