Rabu, 09 Oktober 2013

Ketika Tuhan Tidak Lagi Universal

Aku mungkin sudah lupa di mana aku mengenal atau mendengar kata "Tuhan" pertama kalinya. Atau mendapatkan penjelasan tentang semua yang berhubungan dengan "Tuhan".

Dan tiba di saat ini, entah mengapa aku tidak peduli lagi akan semua itu. Mungkin karena sering kali melihat dunia sesak tentang segala sesuatunya yang "dipertuhankan". Beberapa orang percaya Tuhan sama untuk semua, beberapa memiliki Tuhannya masing-masing sebagai sebuah eksklusifitas jalan tunggal menuju pada apapun yang telah dibenamkan ke dalam pikiran mereka sejak kanak-kanak.

Kupikir manapun akan membuat Tuhan tidak lagi universal.

Anda tengah berusaha menceritakan tentang orang yang mengambil seember air kehidupan dan membagikannya, ketika Anda bercuap-cuap tentang "Tuhan". Anda hanya bercerita! Dan semakin asyik dengan cerita Anda, sementara tanpa sadar sedang berdiri di sisi bentangan mata air kehidupan itu sendiri.

Mengapa tidak berhenti bercerita dan mulai mencicipi air kehidupan itu sendiri?

Karena "Tuhan" tidak lagi universal, keeksklusifan-Nya membuat Dia terkukung di dalam sebuah ember yang hanya berada di tengah-tengah cerita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar