Jumat, 27 September 2013

Ketika Jam Malam Diberlakukan Kembali

Dalam memenuhi wacana penyelematan generasi muda baru, kaum pelajar, maka jam malam belajar diaktifkan kembali di pelbagi tempat di Indonesia. Pertama kali dicetuskan oleh Pak Jokowi di Jakarta.

Saya kira, para pembaca sekalian sudah tahu latar belakang di balik wacana ini. Dan ini adalah wacana yang selalu muncul di sepanjang waktu sebagai akibat dari puncak kekhawatiran yang melanda para generasi tua terhadap masa depan penerusnya.

Saya sendiri sebenarnya berpendapat hal ini mesti dapat dilakukan secara fleksibel.

Bagi pembelajaran itu sendiri, saya rasa malam menawarkan hal yang sama banyaknya untuk dipelajari sebagaimana siang hari.

Hanya saja, peradaban manusia telah banyak merampas apa yang ditawarkan malam untuk dipelajari bagi seorang anak yang serba ingin tahu. Kota besar seperti Jakarta telah kehilangan lautan bintangnya di angkasa ketika malam menjelang, tidak ada lagi suara alam malam yang menenangkan. Pun ketika keluar rumah, anak-anak dihadapkan pada apa yang dibentuk oleh dunia orang dewasa yang di luar pemahaman mereka, termasuk jejak tindak kriminalisasi yang mengintai di banyak sudut ibu kota.

Tidak banyak lagi pagelaran seni budaya malam yang bisa dinikmati anak-anak zaman sekarang. Museum-museum telah banyak tutup sebelum sore datang, demikian juga dengan perpustakaan-perpustakaan yang jumlahnya pun terbatas.

Di dunia yang seperti ini, anak-anak mungkin tidak akan menemukan banyak hal berharga di luar sana. Namun apakah mengurung mereka di rumah juga merupakan hal yang positif?

Iya jika orang tua proaktif dalam membimbing anak, jika tidak maka dunia sinetron picisan, iklan-iklan yang menyesatkan, serta internet yang belum tentu sehat tetap saja menjadi sebuah ranjau waktu yang menemani perkembangan anak-anak tersebut.

Saya tidak bisa menolak pemberlakuan jam malam di kota-kota atau wilayah yan memang rawan keamanannya bagi anak-anak pada malam hari. Tapi ibarat peribahasa, jangan sampai menghindari mulut harimau justru masuk ke mulut buaya.

Masyarakat kita belum terdidik sepenuhnya, atau memahami makna pendidikan itu sendiri. Pemerintah yang selayaknya lebih mengerti semestinya mempertimbangkan hal ini lebih matang lagi. Apa yang menjadi keuntungan dan bahaya laten dalam menerapkan jam malam bagi anak-anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar