Jumat, 27 September 2013

Bagaimana Magnet Bekerja?



Bagaimana magnet bekerja? Itu menjadi pertanyaan saya ketika masih kanak-kanak dulu dan pertama kali melihat benda yang disebut magnet. Rasanya begitu menarik, karena tidak ada benda lain yang memiliki karakteristik serupa.

Di mata anak-anak, tentu saja ini menarik, karena magnet dapat menarik benda-benda logam tertentu dan tidak yang lainnya. Bahkan kita bisa mengubah logam tertentu yang sebelumnya tidak memiliki sifat magnet menjadi bersifat magnet, seperti gunting atau obeng yang terlalu lama didekatkan dengan magnet.

Tapi sejujurnya, sampai sekarang konsep ini memang masih memusingkan. Hanya saja video di atas memberikan gambaran sederhana, bagaimana setiap unsur di alam semesta memiliki medan magnetnya sendiri, dan bagaimana unsur itu tersusun membentuk benda-benda yang bersifat feromagnetik dan anti-feromagnetik yang menerangkan kerja magnet yang kita kenal selama ini.

Mau Install BlackBerry Messenger di Android?

Belakangan ini banyak juga yang tertarik memasang aplikasi perpesanan BlackBerry Messenger (BBM) di ponsel berbasis Android dan iOS. Kalau dibilang tidak menarik, buktinya ada 1 juta lebih pengguna APK "tidak resmi" ketika waktu rilis aplikasi resminya terpaksa harus ditunda.

Saya rasa akan ada banyak pengguna Android yang juga akan menggunakan BBM di ponsel mereka. Apalagi beberapa orang memang menggunakan BBM hanya untuk berhubungan dengan mereka yang tidak cukup paham bahwa ada teknologi lain yang lebih bisa dihandalkan selain perpesan yang hanya bisa diakses di satu platform tersebut.

Ada yang mungkin memasang karena penasaran dan ikut-ikutan. Saya sendiri tidak menilai BBM buruk, hanya saja bukan aplikasi yang cukup bisa saya sukai. Terus terang saya menggunakan BBM (dulunya) dan WhatsApp, saya sekarang lebih suka pakai WhatsApp, bebas iklan dan cepat meskipun harus bayar lisensinya secara berkala. Tapi untuk ukuran yang kompak, BBM cukup nyaman digunakan (kecuali masalah sering terlambat sampai).

Saya sendiri mungkin sekadar penasaran, rasa ingin tahu itu ada. Apalagi menjalankan BBM di BlackBerry kelas bawah bisa bikin sakin hati karena sering kali macet, siapa tahu menjalankannya di Android kelas atas bisa mengubah cita rasa BBM selama ini.

Bagi Anda sekalian, ya kembali pada masing-masing individu, tapi meski menunggu lagi karena produk ini belum siap untuk multiplatform sampai saat ini ditulis.

Ketika Jam Malam Diberlakukan Kembali

Dalam memenuhi wacana penyelematan generasi muda baru, kaum pelajar, maka jam malam belajar diaktifkan kembali di pelbagi tempat di Indonesia. Pertama kali dicetuskan oleh Pak Jokowi di Jakarta.

Saya kira, para pembaca sekalian sudah tahu latar belakang di balik wacana ini. Dan ini adalah wacana yang selalu muncul di sepanjang waktu sebagai akibat dari puncak kekhawatiran yang melanda para generasi tua terhadap masa depan penerusnya.

Saya sendiri sebenarnya berpendapat hal ini mesti dapat dilakukan secara fleksibel.

Bagi pembelajaran itu sendiri, saya rasa malam menawarkan hal yang sama banyaknya untuk dipelajari sebagaimana siang hari.

Hanya saja, peradaban manusia telah banyak merampas apa yang ditawarkan malam untuk dipelajari bagi seorang anak yang serba ingin tahu. Kota besar seperti Jakarta telah kehilangan lautan bintangnya di angkasa ketika malam menjelang, tidak ada lagi suara alam malam yang menenangkan. Pun ketika keluar rumah, anak-anak dihadapkan pada apa yang dibentuk oleh dunia orang dewasa yang di luar pemahaman mereka, termasuk jejak tindak kriminalisasi yang mengintai di banyak sudut ibu kota.

Tidak banyak lagi pagelaran seni budaya malam yang bisa dinikmati anak-anak zaman sekarang. Museum-museum telah banyak tutup sebelum sore datang, demikian juga dengan perpustakaan-perpustakaan yang jumlahnya pun terbatas.

Di dunia yang seperti ini, anak-anak mungkin tidak akan menemukan banyak hal berharga di luar sana. Namun apakah mengurung mereka di rumah juga merupakan hal yang positif?

Iya jika orang tua proaktif dalam membimbing anak, jika tidak maka dunia sinetron picisan, iklan-iklan yang menyesatkan, serta internet yang belum tentu sehat tetap saja menjadi sebuah ranjau waktu yang menemani perkembangan anak-anak tersebut.

Saya tidak bisa menolak pemberlakuan jam malam di kota-kota atau wilayah yan memang rawan keamanannya bagi anak-anak pada malam hari. Tapi ibarat peribahasa, jangan sampai menghindari mulut harimau justru masuk ke mulut buaya.

Masyarakat kita belum terdidik sepenuhnya, atau memahami makna pendidikan itu sendiri. Pemerintah yang selayaknya lebih mengerti semestinya mempertimbangkan hal ini lebih matang lagi. Apa yang menjadi keuntungan dan bahaya laten dalam menerapkan jam malam bagi anak-anak.