Rabu, 06 Maret 2013

Sarjana Ke Daerah Terpencil

Saya tergelitik ketika membaca-baca beberapa percakapan tentang mewajibkan lulusan dokter dikirim ke daerah terpencil. Tidak ada yang salah dengan wacana tersebut, kecuali sedikit melanggar hak asasi manusia dan mungkin menjadi misi bunuh diri. Tapi mungkin bunuh diri bersama-sama, karena aturannya tampak berasal dari pewajiban semua sarjana (lulusan perguruan tinggi) untuk mengabdi pasca kelulusan di daerah terpencil.

Program dokter internship sendiri saat ini membuat banyak dokter lulusan baru menjadi hidup segan, mati pun tak mau, dan ini pun belum ke daerah terpencil, hanya ke rumah sakit tipe C atau D.

Kenapa? Pertama-tama dokter bukanlah Tuhan, bahkan tidak mendekati manusia setengah dewa sekalipun. Dokter tak bisa menyulap hutan menjadi pusat kesehatan, tidak juga bisa membuat masyarakat serta merta terbebas dari segalas jenis penyakit. Meskipun rasanya ingin punya kemampuan seperti itu.

Dokter bukanlah jin dari lampu tua yang bisa mengabulkan segalanya.

Saya banyak mendengar keluhan dari rekan sejawat, bahwa sistem tidaklah mendukung dengan baik. Jangankan di daerah terpencil, di kota kabupaten saja masih bisa berantakan. Dokter tidak bisa berbuat banyak dalam sistem yang tidak mendukung.

Dokter dididik bekerja dengan menggunakan standar. Namun standar sering tidak ada di lapangan. Akhirnya diturunkan, dirujuk atau dipasrahkan saja. Saya menyadari betapa sulitnya bekerja tanpa adanya dukungan standar yang memadai, misalnya sarana dan prasana, termasuk ketersediaan obat sebagai salah satu hal yang paling sederhana.

Pemerintah bisa mengirim dokter ke daerah terpencil, namun tanpa adanya sarana, tidak akan ada banyak yang berubah. Kecuali dalam beberapa hal, terdapat dukungan yang cukup kuat dari pihak-pihak lainnya.

Sehingga saya rasa saya menjadi setuju. Jika dokter diwajibkan ke daerah terpencil selama dua atau tiga tahun, maka demikian juga dengan profesi dan sarjana lainnya. Pembangunan wilayah terpencil tidak hanya bidang kesehatan, namun semua bidang kehidupan. Kesehatan tidak bisa berdiri sendiri sementara bidang-bidang lainnya terpuruk.

Kirimkan para sarjana di bidang kesehatan, pendidikan, industri, pertanian, ekonomi, kehutanan atau kelautan, niaga, teknologi dan sisanya. Sebuah tim yang memang akan bisa memberikan pandangan menyuluruh mengenai bagaimana daerah terpencil dapat ditingkatkan mutu kehidupan masyarakatnya.

Jika sarjana diwajibkan ke daerah terpencil dahulu, mungkin wakil rakyat juga perlu diwajibkan juga ke daerah terpencil selama dua tiga tahun mengabdikan diri sebelum duduk di senayan.

Dan jangan lupa, perlindungan dan dukungan pemerintah yang dalam hal ini memiliki tanggung jawab jika membuat kewajiban ini berjalan. Jangan membuat kebijakan, kemudian cuci tangan.

Bagaimana kehidupan mereka yang dikirim ke wilayah terpencil juga layak diperhitungan, bahkan wajib. Jangan sampai sarjana yang dikirim kemudian kembali dalam kondisi memperihatikan karena hidup serba kekurangan selama ditempatkan.

Tapi apakah hal itu bisa terwujud di negeri ini. Ada banyak yang mengabdi, namun hidup tidak menentu, sebut saja para pekerja honorer di instansi pemerintah yang berasal dari pelbagai profesi. Di kota madya pun nasib mereka bisa dikatakan memprihatinkan, apalagi nanti mereka yang ditempatkan di daerah terpencil.

Pemerintah bisa jadi dianggap melanggar HAM dalam kasus-kasus seperti ini. Tapi karena mereka bekerja dalam label "pengabdian", bisa jadi tidak banyak protes yang muncul.

Saya kadang muak mendengar orang berceloteh bahwa "kamu karena sudah menjadi profesi xxx maka layaknya yang memang mengabdi", sementara dia mungkin merasa dirinya berbeda profesi tidak perlu melakukan pengabdian.

Pada mereka yang bekerja untuk sesama, saya rasakan bahwa pengabdian ada untuk kemanusiaan, bukan untuk penindasan dan kesewenang-wenangan.

Saya rasa apapun profesi Anda, Anda akan tetap mampu mengabdikan diri pada kemanusiaan. Jika Anda membaca ini dan memiliki sebuah profesi, apakah Anda sedang berada di daerah terpencil untuk sebuah label "pengabdian"? Jika tidak, mengapa Anda tidak berada di sana?

Pertanyaan itu akan menjawab, bagaimana sudut pandang setiap orang tetang wacana mewajibkan dokter atau sarjana lain ditempatkan di wilayah terpencil.

3 komentar: