Senin, 14 Januari 2013

Di Zaman Serba Instan

Zaman sekarang semua instan. Mie instan, uang instan, bahkan mungkin ada yang pacaran instan. Kadang segala sesuatu yang instan membuat kita lupa menengok ke kiri dan ke kanan.

Perjalanan instan memang membantu kita sampai dengan cepat, namun kadang membuat kita tidak sempat memerhatikan keindahan atau kerusakan alam di sekitar kita. Lalu apakah yang serba instan itu keliru?

Hmm..., saya sendiri gemar menikmati yang serba instan. Hanya saja pemikiran kita mungkin selayaknya tetap terbuka untuk sebuah dunia yang luas. Bahkan ketika sebuah salon menjadi pembenahan penampilan yang seketika, jangan lupa tetap membersihkan cermin nurani kita.

Oke. Sekarang saya mau menikmati makanan instan saya dulu.

Rabu, 09 Januari 2013

Pendidikan itu Selayaknya Cerdas Mencerahkan

Bukan hal yang aneh melihat saat ini dunia pendidikan berlomba-lomba memasang plat visi dan misi yang paling mentereng, seakan-akan memberikan jaminan mencetak keluaran yang mampu diandalkan dan siap terjun ke medan kehidupan. Dengan kata lain, masuk ke jenjang favorit berikutnya, atau mendapatkan pekerjaan yang layak.

Dengan segudang program yang menjejali para siswa, semuanya dituntut untuk maju sejauh mungkin. Entah mungkin maksudnya hingga ke negeri Cina.

Kelulusan adalah nilai mutlak, dan kegagalan adalah haram hukumnya. Prestasi akan menjadi tropi tertinggi, sedemikian hingga bukannya murid belajar untuk saling mendukung, tapi justru saling bersaing, dengan sela-selanya saling bergunjing.

Ketakutan akan kegagalan di dunia pendidikan menekan banyak anak, beberapa menjadi stres, beberapa yang lain menyerah dan menjadi tak acuh. Hanya mereka yang bermental baja yang mampu keluar dalam keadaan selamat, dan hanya yang cerdas luar biasa bisa selesai dari jerat pendidikan dengan tetap waras.

Ketika pendidikan tidak memanusiakan manusia, maka apa yang dapat kita harapkan lagi? Memperbaiki bangsa, ah - saya rasa itu akan tetap menjadi mimpi di atas mimpi.

Ketika pendidikan itu tidak membebaskan jiwa, apa yang bisa dihasilkan? Sekumpulan jiwa-jiwa kerdil yang selalu ikut arus, bekerja ibaratnya pahat menunggu ketukan palu, menjadi bagian dari mekanisme di mesin raksasa yang bernama peradaban - atau masihkah kita kemudian dapat menyebutnya peradaban?

Pendidikan selayaknya cerdas mencerahkan, karena hanya dengan ilmu manusia bisa menyalakan lentara, dan dengan lentera manusia bisa melihat dalam cahaya, dengan ketika dunia dipenuhi cahaya, maka manusia bisa mengenal dirinya dan yang disekitarnya dengan tanpa kepalsuan.

Pendidikan bukan mengejar prestasi, pendidikan bukan mencetak mesin berjalan, pendidikan bukan menanamkan ketakutan. Pendidikan adalah pintu yang jika dibuka, maka semua orang dapat melihat dunia yang tidak lagi gulita.

Selasa, 08 Januari 2013

Karena Tidak Semua yang Dipelajari itu Benar



Ketika duduk di bangku sekolah, saat memandang buku fisika. Kita belajar bahwa nilai momentum bisa didapatkan dari nilai massa dikalikan kecepatan yang dimiliki oleh massa tersebut. Namun pada kenyataan nilai tersebut tidak didapatkan sesederhana itu.

Banyak hal yang kompleks tidak bisa diajarkan pada kita secara gamblang. Oleh karena itu beberapa "kerumitan" (saya beri tanda petik karena ini sangat relatif) disembunyikan untuk menghindari "kepanikan" dan "keputusasaan" dalam belajar bagi para pemula, selama hasil akhir yang diperlukan masih dalam jangkauan dan ranah mereka yang belajar.

Lalu mungkin saja tanpa kita sadari, banyak hal-hal yang kita pelajari selama ini bukanlah hal yang sebenarnya, atau setidaknya sesuatu yang menyerupai "benar". Ilmu selalu berkembang, bahkan mungkin sesuatu yang telah diwariskan selama bertahun-tahun atau berabad-abad, katakanlah seperti agama dan budaya - salah satu pengetahuan tertua peradaban manusia.

Sehingga jika kita bisa membuka diri untuk belajar terus, dan tidak terikat secara membabi-buta pada apa yang dulu pernah kita pelajari, saya rasa ini adalah awal sebuah kebijaksanaan.

Minggu, 06 Januari 2013

Karena Kondom yang Terlupa

P.L.A.Y. Condom logo by Ashley3D
P.L.A.Y. Condom logo, a photo by Ashley3D on Flickr.

Mungkin tidak cukup sering, namun beberapa kali dapat saya temukan remaja perempuan yang masih belia datang ke sebuah klinik kesehatan, sambil tersenyum-senyum malu atau dalam kekhasan yang seolah-olah ingin si petugas kesehatan langsung memahami apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan.

Mungkin karena muda, antara usia SMP atau SMA. Mereka sering kali salah tingkah sendiri, terutama karena kerap kali tidak membawa serta orang tua atau wali yang bertanggung jawab atas diri mereka.

Ada yang datang dengan alasan yang berputar-putar, ada juga yang datang dengan alasan langsung berisi permintaan untuk ingin mengetahui apakah mereka sedang hamil atau tidak yang disertai dengan sejuta ekspresi tak terbahasakan.

Jika dulu hanya mendengarkan kisah, kini saya bisa bertemu langsung dengan para remaja yang dapat dikatakan telah menganut sebuah budaya pergaulan baru dalam era mereka saat ini. Mungkin saya sudah cukup tua dan lelah untuk mengomentari ini.

Hanya saja, kadang saya kadang sesalkan, dan juga khawatirkan, jika semua itu terjadi tanpa adanya pengaman. Apalagi perjalanan mereka sebagai pelajar bisa dikatakan masih panjang.

Saya hanya bisa katakan, "Please look after yourself".