Aku menulis dalam kebodohan, dalam kegelapan, aku menulis bukan untuk menggoreskan cahaya, namun menumpukkan tinta kegelapan. Dan ketika semua kegelapan telah kutuangkan, maka yang tersisa adalah cahaya.
Minggu, 26 Februari 2012
Berbicara Emosi
Kadang aku sendiri tidak yakin memiliki kontrol akan emosiku. Atau mungkin lebih tepatnya, aku tidak terlalu suka mengontrolnya. Jadi mungkin banyak orang yang bilang aku tak pandai menyembunyikan emosi, atau air mukaku mudah ditebak. Sehingga aku mungkin tidak akan pernah cocok untuk urusan diplomasi.
Dengan membiarkan emosi mengalir, aku dapat melihat cerminan diriku sendiri dengan lebih jernih. Ada sisi-sisi yang kusukai, dan juga ada sudut-sudut yang tak kupahami. Namun semua itu adalah diriku juga.
Berbicara tentang emosi akan menjadi seperti membahas warna dan bentukannya yang tak pernah habis. Namun bagiku, emosi adalah cermin untuk mengenal diriku sendiri, aku tak ingin menghalanginya dan menyembunyikan untuk alasan yang mungkin tak akan pernah kupahami.
| Reaksi: |
Sabtu, 25 Februari 2012
Senja di Persawahan
Langit yang berceloteh jingga memamerkan kepakan dari segerombol bangau putih yang pulang ke sarangnya. Angin yang telah berhenti bertiup hanya menyisipkan kenangannya di balik rerumputan yang kupijak. Dunia seakan mengajakku berhenti sejenak.
Apa yang telah kulalui hari ini, aku bersandar pada senja yang menyapu muram. Seakan diminta menutup buku seperti belalang yang tak tampak lagi mengusung dada di pucuk alang-alang, senja mengakhiri semua yang kuketahui.
Dan di sini sebuah janji kisah baru kan tercipta lagi, ketika semuanya tersembunyi dari saksi hari - sang mentari. Bagaikan jatuh cinta lagi, kutiup jingga terakhir di cakrawala bentangan sawah senja.
| Reaksi: |
Senin, 13 Februari 2012
Jika Memang Harus
Namun entah mengapa, sepertinya itu selalu ada. Orang-orang yang senang "memanfaatkan" kebaikan dan keramahan orang lain. Saya sendiri sering memberikan toleransi selama itu untuk kebaikan banyak orang pada akhirnya.
Tapi kadang sifat lunak saya justru menjadi senjata makan tuan. Saya tahu ada sesuatu yang salah, meski tidak tahu apa tepatnya, namun ada sesuatu dalam diri saya yang berkata demikian. Namun saya tidak bisa tidak menarik dukungan, untuk sesuatu yang ke depannya diharapkan menjadi sesuatu yang lebih baik.
Oh, rupanya saya keliru.
Maka jika memang harus, saya mesti bersikap tegas, tidak bisa lunak lagi. Jika memang harus, saya akan menarik semuanya kembali, dan tidak akan memberikan dukungan apapun lagi.
Jika memang harus, maka tidak semua kesempatan itu abadi. Tidak semua sudut tergelap dapat diterangi cahaya jika seseorang selalu membangun dinding tebal di sekitarnya.
Jika memang harus, maka saya akan menyerah pada sebentuk kemanusiaan, karena yang selalu saya sokong telah kehilangan makna menjadi manusia dan menolak kemanusiaan yang mengetuk pintu hatinya.
Saya hanya berharap, jika ini berlanjut terus saat saya telah pergi, saya tidak harus kembali untuk berdiri di hadapannya dan menghentikannya untuk menghancurkan lebih banyak kemanusiaan lagi. Namun jika memang harus, maka saya khawatir saya tak akan punya pilihan lain.
Yang Mulia, pemberi setiap helai napas pada segenap pencari kebijaksanaan, telah kupenuhi janjiku pada-Mu. Namun hanya sejauh ini langkahku dapat pergi, jika aku melangkah lebih jauh, maka aku akan meninggalkan kebijaksanaan-Mu dan aku akan meninggalkan hatiku.
Aku tidak seperti-Mu, aku dapat datang pada mereka yang mencariku, namun aku tak dapat pergi mencari mereka yang meninggalkan kemanusiaan.
Aku akan tinggalkan hal ini pada-Mu sebagaimana dulu Engkau berikan padaku. Biarlah kumainkan harmoni indah kehidupan yang lainnya. Ha ha..., aku tidak ingin direpotkan oleh hal-hal yang telah gugur dan berlalu, biarlah ia demikian adanya.
| Reaksi: |
Jumat, 10 Februari 2012
Isi Berita Pagi Sama Semua
Maksud saya kekerasan dalam banyak bidang kehidupan, entah itu kriminalitas - termasuk kejahatan kerah putih, kenakalan remaja, hingga ketidakacuhan Keluarga. Semua itu rasanya adalah berita tentang kekerasan dalam stratanya masing-masing.
Yah, entah kapan bisa mengunyah berita pagi yang bebas kekerasan, jika isinya sama semua sampai saat ini. Mungkin perlu ada berita yang sesekali memotivasi kreativitas dan kecerdasan masyarakat - entah seperti apa, mungkin tentang terobosan atau revolusi yang membawa kebaikan bagi banyak orang.
Entahlah, mungkin inilah mengapa saya lebih suka menonton dokumenter saja daripada berita.
| Reaksi: |
Sabtu, 04 Februari 2012
Jalur Gilimanuk - Denpasar Itu Mengerikan
Awal-awalnya merasa was-was juga melihat sisa kecelakaan seperti ini. Namun karena terlalu seringnya, entah kenapa sepertinya semua orang tampak melumrahkannya. Hanya tersirat dalam rambu dan papan peringatan "Awas, Rawan Kecelakaan!"
Saya sering melihat truk-truk dari Pulau Jawa menyeberang ke Bali dan akhirnya terseok-seok di perjalanan naik turun yang cukup terjal di daerah Jembrana atau Tabanan. Apalagi ditambah lalu lintas yang kerap macet dan membuat mereka terpaksa berhenti ditanjakan. Saya kira yang membawa truk itu pastilah mesti ahli benar, karena jika tidak dia pasti sudah menyusur gravitasi - melaju turun hingga ada sesuatu yang menahannya - termasuk kendaraan lain. Inilah yang juga jadi asal mula para supir bus yang sering berceloteh, "hati-hati, nanti jadi ganjel truk".
Sampai sekarang, karena kondisi dan lalu lintas, maka kecelakaan di sepanjang jalur ini seringkali dianggap sebagai permakluman.
| Reaksi: |