Jumat, 28 Desember 2012

Karena Sayang, Uang Melayang

at least they're upfront by army.arch
at least they're upfront, a photo by army.arch on Flickr.

Penipuan via telepon, sms, surat (termasuk email), hingga datang dari pintu ke pintu sudah marak, sering diberitakan, berulang-ulang, pelbagai modus operandi. Ajaibnya, hal ini bisa terjadi bekali-kali dengan cara yang sama. Terutama jika sisi lemah si korban menjadi terekspos tanpa perlindungan oleh si pelaku tindak kejahatan ini.

Alkisah beberapa waktu lalu, datang seorang "ayah" ke instalasi triase kami. Dia datang dengan wajah pucat pasi, awalnya kami menduga dia dalam keadaan sakit dan perlu bantuan. Namun langkahnya masih seperti orang sehat. Dia datang ke meja perawat dan bertanya, apakah ada anak "A" yang baru saja masuk ke sini karena kecelakaan dan dalam kondisi kritis.

Dari kata-kata itu saja kami sudah curiga. Dan ketika kami berkata dan meyakinkan anak "A" tidak pernah dibawa ke IGD kami dalam waktu yang dekat ini. Maka si "Ayah" tersebut langsung memastikan, bahwa dirinya baru saja sudah merelakan beberapa juta uangnya dikirim pada seseorang - entah siapa - yang mengatasnamakan rumah sakit dan tenaga medis.

Modus operandinya sederhana, si pelaku akan menelepon korban, menyatakan bahwa anaknya baru mengalami kecelakaan di sekolah dan dalam kondisi kritis di rumah sakit, perlu tindakan medis segera, dan perlu biaya untuk itu sesegera mungkin.

Biaya harus ada dalam kurun waktu tertentu, misalnya 10 menit. Pertama ini tidak akan memberikan kesempatan korban untuk memberikan uang tunai langsung, kecuali ditransfer secara cepat.

Trik mengatasi hal ini sederhana saja. Di manapun rumah sakitnya, pertolongan pertama adalah mandatori, ada atau tidaknya biaya, menyelamatkan nyawa pasien tidak menunggu mereka yang bertanggung jawab atas si pasien. Misalnya jika seorang anak cedera parah, tim medis diberikan wewenang penuh melakukan tindakan medis yang tepat dan cepat, tanpa perlu persetujuan si orang tua (yang mungkin tidak ada di lokasi), dan tanpa perlu menunggu konfirmasi siapa yang akan menanggu biaya tindakan medis dan pengobatan. Justru jika menunda dan menyebatkan catcat atau hilangnya nyawa pasien, tim medis bisa jadi dipersalahkan.

Kami menyadari bahwa orang tua kerap panik, atau jika orang terkasih dikabarkan sedang dalam kondisi darurat di rumah sakit. Namun percayalah, panik itu tidak akan membantu, kecuali bagi orang-orang yang ingin mengambil keuntungan dan niat jahat dari rasa panik Anda.

Percayalah, tim medis akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan pertolongan pertama dan stabiliasi. Namun jika takdir berkata lain, maka tidak ada yang bisa disalahkan.

Rasa sayang boleh, bahkan mesti ada. Namun keawasan nalar tidak boleh pudar. Misalnya kepanikan si "ayah" pada kasus di atas mengaburkan pikiran yang jernih, ia bahkan tidak curiga, tidak menghubungi anak, sekolah atau pihak lain yang berwenang untuk mengonfirmasi kabar tersebut, bahkan tidak juga menghubungi pihak rumah sakit untuk memastikan bahwa berita sumber kepanikannya memang nyata.

Bagi sebagian besar orang, sejumlah besar uang mungkin tidak akan ada artinya untuk menyelamatkan orang yang terkasih. Namun tentunya dengan cara yang tepat dan bijaksana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar