Sabtu, 29 Desember 2012

Mengapa Kita (Bisa) Tahu Bumi Bulat



Bahkan ketika saya kecil, saya bertanya-tanya. Bagaimana manusia bisa tahu bahwa bumi ini bulat? Yah, memang ada perbukitan dan pantai, tapi tidakkah kemudian semua itu tampak datar?

Lalu kita mulai diajarkan ilmu bumi, astrofisika di sekolah dasar (yang konon pada kurikulum baru nanti tampaknya tidak akan ada lagi), sehingga saya bernalar dan menyetujui konsep bahwa bumi bulat - dan mulai berpikir betapa bodohnya orang zaman dulu tidak sadar bahwa bumi bulat, padahal beberapa bulan sebelumnya saya masih mempertanyakan bagaimana bumi bisa dikatakan berbentuk bulat.

Berjalan lurus sejauh 10.000 Km kemudian berbelok 90 derajat, lakukan hal yang sama dua kali lagi, maka kita bisa tiba di titik awal di bumi, yang mana itu tidak mungkin dalam bidang datar. Atau  Tiang-tiang kapal yang tampak lebih dulu di kejauhan sebelum kapal tiba. Atau kisah para penjelajah yang selalu pergi ke Barat di lautan bumi, dan tiba dari Timur.

Video di atas mengingatkan (baca: bernostalgia) saya kembali bagaimana ketika di bangku sekolah dasar kita berkenalan dengan logika ini, bahwa bumi bulat, dan mulai mencoba membuktikannya sendiri. Meski karena keterbatasan, tidak semua bisa dibuktikan (dengan mudah).

Jumat, 28 Desember 2012

Karena Sayang, Uang Melayang

at least they're upfront by army.arch
at least they're upfront, a photo by army.arch on Flickr.

Penipuan via telepon, sms, surat (termasuk email), hingga datang dari pintu ke pintu sudah marak, sering diberitakan, berulang-ulang, pelbagai modus operandi. Ajaibnya, hal ini bisa terjadi bekali-kali dengan cara yang sama. Terutama jika sisi lemah si korban menjadi terekspos tanpa perlindungan oleh si pelaku tindak kejahatan ini.

Alkisah beberapa waktu lalu, datang seorang "ayah" ke instalasi triase kami. Dia datang dengan wajah pucat pasi, awalnya kami menduga dia dalam keadaan sakit dan perlu bantuan. Namun langkahnya masih seperti orang sehat. Dia datang ke meja perawat dan bertanya, apakah ada anak "A" yang baru saja masuk ke sini karena kecelakaan dan dalam kondisi kritis.

Dari kata-kata itu saja kami sudah curiga. Dan ketika kami berkata dan meyakinkan anak "A" tidak pernah dibawa ke IGD kami dalam waktu yang dekat ini. Maka si "Ayah" tersebut langsung memastikan, bahwa dirinya baru saja sudah merelakan beberapa juta uangnya dikirim pada seseorang - entah siapa - yang mengatasnamakan rumah sakit dan tenaga medis.

Modus operandinya sederhana, si pelaku akan menelepon korban, menyatakan bahwa anaknya baru mengalami kecelakaan di sekolah dan dalam kondisi kritis di rumah sakit, perlu tindakan medis segera, dan perlu biaya untuk itu sesegera mungkin.

Biaya harus ada dalam kurun waktu tertentu, misalnya 10 menit. Pertama ini tidak akan memberikan kesempatan korban untuk memberikan uang tunai langsung, kecuali ditransfer secara cepat.

Trik mengatasi hal ini sederhana saja. Di manapun rumah sakitnya, pertolongan pertama adalah mandatori, ada atau tidaknya biaya, menyelamatkan nyawa pasien tidak menunggu mereka yang bertanggung jawab atas si pasien. Misalnya jika seorang anak cedera parah, tim medis diberikan wewenang penuh melakukan tindakan medis yang tepat dan cepat, tanpa perlu persetujuan si orang tua (yang mungkin tidak ada di lokasi), dan tanpa perlu menunggu konfirmasi siapa yang akan menanggu biaya tindakan medis dan pengobatan. Justru jika menunda dan menyebatkan catcat atau hilangnya nyawa pasien, tim medis bisa jadi dipersalahkan.

Kami menyadari bahwa orang tua kerap panik, atau jika orang terkasih dikabarkan sedang dalam kondisi darurat di rumah sakit. Namun percayalah, panik itu tidak akan membantu, kecuali bagi orang-orang yang ingin mengambil keuntungan dan niat jahat dari rasa panik Anda.

Percayalah, tim medis akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan pertolongan pertama dan stabiliasi. Namun jika takdir berkata lain, maka tidak ada yang bisa disalahkan.

Rasa sayang boleh, bahkan mesti ada. Namun keawasan nalar tidak boleh pudar. Misalnya kepanikan si "ayah" pada kasus di atas mengaburkan pikiran yang jernih, ia bahkan tidak curiga, tidak menghubungi anak, sekolah atau pihak lain yang berwenang untuk mengonfirmasi kabar tersebut, bahkan tidak juga menghubungi pihak rumah sakit untuk memastikan bahwa berita sumber kepanikannya memang nyata.

Bagi sebagian besar orang, sejumlah besar uang mungkin tidak akan ada artinya untuk menyelamatkan orang yang terkasih. Namun tentunya dengan cara yang tepat dan bijaksana.

Kamis, 27 Desember 2012

Selamat Natal 2012

Untitled by digitalpsam
Untitled, a photo by digitalpsam on Flickr.

Bagi para sahabat yang merayakan, saya ucapkan "Selamat Natal 2012". Sedikit terlambat, mohon maaf, karena saya tidak dapat mengakses blog utama dengan baik untuk menyampaikan ucapan ini secara lansgung.

Pun demikian, saya harap tidak mengurangi maknanya. Sekali lagi, selamat merayakan Natal bersama orang-orang terkasih. Semoga Damai Natal bersama kita senantiasa, dan bersama negeri kita tercinta ini.

Rabu, 26 Desember 2012

Uang Bukan Segalanya

Hmm... Mungkin terdengar begitu klise ketika kita mendengar orang berkata "uang bukan segalanya". Mungkin juga karena kata-kata tersebut telah diulang berkali-kali sejak benda yang bernama uang itu ditemukan - setidaknya demikianlah yang kuduga.

Pun begitu, rasanya di zaman ini tanpa uang manusia pada umumnya tidak bisa berbuat banyak. Nyaris seluruh kebutuhan pokok hidup manusia dan uang ibarat dua sisi koin yang tidak terpisahkan. Termasuk juga untuk pendidikan dan kesehatan.

Kadang aku bertanya-tanya, seberapa tergantungnya manusia modern dengan uang? Wow, mungkin jawaban dari itu sudah menjadi sesuatu yang absolut, yang lagi-lagi juga klise.

Namun jika pertanyaan kemudian digeser, seberapa terikatnya kita pada uang? Maka mungkin jawabannya menjadi relatif. Di sisi inilah kerelatifan yang muncul dari masing-masing individu akan menjadi cerminan kemanusiaan itu sendiri.

Ada orang yang membangun bisnis besar, hotel mewah, waralaba cepat saji, dan banyak lainnya. Keuntungan berlimpah, dan semoga saja masih tetap taat pajak. Ada yang bisnisnya mungkin saking taatnya dengan pajak, ikut-ikutan membantu memajaki orang-orang di sekitarnya melalui pungutan-pungutan liar.

Sehingga ketika aku mendengar ada orang yang berkata, "uang bukan segalanya", itu bukan tentang nilai sekeping atau selembar uang yang notabene telah absolut, namun nilai kemanusiaan kita dalam kekinian yang bisa menjadi begitu relatif. Setidaknya, demikianlah pandanganku.

Jumat, 21 Desember 2012

Perjalanan di Akhir Tahun

Aku menatap jadwal perjalananku di akhir tahun. Beberapa bulan ini semuanya penuh sesak, bernapas saja terasa sulit. Tapi memang tidak bisa dipungkiri, bahwa bagian dari tugas yang menyesakkan itu adalah warna-warni kehidupan.

Terkadang sedikit meluangkan waktu dengan penyegaran suasana mesti hanya sesaat adalah pilihan yang baik menurutku. Sedikit ketenangan bisa membantu mengembalikan kelegaan ke dalam ruang-ruang yang sudah lama sesak oleh kepenatan.

Maka dengan ini aku mengucapkan selamat datang pada akhir tahunku.

Kamis, 20 Desember 2012

Lebih Baik Berjalan atau Berlari jika Kehujanan?



Pernahkah kita berpikir ketika sedang berada di bawah hujan, tanpa payung ataupun jas hujan? Kita akan bertanya-tanya agar tidak terkena lebih banyak air, haruskah kita berjalan pelan sehingga tidak tidak terlalu basah, ataukah kita harus berlari namun dengan konsekuensi kita lebih banyak tersiram hujan dari arah depan?

Kira-kira apa jawaban atau pilihan kita? Berjalan pelan sehingga hanya basah dari atas, atau berlari sekencang-kencangnya mengurangi basah dari atas namun basah juga dari depan?

Video di atas cukup menarik dalam menjelaskan hal ini. Sebenarnya ketika kita bergerak maju (misalnya berjalan atau berlari di bawah hujan dari satu lokasi ke lokasi lainnya), jumlah air yang kita dapatkan dari depan tetap sama tanpa memedulikan kecepatan kita bergerak/berpindah. Namun guyuran air hujan dari arah vertikal akan bertambah banyak, seiring dengan waktu yang dihabiskan untuk berpindah.

Dengan mempertimbangkan hal tersebut, tentu kita sudah tahu apa jawaban yang tepat bukan?

Selasa, 18 Desember 2012

Isu Kepemilikan Senjata

Beberapa waktu yang lalu kita kembali dikejutkan dengan tragedi penembakan membabi buta di sebuah sekolah yang selayaknya menjadi tempat belajar yang nyaman dan aman bagi anak-anak. Dan ini menyinggung kembali isu kepemilikan senjata oleh warga sipil.

Senjata api memang dalam beberapa sisi menjadi lebih mematikan karena keunggulan kepraktisan dan daya jangkaunya. Bisa digunakan dengan mudah jika dan menjadi malapetaka di tangan yang keliru.

Senjata organik yang memiliki kesahan telah lama dapat dimiliki oleh masyarakat umum dengan syarat dan izin tertentu. Sayangnya, jika pemegangan kemudian tidak dilakukan dengan benar bisa menjadi awal bencana. Misalnya anak tahu di mana orang tuanya menyimpan pistol lalu mengambilnya untuk dipamerkan ke sekolahnya. Atau hal-hal lain yang sama sekali tidak kita sangka sebelumnya.

Maka, apapun itu, kepemilikan senjata oleh perseorangan warga sipil akan tetap memberikan potensi bahaya di dalamnya.

Film Samurai-X



Aku tidak begitu suka J-Drama yang diangkat dari komik. Tapi jika diangkat dari komik populer seperti Samurai-X dalam gambaran petualangan Kenshin Himura, mungkin akan sangat menarik. Kapan akan bisa menyaksikan 『るろうに剣心』予告編 ya?

Sabtu, 08 Desember 2012

Naik Bus Ekonomi AKAP itu... (?)

Bus DAMRI by * miQ
Bus DAMRI, a photo by * miQ on Flickr.

Gambar di atas tentu saja tidak mewakili kondisi bus yang sebenarnya yang saya naiki, setidaknya yang di atas itu tampak jauh lebih menawan. Percayalah!

Saya mencoba menaiki bus AKAP (antar kota antar provinsi) dari Genteng (Jawa Barat) ke Terminal Mengwi (Bali), dan sebaliknya. Iseng menjadi wisatawan domestik, merasakan orang-orang yang konon backpacker-an. Jadi asal stop bus dan kemudian cabut.

Bagi yang sudah sering naik angkutan umum mungkin tidak kaget, tapi apa yang saya temui sungguh mengagetkan. Setidaknya membuat saya akan mempertimbangkan kembali mode transportasi ini.

Alasan pertama, sopir yang ugal-ugalan, tidak disiplin dalam berlalu lintas. Hal ini malah seringkali dianggap wajar bagi yang kejar setoran, dan penumpang pun tampaknya enggan mengeluh asal selamat tiba di tujuan.

Alasan kedua, kondisi kendaraan tidak memenuhi standar keselamatan. Belum satu kilometer keluar dari terminal, bus saya tumpangi sudah mengeluarkan asap dari kap bawah kemudinya. Entah bagian apa yang konslet, tapi asap tebal membuat semua penumpang berlarian dan loncat keluar, kecuali saya yang cukup cuek.

Alasan ketiga, kesehatan tidak terjamin. Asap rokok mengepul di mana-mana di bus yang tidak ber-AC ini. Saya tidak menyalahkan mereka yang perokok, tapi saya kutuk mereka yang tidak bernurani, bahkan dengan santai menghembuskan asap rokok yang asapnya berbutar-putar di sekitar seorang ibu yang menggendong bayi kecilnya.

Tidak memiliki etos kerja mungkin adalah alasan terakhir yang cukup kuat. Bayangkan saja, bus berhenti seenaknya, dengan pengemudi dan kernet kemudian turun dan merokok di kedai kecil, dan meninggalkan penumpang di bus yang kebingungan. Kebingungan yang dihibur dengan pengamen yang naik silih berganti setelah (mungkin) "permisi" dengan si sopir, ditambah hiburan puluhan kecoak yang merayap di lantai hingga kursi bus.

Dalam hati saya berkata, kualitas transportasi mencerminkan kualitas mental bangsa ini, mau salahkan siapa coba. Jangan kemudian diprotes bahwa mereka yang lebih mampu memilih kendaraan pribadi yang lebih hemat dan higienis, bersih, dibandingkan angkutan umum yang dalam banyak sisi mengancam kesehatan hingga nyawa.