Jumat, 12 Oktober 2012

Bagaimana Kita Bisa Melihat Cahaya?



Beberapa hari belakangan ini, berita sains di media lokal dilengkapi dengan sejumlah kisah dari pemenang nobel sains tahun ini. Terutama Serge Haroche and David Wineland yang memberikan sumbangsih untuk bidang fisika kuantum.

Pertanyaan sederha yang mungkin selalu menjadi pertanyaan sejak dahulu, adalah bagaimana kita melihat cahaya. Karena jika kita melihat cahaya, berarti cahaya itu "tersentuh" oleh kita (mata) dan hancur (terserap) dan hilang. Lalu bagaimana kita melihat cahaya tanpa menghancurkannya?

Maka sedikit cuplikan "Quantum Cat-ception" yang menarik dari video di atas bisa menjadi penjelasan sederhana, bagaimana kita bisa "melihat" cahaya.

Minggu, 07 Oktober 2012

Selalu Mengecek Kamar Kecil



Kurasa sudah menjadi kebiasaan kalau saat berkunjung ke acara-acara di lokasi-lokasi baru, aku selalu mengecek keberadaan kamar kecil. Misalnya menghadiri seminar di hotel, maka jalur tercepat ke toilet adalah hal yang wajib ditemukan.

Maklum, jika memiliki saluran pencernaan yang agak rewel, apalagi jika menu jamuannya nanti agak mengejutkan. Ya, siap-siap saja memesan kamar kecil paling dulu, agar tidak mengantre lama.

Jumat, 05 Oktober 2012

Kekurangan Dosis Musik Klasik



Aku tidak tahu apakah tepat menyebutnya sebagai musik klasik, karena tentu saja beberapa instrumental yang kusukai seperti yang berjudul "Titanium / Pavane (Piano/Cello Cover)" - oleh David Guetta / Faure - pada album ThePianoGuys ini bukanlah sesuatu yang klasik sama sekali, bahkan pembuatannya pun menggunakan teknologi dan instrumen modern selain instrumen klasik.

Namun rasanya belakangan ini aku sedang kekurangan dosis musik-musik seperti ini. Sesuatu yang bisa menggugah semangatku untuk tetap menciptakan karya-karyaku juga.

Sayangnya sementara ini keterbatasan dana dan akses membuat sulit mendapatkan karya-karya seperti ini kecuali dari dunia maya.

Apakah kamu juga menyukai musikalitas seperti ini?

Kamis, 04 Oktober 2012

Meretas Yang Bermakna Dari Pendidikan

Pemerintah kembali mencanangkan perubahan kurikulum pendidikan, setidaknya demikian yang saya tangkap dari beberapa media pemberitaan yang samar-samar tiba dalam hari-hari yang sesak oleh kesibukan. Dan saya pun tidak dapat berhenti untuk bertanya-tanya, apa yang sesungguhnya diharapkan oleh dan dari dunia pendidikan kita saat ini?

Sebuah standardisasi yang berlabel Internasional? Ataukah hal-hal lain yang terdengar begitu prestigius. Namun mungkin sesuatu yang lebih sederhana, sebagaimana secuil yang dapat saya tangkap dengan adanya kemungkinan pendidikan kewarganegaraan dimasukkan kembali sebagai kurikulum wajib; yang mungkin merupakan sebuah gambaran tentang kegamangan arah pendidikan yang bertujuan mencetak manusia seperti apa bagi negeri dan sesamanya?

Pendidikan yang mendasar itu mungkin tidak lagi sesederhana yang saya bayangkan. Di mana mengarahkan menuju potensi posifif yang berlimpah merupakan tujuan titik keberangkatan.

Bahkan ketika pemerintah dan para pemikir hendak memangkas jumlah mata pelajaran, tidak serta merta bermakna pelaksana pendidikan akan melakukan hal yang sama di lapangan. Beberapa mungkin memang tidak bisa memenuhi target yang diinginkan karena kurangnya sumber daya yang bisa digerakkan, beberapa yang lain mungkin akan menambahkan banyak lagi karena merasa memiliki peluang untuk itu - apalagi kadang terhembus isu mengenai komersialitas dunia pendidikan.

Di dunia ini tidak ada yang namanya pendidikan murah. Yang termurah dari sebuah pendidikan adalah kesadaran, ya - kesadaran untuk mewujudkan dunia pendidikan yang berkeadilan dan di mana semua orang dapat duduk setara saling bahu membahu menciptakan lingkungan pendidikan yang nyaman dan mampu menyokong generasi penerus bangsa ini. Hanya saja kesadaran itu sendiri yang menjadi yang paling murah murah adalah sesuatu yang sudah begitu mahal, saking mahalnya hingga tidak dapat dibeli dengan uang.

Pendidikan adalah pondasi yang akan membuat bangsa ini menjadi kokoh. Jika tidak jelas arah dan tujuannya, maka implementasinya akan menjadi acak-acakan, dan jika tidak muncul sebuah kesadaran global akan pentingnya pendidikan, maka tidak ada yang cukup bermakna yang dapat dipetik darinya.