Senin, 06 Agustus 2012

Bergesernya Patrap Triloka Pendidikan

Saya tidak tahu berapa banyak di antara kita yang mengingat warisan Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang selayaknya memberikan teladan di depan (Ing Ngraso Sung Tolodo), membangun pemahaman di tengah-tengah (Ing Madyo Mangun Karso) dan memberikan dorongan sepenuh hati dari belakang (Tut Wuri Handayani).

Sekarang banyak yang berdiri di depan, merasa berilmu dan sok pintar, justru menjadi sumbat mengalirnya pendidikan. Berada di tengah dan takut tersaingi, sehingga saling menjegal. Atau pun dibelakang hanya menjadi pemanas suasana yang sisanya tidak begitu peduli, yang penting bisnis tetap berjalan.

Saya tidak skeptis terhadap pendidikan di negeri ini. Namun saya juga tidak berani menaruh harapan besar dengan semua sistem yang berjalan saat ini.

Banyak pendidik yang memberikan waktu dan tenaganya untuk menyiapkan benih-benih masa depan negeri ini, sehingga bisa menyokong kehidupan berbangsa dan bernegara yang kokoh dan sinergis. Namun tidak sedikit pula upaya komersialisasi dunia pendidikan yang seakan menjadi tirani penghalang tersentuh pendidikan yang setara bagi segenap lapisan masyarakat kita.

Saya rasa tiap-tiap dari kita haruslah dapat mengambil sikap, komitmen atau apapun itu. Bahwa pendidikan adalah menjadi tanggung jawab segenap rakyat Indonesia, bukan hanya pemerintah atau kelompok tertentu.

Mengembalikan Patrap Triloka Pendidikan pada tempat selayaknya. Dan marilah berharap agar pendidikan kembali menjadi lentera pandu bagi perjalanan ke masa depan negeri ini.

Kamis, 02 Agustus 2012

Kehidupan Itu Berliku Dan Menanjak

Branch at the top by Katarina 2353
Branch at the top, a photo by Katarina 2353 on Flickr.

Entah berapa orang yang saya temui, namun kebanyakan orang memandang kehidupan itu berliku dan menanjak. Beberapa orang mungkin tampak meroket ke angkasa, namun apa yang mereka sampaikan tetap saja menunjukkan perjuangan yang berliku dan menanjak.

Tidak ada seorang pun yang ingin memberikan kisah yang meremahkan kehidupan. Namun tidak berarti semua orang setuju bahwa kehidupan itu "terlalu" kompleks. Penghargaan akan kehidupan adalah sebuah anugerah tersendiri.

Kadang kita mungkin menemukan jalan yang bercabang justru ketika pikir bahwa langkah di tikungan berikutnya adalah sang puncak.

Namun siapa yang akan tahu?

Mungkin di sana ada turunan yang meneduhkan hati, di mana sungai dengan jernih mengalir, dan setiap hati akan dinyanyikan kidung kedamaian.