Sabtu, 23 Juni 2012

Makanan Sayang Makanan Malang

Kurasa beberapa orang memang tidak peduli pada makanan, meskipun mereka cukup peduli pada rasa lapar. Secuil dalam benak orang-orang seperti ini mungkin bahwa makanan hanya alat pemuasan rasa lapar yang menghantui mereka sepanjang waktu.

Siang ini saya berada dalam sebuah jamuan makan prasmanan, dengan kata lain - ambil sendiri menu dan porsi pilihan kita dari atas meja saji.

Alhasil, karena gratis tentunya, gelombang awal layaknya berebut karena merasa tidak akan dapat pengisi perut. Nah, tidak semua memang, namun kita bisa melihat bahwa mereka mengambil dalam porsi besar, seakan berkata "tenang saja, toh pasti yang berikutnya disediakan oleh panitia, mumpung ada, ambil yang banyak". Ya, inilah ajian aji mumpung yang tersohor itu.

Alhasil? Banyak di atas piring para penikmat garis depan yang pada akhirnya menyisakan makanannya. Baik beberapa suap nasi, mungkin sepotong tempe.

Saya rasa di dunia injak selalu ada yang paham bagaimana rasanya kelaparan, namun tetap saja pada akhir ada juga yang membuat semua itu sia-sia ketika tidak benar-benar mengenal bagaimana menghargai sesap nasi.

Saya kadang berpikir, pernahkah orang-orang seperti ini merasakan sulitnya mengolah sawah, atau menanak nasi dan menumis sayur yang terhidang di hadapan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar