Sabtu, 30 Juni 2012

Obral Janji saat Kampanye bisa Menyusahkan

Political Commitment by grey garden
Political Commitment, a photo by grey garden on Flickr.

Di dunia politik, sudah tidak asing lagi bagi masyarakat bahwa para "calon" pengempu kewenangan eksekutif maupun legeslatif gemar manaburkan janji-janji baik secara personal, maupun oleh tim suksesnya. Hingga batas tertentu saya bosan mendengarkan lontaran janji-janji - yang mungkin di telinga banyak orang terdengar manis.

Kadang janji itu diucapkan tidak melihat situasi dan kondisi sistem yang tengah berjalan di masyarakat, hanya sekadar bumbu pemanis memberikan pengharapan kosong bagi para calon pemilihnya.

Katakan saja beberapa waktu lalu, saya mendengar seorang yang maju kampanye (entah siapa, saya tidak terlalu memerhatikan) mengatakan bahwa rakyat tidak perlu repot berobat, cukup tunjukan KTP saja - saya langsung "tepok jidat" dan berkata, "emang segampang itu apa?"

Di satu sisi, ya itu adalah ide yang baik, namun di sisi lain itu adalah bunuh diri dalam kondisi masyarakat saat ini. Kalau si calon tidak tahu alasannya mengapa, maka bodoh sekali dia.

Saya sering mendengar kolega mengeluh bahwa ada banyak keluhan dari pihak LSM yang katanya membela orang miskin, bahwa orang miskin "dilarang sakit", "dipersulit berobat".

Ah, yang benar saja?

Apa karena sampeyan merasa miskin terus datang dan menyerahkan KTP, lalu semua beres dan bisa masuk gratis, berobat gratis, pulang gratis? Pokoknya tinggal terima jadi pelayanan kesehatannya? Kalau bisa begitu, semua orang juga mau dong.

Bahkan ndak cuma yang miskin, yang berduit saja juga mesti repot kok. Yang miskin pakai jaringan pengaman sosial, yang berduit pakai asuransi, dua-dua sama-sama mesti mengurus administrasi yang tidak sedikit. Bedanya, yang sadar bahwa itu mesti diurus, tidak akan mengeluh.

Saya sendiri sih merasa akan senang sekali kalau administrasi dan birokrasi bisa dipangkas, tapi apa iya semudah itu? Di negeri yang mental pejabat dan rakyatnya sama-sama gemar korupsi, kepercayaan untuk memangkas birokrasi itu susah.

Dana jaringan pengaman sosial berasal dari pajak yang dibayarkan rakyat, dan memang seharusnya dikembalikan pada rakyat - terutama yang memerlukan agar diprioritaskan. Kalau dengan KTP saja bisa menunjukkan difrensiasi prioritas ini, sih tidak masalah, tapi nyatanya tidak, karena itu administrasi lebih lengkap diperlukan agar tepat sasaran.

Apa iya mau di KTP ditaruh tambahan item pembeda antara warga miskin dan berduit? Sehingga bisa langsung dikenal, "wah, yang ini miskin, ayo masuk Pak, berobatnya gratis." Sampeyan mau membuat perpecahan dan diskriminasi lagi di negeri ini?

Calon pejabat kok ndak ngerti hal-hal sesederhana ini. Apa iya wilayah yang akan dipimpinnya akan baik-baik saja, kalau yang memimpin saja tidak menunjukkan kecerdasan yang bijaksana?

Ah, saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Masalah itu harus diatasi dengan solusi yang cerdas, bukan dengan yang menambah masalah. Saya ndak punya kompetensi seperti ini, makanya saya ndak akan pernah bisa berjanji seperti itu.

N.B: Gambar hanya memberikan ilustrasi dan tidak memiliki hubungan keterkaitan dengan isi/tulisan di atas.

Kamis, 28 Juni 2012

Perkara Ide Gedung Baru untuk KPK

Gedung KPK by Kelana Nusantara
Gedung KPK, a photo by Kelana Nusantara on Flickr.

Setiap kali saya menyalakan layar televisi dan mencari saluran berita, entah kenapa euforia tentang pembangunan gedung baru untuk KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) mengisi cuplikan setiap kesempatan di layar kaca dalam dua atau tiga hari belakangan ini. Saya mungkin memang bukan pecandu berita, namun jika intensitasnya seperti ini - mau tidak mau ya mendengar juga pada akhirnya.

Mungkin karena legeslatif tidak mau memenuhi usul pembangunan gedung baru bagi KPK, maka isu ini semakin gencar. Karena memang gedung (katanya) gedung lama sudah tidak layak huni lagi. Lha, wong anggota dewan sendiri merengek-rengek dulu saat meminta gedung baru, padahal kerjaannya banyak ndak jelas. Sekarang badan independen yang sudah cukup jelas kerjaannya - meski belum tuntas semua - malah tak diacuhkan. Menurut saya (entah apa ini yang namanya kebijakan politik) semua ini terlihat begitu konyol. Ah, rakyat sudah ngertilah, meski ndak semuanya sepaham.

Sekarang malah muncul "saweran" - sumbangan dari rakyat, "croud founding", gratifikasi, atau apalah itu namanya. Untuk mendukung keberadaan gedung baru ini, karena masyarakat luas percaya bahwa KPK memang memerlukannya.

Meski ndak semua elit politik setuju dengan saweran ini, dan lebih memilih menyaweri rakyat yang lebih miskin (masuk akal sih, itu saya juga ragu kalau memang dikerjakan). Tapi kan sudah jelas, bahkan sangat jelas dan masuk di akal, bahwa yang memiskinkan rakyat di negeri ini adalah korupsi dan bentuk sejenis lainnya. Ketidakpedulian menghasilkan korupsi, dan itu langsung maupun tidak langsung akan menyengsarakan rakyat. Yang memang bilang peduli sama rakyat kecil, harusnya ya paham bahwa setiap upaya pemberantasan korupsi bermakna selangkah upaya maju dalam mensejahterakan rakyat atau memberikan kembali pada rakyat apa yang menjadi haknya.

Rakyat, ya kita sendiri, paham akan hal ini, meski selama ini cuma bisa sekadar membantin saja. Karena kenyataan jelas yang terselubung itu, saat ini kita sedang dijajah oleh bangsa sendiri - para koruptor itu.

Maka di sini, satu-satunya harapan nyata rakyat untuk memerdekakan dirinya (yang meskinya mereka telah merdeka) adalah dengan turut membantu memberantas korupsi, meski kadang tidak jarang anggota masyarakat kita yang malah tersandung sakit akibat upaya mereka. Kini saat mereka bisa memberikan sumbangsih pada salah satu lembaga yang dinilai bisa menjadi juru selamat negeri ini dari korupsi, tidak heran mereka akan tergerak, bahkan tidak peduli mungkin seberapa banyak mereka harus berkorban, karena perasaan tertindas itu sudah begitu jenuh dan kental di dalam sanubari rakyat.

Kini jika masyarakat mendapatkan kesempatan membantu KPK secara material, maka rakyat merasa memiliki KPK lebih jauh lagi. Dan harapannya, KPK akan lebih memberikan daya upayanya untuk mewujudkan harapan rakyat sebagai tanggung jawab moralnya. Di sini rakyat bisa berjalan bersama-sama, memantau dan menuntut bentuk-bentuk keadilan atas korupsi yang telah merugikan tanah tumpah darah mereka!

Senin, 25 Juni 2012

(RED)RUSH TO ZERO: Awal dari Akhir AIDS Bermula dari Kamu



Kita dapat memulai akhir dari penyebaran HIV/AIDS yang sejak 30 tahun ini telah menelan korban 30 juta jiwa. Dan kamu bisa memulai itu semua, simak video di atas untuk melihat apa yang dapat kamu lakukan.

Minggu, 24 Juni 2012

Orang Purba Memindahkan Patung Batu Raksasa



Hmm..., melihat video tersebut, saya kadang membayangkan orang purba (namun mungkin tidak selalu tepat menyebut mereka purba) dalam memindahkan baru 5 ton patung batu raksasa ke tempat yang jauh. Namun ini baru yang berukuran 5 ton, kisah Easter Island masih memiliki yang berukuran puluhan ton hingga 70 ton, entah bagaimana mereka akan diprediksi memindahkan itu.

Paradoks Alam Liar

Manul, a small wild cat by Foto Martien
Manul, a small wild cat, a photo by Foto Martien on Flickr.

Manusia adalah mahluk yang sangat mudah bosan. Jika dia diam di dalam rumah yang nyaman terlalu lama, dia akan bosan dan ingin menjelajah dunia luar. Namun ketika alam liar menyapanya dengan sedikit gregetan, dia langsung rindu kembali ke depan perapian yang hangat di atas karpet dan sofa yang empuk.

Manusia selalu memiliki dua sisi yang berlainan, sebuah paradoks bagaikan alam liar.

Sabtu, 23 Juni 2012

Makanan Sayang Makanan Malang

Kurasa beberapa orang memang tidak peduli pada makanan, meskipun mereka cukup peduli pada rasa lapar. Secuil dalam benak orang-orang seperti ini mungkin bahwa makanan hanya alat pemuasan rasa lapar yang menghantui mereka sepanjang waktu.

Siang ini saya berada dalam sebuah jamuan makan prasmanan, dengan kata lain - ambil sendiri menu dan porsi pilihan kita dari atas meja saji.

Alhasil, karena gratis tentunya, gelombang awal layaknya berebut karena merasa tidak akan dapat pengisi perut. Nah, tidak semua memang, namun kita bisa melihat bahwa mereka mengambil dalam porsi besar, seakan berkata "tenang saja, toh pasti yang berikutnya disediakan oleh panitia, mumpung ada, ambil yang banyak". Ya, inilah ajian aji mumpung yang tersohor itu.

Alhasil? Banyak di atas piring para penikmat garis depan yang pada akhirnya menyisakan makanannya. Baik beberapa suap nasi, mungkin sepotong tempe.

Saya rasa di dunia injak selalu ada yang paham bagaimana rasanya kelaparan, namun tetap saja pada akhir ada juga yang membuat semua itu sia-sia ketika tidak benar-benar mengenal bagaimana menghargai sesap nasi.

Saya kadang berpikir, pernahkah orang-orang seperti ini merasakan sulitnya mengolah sawah, atau menanak nasi dan menumis sayur yang terhidang di hadapan mereka.

Kamis, 21 Juni 2012

Euforia Superkomputer

Berita IT belakangan ini sedang didemamkan oleh lahirnya superkomputer baru "IBM Sequoia" yang dinyatakan menjadi yang tercepat saat ini, menggantikan besutan Funjitsu sebelumnya. Dan mungkin karena ini juga kali pertamanya superkomputer tercepat merupakan buatan Amerika, euforia ini serasa sedikit menggema.

Superkomputer memang sangat bermanfaat untuk penelitian dan pengembangan teknologi, IMB Sequoia ini misalnya mampu melakukan perhitungan 16,32 petaflops per detik dengan menggunakan hampir 1,6 juta inti prosesor (bayangkan komputer rumah kita saat ini paling banyak hanya memiliki dua atau empat inti prosesor - dual core atau quad core).

Apa artinya itu? Kita mungkin bingung dengan angka-angka itu, namun itu kira-kira bermakna, dalam satu jam komputer ini mampu menghitung apa yang perlu dihitung oleh 6,7 juta orang dengan kalkulator tangan selama 320 tahun. Kalkulasi, itulah kekuatan sebuah superkomputer.

Aku tidak tahu apakah negara kita memanfaatkan superkomputer-superkomputer seperti ini sebagaimana negara-negara yang memberikan perhatian besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Superkomputer seperti ini biasanya menggunakan Linux; IMB Sequoia sendiri menggunakan RHEL, beberapa yang lain menggunakan SLES/D. Dari 500 superkomputer hanya 13 yang menggunakan Windows, itu berarti jika negara kita tidak mulai menukar kurikulum pendidikan dengan menggunakan open source, kita bahkan mungkin lebih jauh lagi dari mimpi menggunakan superkomputer.

Opera 12 - Make it yours



Saya suka dengan kehadiran Opera 12, cepat, mudah digunakan, dan mendukung lebih bayak HTML5 dari versi sebelumnya. Belum lagi untuk CSS3 Animations dan Transition-nya.


Semua membuat Opera 12 menjadi all-in-one browser yang bisa digunakan di semua komputer saya.

Selasa, 19 Juni 2012

Obat Generik Saja

Generic Drugs by BC Gov Photos
Generic Drugs, a photo by BC Gov Photos on Flickr.

Kadang memang heran melihat bahwa orang menuntut dipilihkan obat bermerk yang dikenal dengan obat paten dibandingkan obat generik yang harganya jauh lebih terjangkau. Mungkin karena pola pikir masyarakat bahwa obat paten itu pasti menyembuhkan dan lebih baik dari obat generik.

Salah kaprah? Entahlah, stigma seperti itu sudah lama ada di masyarakat. Kadang ada kolega yang berkata bahwa pasiennya tidak percaya bahwa obat yang diresepkan bisa membantu penyakitnya, karena saat ditebus di apotek harganya sangat murah.

Aku sendiri geleng-geleng kepala. Karena selama ini jika meresepkan untuk diri sendiri, di saat memang benar-benar perlu obat, maka pilihan tetap ada pada obat generik. Karena kalau kandungannya sama, untuk apa membayar lebih mahal?

Ada banyak alasan kenapa obat paten mahal, mereka membayar iklan untuk promosi produk mereka dan bersaing dengan perusahaan farmasi yang lain. Mereka memiliki kemasan yang lebih menarik dan lebih mahal biaya produksinya.

Di sisi lain, mungkin karena mereka menambahkan zat tertentu yang menekan efek samping komponen asli, atau mereka hadir dan dikemas dengan tidak menggunakan komponen preservasi (pengawet).

Tentunya tidak jarang, obat paten adalah masih merupakan pemegang hak paten resmi untuk komponen obat tersebut. Sehingga biaya mahal digunakan untuk mengembalikan biaya penelitian obat yang nilainya tidak sedikit. Dan dalam hal ini tidak ada versi generiknya, juga merupakan kewajaran dalam upaya melindungi pengembangan teknologi obat ke depannya.

Pun demikian, pilihan jenis obat tetap berada di tangan pasien - entah menggunakan yang generik ataupun yang paten. Tentunya dengan syarat bahwa pasien berhak mengetahui informasi yang selengkapnya mengenai pilihan obat yang diberikan.

Aku sendiri sih jika tersedia akan memilih obat generik saja.

Minggu, 10 Juni 2012

Mengubah Kedudukanmu?



Katanya setiap individu memiliki tempatnya sendiri di masyarakat. Yah, bisa dikatakan sebagai sebuah kedudukan sosial. Dan tak jarang individu menginginkan kedudukan sosial yang lebih baik (lebih tinggi?), mendapatkan perhatian dari banyak individu atau kelompok lainnya.

Pun setelah kita berubah, memiliki kedudukan yang lebih baik, ini kadang bukan selalu bermakna bahwa apa yang kita harapkan terwujud, atau apa yang dihasratkan menjadi terpuaskan.

Kita berubah, baik karena kita inginkan, kita usahakan, atau terjadi secara alaminya. Kita mungkin menguak dunia yang baru, yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, dan tidak selalu berakhir baik. Hanya saja, sebaiknya kita tidak berhenti melangkah, meski yang hadir tidak seperti yang kita kehendaki.

Laba-Laba Terbesar di Dunia



Laba-laba adalah salah satu mimpi buruk kebanyakan orang, entah mengapa - mungkin karena mereka tampak sangat berbeda dari kita. Dan yang terbesar adalah keluarga Tarantula - setiap anak di muka bumi pasti pernah mendengar nama mereka setidaknya sekali seumur hidup, meski tidak pernah melihatnya langsung.

Dan yang terbesar dari para tarantula adalah "Goliath" si raksasa. Namun tentu saja tidak akan sebesar Aragog di serial/novel Harry Potter, mungkin hanya seukuran tikus sawah besar (yah, itu juga cukup besar). Namun jangan khawatir, karena tampaknya bisa Goliath tidaklah mematikan bagi manusia (secara umum).

Mandi Pagi?

Kalau hari libur banyak orang yang malas mandi pagi, jangankan mandi pagi, bangun pagi saja malas, apalagi jika pagi mending berubah gerimis - hilang sudah mandi pagi.

Dari pada mencium aroma kamar mandi. Rasanya mencium aroma debu di balik selimut akan lebih nikmat, seperti menghirup candu ke alam layangan angan.

Ah, kemalasan itu adalah candu yang paling nikmat. Tapi mandi pagi adalah musuh besarnya. #eh

Kamis, 07 Juni 2012

Mimpi Pendidikan

Kadang semasa kecil, entah sama atau tidak dengan anak-anak lainnya, aku menemukan bahwa mimpi belajar di tempat yang memiliki prestise tersendiri adalah hal yang menakjubkan - yah, meski hanya sebuah mimpi.

Belajar mungkin adalah salah satu hal menarik yang membuat kita manusia terus melangkah maju, dan peradaban kita menghasilkan dunia pendidikan untuk mengisi hasrat ini.

Sayangnya, meski pendidikan menyumbang banyak pada kehidupan manusia, tidak semua orang menyadari bahwa pendidikan selayaknya menjadi sesuatu hal global yang dapat diakses oleh setiap orang secara adil dan merata.

Selama ini aku hanya melihat sebuah kata yang mewakili pendidikan di negeri ini, yaitu "mahal". Bantuan pendidikan tidak banyak, dan jika pun ada yang terjangkau hanya sedikit saja. Pun itu bisa dikatakan sebuah keberuntungan. Sisanya mungkin boleh jadi akan gigit jari.

Banyak anak di negeri ini yang melihat pendidikan prestise sebagai mimpi, namun mungkin lebih banyak lagi yang melihat mimpi pendidikan akan datang ke kenyataan yang mengejutkan ketika ia membuka matanya dari lelap di pagi hari.