Senin, 16 April 2012

Pendidikan itu untuk Kehidupan

Hari ini pelajar kita mulai menghadapi ujian nasional. Hanya saja saya masih sedih mendengar bahwa masih ada upaya mencari kunci jawaban, membocorkan soal - bahkan hingga rentetannya berupa rasa tidak percaya dan pemeriksaan lokasi ujian agar bebas ponsel - termasuk dengan mengerahkan petugas keamanan.

Saya mungkin mesti mengakui, bahwasanya, ujian itu tidaklah mudah, tidak jarang membuat kepala terasa berdenyut nyeri.

Namun jauh daripada itu, orang-orang tampaknya mulai menggeser bahwa pendidikan sebenarnya ditujukan bagi kehidupan secara luas, menjadikan seseorang terdidik sehingga dapat hidup sebagai manusia seutuhnya.

Pendidikan bukanlah tentang menciptakan nilai-nilai tinggi, jawara-jawara hebat, atau lulusan-lulusan yang diterima di jenjang bergengsi berikutnya. Karena pada akhirnya, semua itu akan terjadi dengan sendirinya sebagai buah dari proses pendidikan yang baik.

Pun jika itu tidak terjadi, kita tidak dapat memaksanya terjadi. Atau kita akan mulai menciptakan kepalsuan, nilai-nilai palsu, lulusan-lulusan palsu, dan gelar-gelar palsu. Dan pada akhirnya kita menciptakan masyarakat dan negara yang palsu yang mulai berteriak kebenaran akan pembenaran hal-hal yang dibiasakannya, korupsi, cauvinisme, nepotisme, dan sebagainya yang menjadi roda iblis di bumi pertiwi.

Pendidikan itu untuk kehidupan, dan saya tidak tahu, seberapa banyak dari kita yang masih dapat tersenyum bahagia melihat mereka yang giat menempa ilmu - bukan hanya untuk nilai dan gelar semata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar