Senin, 09 April 2012

Nelayan dan Musim Melaut

Sekitar seminggu yang lalu, aku sempat mendengar celoteh seorang nelayan tua - usianya mungkin sudah 60-an tahun - tentang sulitnya mendapat ikan saat ini.

Bukan karena cuaca yang makin menggila, namun laut tampaknya sudah tidak menyediakan kelimpahan sumber daya selayaknya semasa ia kecil dan remaja dulu.

Nelayan dari desa nelayan di Selatan Bali ini mengeluhkan nelayan pendatang dari pulau-pulau seberang yang melaut - menangkap ikan - tanpa menggunakan penanggalan.

Mengapa? Yah, kehidupan di Bali secara tradisional masih menggunakan penanggalan untuk mencari hari baik melakukan sesuatu, misalnya perjalanan, ataupun untuk pergi melaut bagi nelayan.

Penanggalan membuat nelayan hanya melaut pada waktu tertentu sesuai dengan kebijaksanaan kuno. Ini juga bermanfaat bagi lautan untuk memberi waktu hening dari aktivitas manusia yang menguras sumber dayanya, bagi laut untuk memperbarui kekayaannya sehingga bisa digunakan lagi oleh manusia.

Namun nelayan pendatang tampaknya tidak mengenal waktu dan penanggalan. Mereka melaut setiap saat, menguras isi lautan di Selatan Bali. Tentu saja ini juga membuat nelayan lokal mesti juga bersaing, jika tidak, bagaimana mereka bisa menghidupi keluarga mereka jika tidak ikut menjaring isi lautan setiap saat.

Kadang aku berpikir, kita tidak lagi bersahabat dengan alam. Dan jika suatu saat alam tidak menyediakan apa-apa kecuali sejumlah bencana, mungkin kita telah kehilangan tempat untuk mengeluh padanya.