Jumat, 13 April 2012

Istri Simpanan untuk Anak SD

Don't Piss Me Off! by Extra Medium
Don't Piss Me Off!, a photo by Extra Medium on Flickr.

Aku agak tersenyum (mungkin sedikit sinis) mendengar berita marak tentang buku "Lembar Kerja Siswa" Sekolah Dasar yang berisi materi bertajuk istri simpanan - atau sesuatu seperti itu dalam cerita "Bang Maman dari Kali Pasir".

Dari berita juga kutahu bahwa banyak yang protes tentang hal ini, kenapa bisa diloloskan pada buku SD.

Namun aneh juga, selain pengawas tidak tahu menahu bahwa materi ini beredar di buku anak sekolahan, orang tua sendiri mungkin tidak pernah peduli isi buku pendidikan anak-anaknya, sehingga baru sekarang terbuka kasusnya, padahal ada berapa ratus eksemplar di luar sana. Mungkin kebobolan ini juga - jika masyarakat mau jujur - adalah akibat penyerahan sepenuhnya si anak untuk menjadi tanggung jawab sekolah mendidiknya, ya akui saja kadang ketakacuhan orang tua itu seperti inilah dampaknya. Namun tentu saja pelbagai instasi terkait tidak dapat lepas tangan juga akan kasus ini.

Hal lain juga, orang berpendapat bahwa materi ini tidak sesuai dengan pendidikan anak-anak. Ada yang berpendapat ini adalah masalah orang dewasa, lha bukannya pendidikan itu sewajarnya mendewasakan anak?

Kukira suatu saat anak akan belajar tentang yang namanya "istri simpanan", dan Anda mungkin menyesal jika bukan Anda yang memberi penjelasan pada si anak tentang itu.

Pun demikian, aku tetap setuju, bahwa materi ini sebaiknya tidak dituangkan terlalu dini pada anak-anak yang belum cukup dapat memahinya. Lagi pula untuk memahami sisi "gelap" kehidupan, ada baiknya dengan mengenalkannya pada "terang". Tidak semua anak dapat mencerna "gelap"-nya kehidupan dengan bijak, karenanya-lah mereka memerlukan bimbingan.

Mengajari anak tentang saling menyayangi dan nilai kesetiaan serta kebersamaan, maka suatu saat jika si anak bertemu dengan topik "istri simpanan", maka diharapkan dia akan cukup bisa memahami itu sebagai sesuatu yang tidak sepatutnya menjadi pilihan baginya.

Dan orang tua mesti tetap tidak melepas tanggung jawab pendidikan anak pada pihak lain begitu saja. Seyogyanya yang namanya orang itu - ya - mengayomi. Masih ada banyak tantangan di luar sana, termasuk konten hiburan yang kadang tidak memberikan nilai pendidikan positif pada anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar