Jumat, 20 April 2012

Karena Kita Tak Ingin Sendiri

20042011 one man and his dog by kierentc
20042011 one man and his dog, a photo by kierentc on Flickr.

Kurasa manusia itu sederhana, menyambung kebersamaan - karena ia tak ingin berada sendiri. Bukannya manusia tak bisa hidup sendiri, kita mendengar banyak kisah bahwa orang bisa bertahan hidup seorang diri.

Namun yang hakiki adalah keinginan untuk selalu bersama. Sesuatu yang melindungi manusia tetap bertahan hidup dan berkembang dalam peradaban seperti saat ini.

Pun demikian, tak jarang kita temukan, bahwa manusia bisa membuat kotak, sekat, pemisahan - karena ia juga tak ingin kehilangan rasa amannya akan kebersamaan yang dalam pandangannya adalah yang paling baik. Cemburu, emosi, pertengkaran hingga peperangan adalah hasil dari semua itu.

Kita mungkin sederhana - tak ingin berada sendiri. Namun dari sinilah kompleksitas kehidupan seorang anak manusia dimulai.

Rabu, 18 April 2012

Mata-Mata di Tubuh Demokrat

Kadang saya merasa ada kelucuan tersendiri mendengar berita dan perbincangan berita pagi ini. Karena pidato (sindiran?) Pak Presiden yang tertutup di antara petinggi Partai Demokrat tersebar ke luar oleh sebuah rekaman misterius.

Yang menjadi masalah tentu karena - katanya - isinya adalah sindiran terhadap partai lain. Saya sendiri tidak tahu pasti karena tidak pernah mendengar rekaman itu, dan memang tidak tertarik.

Namun kadang ya itu, lucu mendengar jika ada wacana bahwa pihak media menyusupkan mata-mata ke tengah tubuh partai untuk mendapatkan rekaman ini. Atau sebaliknya.

Ah, dunia ini memang tidak aman, pintu dan dinding pun punya mata dan telinga.

Senin, 16 April 2012

Pendidikan itu untuk Kehidupan

Hari ini pelajar kita mulai menghadapi ujian nasional. Hanya saja saya masih sedih mendengar bahwa masih ada upaya mencari kunci jawaban, membocorkan soal - bahkan hingga rentetannya berupa rasa tidak percaya dan pemeriksaan lokasi ujian agar bebas ponsel - termasuk dengan mengerahkan petugas keamanan.

Saya mungkin mesti mengakui, bahwasanya, ujian itu tidaklah mudah, tidak jarang membuat kepala terasa berdenyut nyeri.

Namun jauh daripada itu, orang-orang tampaknya mulai menggeser bahwa pendidikan sebenarnya ditujukan bagi kehidupan secara luas, menjadikan seseorang terdidik sehingga dapat hidup sebagai manusia seutuhnya.

Pendidikan bukanlah tentang menciptakan nilai-nilai tinggi, jawara-jawara hebat, atau lulusan-lulusan yang diterima di jenjang bergengsi berikutnya. Karena pada akhirnya, semua itu akan terjadi dengan sendirinya sebagai buah dari proses pendidikan yang baik.

Pun jika itu tidak terjadi, kita tidak dapat memaksanya terjadi. Atau kita akan mulai menciptakan kepalsuan, nilai-nilai palsu, lulusan-lulusan palsu, dan gelar-gelar palsu. Dan pada akhirnya kita menciptakan masyarakat dan negara yang palsu yang mulai berteriak kebenaran akan pembenaran hal-hal yang dibiasakannya, korupsi, cauvinisme, nepotisme, dan sebagainya yang menjadi roda iblis di bumi pertiwi.

Pendidikan itu untuk kehidupan, dan saya tidak tahu, seberapa banyak dari kita yang masih dapat tersenyum bahagia melihat mereka yang giat menempa ilmu - bukan hanya untuk nilai dan gelar semata.

Jumat, 13 April 2012

Istri Simpanan untuk Anak SD

Don't Piss Me Off! by Extra Medium
Don't Piss Me Off!, a photo by Extra Medium on Flickr.

Aku agak tersenyum (mungkin sedikit sinis) mendengar berita marak tentang buku "Lembar Kerja Siswa" Sekolah Dasar yang berisi materi bertajuk istri simpanan - atau sesuatu seperti itu dalam cerita "Bang Maman dari Kali Pasir".

Dari berita juga kutahu bahwa banyak yang protes tentang hal ini, kenapa bisa diloloskan pada buku SD.

Namun aneh juga, selain pengawas tidak tahu menahu bahwa materi ini beredar di buku anak sekolahan, orang tua sendiri mungkin tidak pernah peduli isi buku pendidikan anak-anaknya, sehingga baru sekarang terbuka kasusnya, padahal ada berapa ratus eksemplar di luar sana. Mungkin kebobolan ini juga - jika masyarakat mau jujur - adalah akibat penyerahan sepenuhnya si anak untuk menjadi tanggung jawab sekolah mendidiknya, ya akui saja kadang ketakacuhan orang tua itu seperti inilah dampaknya. Namun tentu saja pelbagai instasi terkait tidak dapat lepas tangan juga akan kasus ini.

Hal lain juga, orang berpendapat bahwa materi ini tidak sesuai dengan pendidikan anak-anak. Ada yang berpendapat ini adalah masalah orang dewasa, lha bukannya pendidikan itu sewajarnya mendewasakan anak?

Kukira suatu saat anak akan belajar tentang yang namanya "istri simpanan", dan Anda mungkin menyesal jika bukan Anda yang memberi penjelasan pada si anak tentang itu.

Pun demikian, aku tetap setuju, bahwa materi ini sebaiknya tidak dituangkan terlalu dini pada anak-anak yang belum cukup dapat memahinya. Lagi pula untuk memahami sisi "gelap" kehidupan, ada baiknya dengan mengenalkannya pada "terang". Tidak semua anak dapat mencerna "gelap"-nya kehidupan dengan bijak, karenanya-lah mereka memerlukan bimbingan.

Mengajari anak tentang saling menyayangi dan nilai kesetiaan serta kebersamaan, maka suatu saat jika si anak bertemu dengan topik "istri simpanan", maka diharapkan dia akan cukup bisa memahami itu sebagai sesuatu yang tidak sepatutnya menjadi pilihan baginya.

Dan orang tua mesti tetap tidak melepas tanggung jawab pendidikan anak pada pihak lain begitu saja. Seyogyanya yang namanya orang itu - ya - mengayomi. Masih ada banyak tantangan di luar sana, termasuk konten hiburan yang kadang tidak memberikan nilai pendidikan positif pada anak.

Kamis, 12 April 2012

Jangan Menindas yang Lemah



Inilah mengapa kita selalu diingatkan untuk tidak menindas yang lemah. Bukan karena suatu saat penindasan itu akan berbalik pada kita. Namun kadang hal-hal itu hanyalah kekonyolan belaka.

Senin, 09 April 2012

Tidak Selamanya Bisa Jadi Primadona

Malam ini sebuah berita yang kutonton menyatakan bahwa wisata Bali (khususnya) terancam oleh wisata di Thailand - negera tetangga kita, terutama karena banyak wisatawan dari negeri kangguru yang kini tidak memilih Bali lagi sebagai primadonanya.

Yah, tidak selamanya sesuatu bisa menjadi primadona, meski sesuatu itu masih memiliki sesuatu yang masih dicari.

Namun memang, seperti yang dikutip di berita tersebut. Kenyataan kemacetan lalu lintas di area wisata memang tidak pernah menyamankan siapapun. Jika tuan rumah sendiri sudah banyak mengeluh, apalagi wisatawan.

Bali terkenal karena senimannya yang menghasilkan banyak karya luar biasa, sekarang mungkin lebih banyak pebisnis seni daripada seniman - entahlah. Bali dulu terkenal karena pemandangan alamnya yang memesona, namun sekarang alam indah dicaplok oleh desakan aas nama kepadatan penduduk - entahlah.

Mungkin memang tidak selamanya bisa jadi primadona.

Nelayan dan Musim Melaut

Sekitar seminggu yang lalu, aku sempat mendengar celoteh seorang nelayan tua - usianya mungkin sudah 60-an tahun - tentang sulitnya mendapat ikan saat ini.

Bukan karena cuaca yang makin menggila, namun laut tampaknya sudah tidak menyediakan kelimpahan sumber daya selayaknya semasa ia kecil dan remaja dulu.

Nelayan dari desa nelayan di Selatan Bali ini mengeluhkan nelayan pendatang dari pulau-pulau seberang yang melaut - menangkap ikan - tanpa menggunakan penanggalan.

Mengapa? Yah, kehidupan di Bali secara tradisional masih menggunakan penanggalan untuk mencari hari baik melakukan sesuatu, misalnya perjalanan, ataupun untuk pergi melaut bagi nelayan.

Penanggalan membuat nelayan hanya melaut pada waktu tertentu sesuai dengan kebijaksanaan kuno. Ini juga bermanfaat bagi lautan untuk memberi waktu hening dari aktivitas manusia yang menguras sumber dayanya, bagi laut untuk memperbarui kekayaannya sehingga bisa digunakan lagi oleh manusia.

Namun nelayan pendatang tampaknya tidak mengenal waktu dan penanggalan. Mereka melaut setiap saat, menguras isi lautan di Selatan Bali. Tentu saja ini juga membuat nelayan lokal mesti juga bersaing, jika tidak, bagaimana mereka bisa menghidupi keluarga mereka jika tidak ikut menjaring isi lautan setiap saat.

Kadang aku berpikir, kita tidak lagi bersahabat dengan alam. Dan jika suatu saat alam tidak menyediakan apa-apa kecuali sejumlah bencana, mungkin kita telah kehilangan tempat untuk mengeluh padanya.

Sabtu, 07 April 2012

Apa Alih Bahasanya Menu Dropdown?

Blue - Dropped Down by Anas Ahmad
Blue - Dropped Down, a photo by Anas Ahmad on Flickr.

Aku lagi bingung menerjemahkan sebuah kata dalam sistem antarmuka komputer, yaitu "drop down". Ya ini bisa jadi sebuah daftar dalam tampilan menu yang memilih dengan klik dan memperlihatkan menunya dalam kotak kecil menurun.

Rekan-rekan di milis bahtera menyarankan menggunakan "menu tarik menurun". Ah..., rasanya agak aneh, meski banyak orang yang suka.

Saya sendiri memilih tergantung konteksnya...

Dropdown Menu = Pilihan Gulir Menurun
Dropdown List = Daftar Pilihan Menurun

Nah, terserah saja, bahasa kan kembali pada kenyamanan penggunanya. Ah, kapan ya Balai Bahasa akan membuatkan istilah yang baku.

Selasa, 03 April 2012

BBM Naik, Jadi atau Ndak?

Setidaknya pemerintah kita bilang bahwa kenaikan BBM ditunda, manuver politik juga begitu, ndak ada jelasnya.

Satu yang masih jelas adalah keresahan rakyat akan beban BBM masih tetap tak terhindarkan.

Kecuali negeri ini sudah berkeadilan sosial, dengan pendapatan perkapita yang tinggi. Boleh-lah subsidi dicabut, naikkan harga BBM juga ndak apa-apa, asal keuntungan yang didapat negara untuk semua itu kembali ke rakyat.

Senin, 02 April 2012

Jangan Batasi Hati

Orang bilang jangan kita membatasi hati, karena kita tak akan pernah menyentuh kehidupan.

Namun kadang kehidupan memukul kita dengan sedemikian kerasnya, sehingga kita membuat sebuah pagar yang tak lekang oleh waktu untuk melindungi satu-satunya hati kita.

Dan dari sanalah kita terpisah dari kehidupan itu sendiri.

Minggu, 01 April 2012

Selalu Menatapmu

Random Sunflowers by Aaron_Bennett
Random Sunflowers, a photo by Aaron_Bennett on Flickr.

Kata-kata itu sebenarnya cukup sederhana, "aku selalu menatapmu", hanya saja entah kenapa sulit diungkapkan. Lagi pula kadang aku juga bertanya-tanya, apa iya mesti diungkapkan.

Bagaimana perasaan orang yang menerima ungkapan seperti itu? Ah, entahlah. Setidaknya mungkin karena aku tak pernah menerima langsung setangkai atau beberapa tangkai bunga matahari untuk merasakannya.

Sudah jamak diketahui bahwa bunga matahari digunakan untuk membahasakan "aku selalu menatapmu". Meski harfiahnya mungkin lebih pas "aku selalu memandangmu", namun karena memandang dapat memiliki makna ganda, jadi menatap akan lebih pas.

Ha ha..., sayangnya dia pecinta mawar putih, jika tidak pasti sudah kuberikan bunga matahari, ataupun mungkin kwaci ya?

Mata Itu Bisa Menipu?

Flying saucer? by macropoulos
Flying saucer?, a photo by macropoulos on Flickr.

Banyak teman-temanku bilang mata itu bisa menipu, lha bahkan kadang ditambah suara itu bisa menipu, kemudian juga ada paras muka itu bisa menipu. Tapi menurutku sih karena ya memang kita saja yang mudah tertipu, mau bilang apapun juga kita adalah mahluk berahlak yang memiliki kemampuan guna mempercayai (baca: bisa ditipu).

Nah kembali ke mata bisa menipu. Sebenarnya kurasa kecuali mata kita memang memiliki gangguan (baik aksial dan transversal seperti yang kualami), maka mata akan melihat apa adanya.

Yang kadang membuatnya berbeda adalah kacamata yang kita gunakan untuk melihat. Langit biru dengan kacamata merah akan menghasilkan langit yang lebih gelap dan mengerikan.

Kacamata pengetahuan akan mempengaruhi apa yang dipandang oleh manusia. Dan oleh karena pengetahuan seseorang selalu terbatas, maka apa yang bisa dilihatnya selalulah menjadi terbatas.

Misalnya jika aku tahu bahwa hantu bisa berwujud api yang terbang di malam hari, bisa saja saat melihat cahaya di kejauhan aku sudah berpikir itu hantu, meski bisa jadi obor atau sejenisnya.

Kadang tak salah mungkin jika kupikir kita adalah mahluk yang sering tertipu oleh diri kita sendiri. Karena keterbatasan yang kita miliki. Atau mungkin karena keterbatasan yang sengaja kita usung dan kenakan kemana-mana dengan sedikit kebanggaan atas semua itu.