Senin, 19 Maret 2012

Mimpi untuk Sebuah Akhiran

Sunset at Achill Island by Stefano Viola
Sunset at Achill Island, a photo by Stefano Viola on Flickr.

Setiap orang memiliki sebuah (atau lebih) mimpi untuk mengawali harinya, mengisi kehidupannya, ataupun menemani saat tuanya. Saya yakin tak ada yang ingin mimpi itu merupakan sebuah perjalanan di ladang ranjau, di antara hujan peluru ataupun tiupan mesiu. Tidak juga saya rasa mimpi itu tentang dirinya yang bergelut dengan letih dan lapar.

Mungkin banyak dari kita yang memiliki kebiasaan mengucapkan "semoga bermimpi indah", pada seseorang yang kita kasihi sebelum lelap memeluknya untuk beberapa waktu ke depan di antara gulita yang dingin nan tanpa perasaan.

Dan orang-orang pun juga tampaknya gemar bermimpi sambil membuka kedua matanya lebar-lebar. Dan seperti film tua yang diputar dalam layar lamunan, mimpi ini bisa menjadi begitu melodrama. Kadang jika mimpi tampaknya terlalu sulit dijangkau untuknya, maka dia akan menurunkan standar mimpinya. Kadang kemalangan datang padanya ketika ia mendengar seorang motivator berkata bahwa dia telah salah dengan menurunkan standar mimpinya, bahkan mimpi itu seharusnya diangkat lebih tinggi lagi. Maka kerumitan ini telah menghepaskannya ke mana-mana, antara mimpi yang berpindah dan kehidupan yang berputar.

Saya sendiri tidak terlalu memedulikan hal-hal seperti itu. Bagi saya kesederhanaan adalah segalanya, karena itulah yang paling mahal bagi seseorang yang tak pernah memahami artinya menjadi sederhana, karena saya sendiri masih jauh dari sederhana.

Jika saya menenpuh semua jalan ini hingga tapal batas waktu saya temui. Maka pada akhiran itu saya hanya memimpikan satu hal, kedamaian - seperti saat saya memandang kelembutan senja setiap ia mengakhiri hari saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar