Jumat, 27 Januari 2012

Pindang - Dibuang Sayang

Ketika saya sudah menghabiskan porsi makan siang saya, lauk yang tersisa di atas piring adalah separuh bagian ikan pindang bumbu pedas, yang tentu menggiurkan bagi mereka yang kelaparan. Selama yang saya ingat, kecuali tahu dan tempe, lauk dari daging dan ikan biasanya selalu ada yang tersisa. Mungkin karena saya bukan pengonsumsi produk hewani yang budiman.

Namun begitulah menu sajian yang ada di sebagian besar rumah makan yang saya tahu. Tidak akan ada yang mau membelah ikan pindang kecil menjadi lebih kecil lagi. Jadi disajikan begitu saja dengan utuh (plus bumbu yang lezat tentu saja). Jika kita ingin makan tiga kali sehari dengan lauk yang beragam, maka bagi anak kost seperti saya, mungkin sediaan setara pindang ini bisa dikonsumsi tiga porsi dalam sehari. Jadi anggap saja, saya makan tiga ekor pindang setiap hari.

Padahal biasanya juga, kalau di rumah, satu ekor pindang tidak menjadi satu porsi tapi masih bisa dibagi-bagi lagi. Buat saya, adik, dan kalau ada si kucing atau anjing yang mengibas-ngibaskan ekornya.


Jadi, tiga ekor pindang seharusnya bisa jadi santap sederhana sebuah keluarga kecil dalam satu harinya. Kadang saya bertanya-tanya, apakah kita sebegitu perlunya dengan semua kandungan nutrisinya? Entahlah (paling aman jawabnya ndak tahu saja).

Jadi sering kali saya berpikir, saya sudah mengonsumsi lebih banyak daripada yang wajar bagi saya untuk habiskan. Tapi tentu saja menyisakannya lebih tidak wajar lagi. Karena sedari kecil saya selalu diajarkan untuk tidak menyianyiakan makanan.

Berbeda dengan nasi dan sayur, yang kita bisa takar porsinya di rumah makan prasmanan, lauk sudah mendapat jatahnya tersendiri. Pokoknya ya segitu satu porsinya.

Nah, inilah sebuah buah simalakama di rumah makan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar