Selasa, 31 Januari 2012

Secarik Laporan dan Keprihatinan

Siang ini saya menerima 2 kartu mini kalender tahun baru sebagai tanda terima kasih sudah menjadi bagian dari kampanye donasi Greenpeace selama tahun yang lalu. Saya rasa ada ribuan orang juga yang menerima kalender mini ini.

Tentu saja disertai berita gembira dengan beberapa hasil nyata penyelematan lingkungan. Saya berterima kasih pada mereka yang telah memberi banyak hal pada bumi kita tercinta.

Pun di sisi lain dari semua itu, saya masih selalu prihatin bahwa masih banyak orang yang tidak peduli dengan nasib lingkungan hidup, bahwa bumi yang menyangga kehidupan nan kompleks ini bukan hanya semata milik manusia, apalagi segelintir orang. Kadang justru dari mereka yang hidup melalui hasil alam, justru lupa mengembalikan apa yang seharusnya dijaga keutuhan dan kelestariannya.

Ya, kita sering kali lupa, bahwa sehelai napas kita pun berasal dari kerumitan struktur kehidupan di buni yang saling mengisi satu dan lainnya.

Saya harap, semoga di tahun yang baru ini, semakin banyak orang yang mengembalikan kepeduliannya pada lingkungan hidup - bumi yang menjadi rumah kita.

Jumat, 27 Januari 2012

Pindang - Dibuang Sayang

Ketika saya sudah menghabiskan porsi makan siang saya, lauk yang tersisa di atas piring adalah separuh bagian ikan pindang bumbu pedas, yang tentu menggiurkan bagi mereka yang kelaparan. Selama yang saya ingat, kecuali tahu dan tempe, lauk dari daging dan ikan biasanya selalu ada yang tersisa. Mungkin karena saya bukan pengonsumsi produk hewani yang budiman.

Namun begitulah menu sajian yang ada di sebagian besar rumah makan yang saya tahu. Tidak akan ada yang mau membelah ikan pindang kecil menjadi lebih kecil lagi. Jadi disajikan begitu saja dengan utuh (plus bumbu yang lezat tentu saja). Jika kita ingin makan tiga kali sehari dengan lauk yang beragam, maka bagi anak kost seperti saya, mungkin sediaan setara pindang ini bisa dikonsumsi tiga porsi dalam sehari. Jadi anggap saja, saya makan tiga ekor pindang setiap hari.

Padahal biasanya juga, kalau di rumah, satu ekor pindang tidak menjadi satu porsi tapi masih bisa dibagi-bagi lagi. Buat saya, adik, dan kalau ada si kucing atau anjing yang mengibas-ngibaskan ekornya.

Senin, 16 Januari 2012

Kabur dari Rumah

Mata saya sudah setengah terlelap dan jiwa sudah melayang-layang ke alam lain - ketika suara pesan itu membangunkanku. Satu hal yang sangat jelas bahwa seseorang sedang kabur dari rumahnya, dan entah mengapa itu bisa terjadi.


Sabtu, 14 Januari 2012

Asuransi Cinta

Dan diapun berkata, "saya tidak memerlukan asuransi jiwa, namun yang saya cari asuransi cinta, karena jiwa saya sepenuhnya adalah cinta" #gubrak - mungkin suatu saat dia perlu mengubah bahan dasar jiwanya jika ingin mendapatkan asuransi dan rasa aman. Namun sayangnya, kurasa itupun tak mungkin.

Tidak ada cara mengembalikan cinta yang hilang, jika hilang ya hilang, kurasa itulah mengapa cinta adalah salah satu hal yang tidak bisa diasuransikan, dipastikan, dan yang jelas membuat ia tidak bisa disimpan untuk digunakan di kemudian hari.

Kamis, 12 Januari 2012

Kok Betah Berdendam Ria

Salah satu yang menarik dalam sebuah cerita adalah adanya unsur pendorong protagonist untuk melakukan sesuatu yang menjadi tema utama cerita. Dan salah satunya adalah unsur dendam.

Namun belakangan ini kenapa malah tampaknya dalam serial televisi, sinetron, hingga film layar lebar. Selalu memasukkan unsur dendam. Seakan-akan karena saking jenuhnya konsistensi dendam dalam cerita membuat membuat dendam sebagai sesuatu yang lumrah hadir di kehidupan sehari-hari kita.

Makanya, saya malas menonton sinetron dan hiburan lain yang berbasis dendam, yang bahkan seringkali tidak jelas jalan ceritanya.

Juga prihatin, karena hal-hal ini dikonsumsi oleh anak yang mungkin tidak sedang dalak bimbingan orang dewasa. Saya tidak ingin kita terbiasa dengan dendam, terbiasa dengan senang akan kesusahan orang lain.

Saya tidak ingin kita terbiasa untuk berhenti menjadi manusia. Tapi apa iya kita bisa, jika kita masih betah berdendam ria.

Rabu, 11 Januari 2012

Ulang Tahun ke-17, Indosiar Dihujat Penggemar “Legend of Condor Heroes”

Sore ini saya terbawa kebiasaan liburan tahun baru dengan menyalakan televisi berharap menonton serial Legend of Condor Heroes (Pendekar Pemanah Rajawali) di stasiun televisi Indosiar yang biasanya tayang pukul 18.00 WIB. Namun saya kaget, ternyata yang ada adalah sinetron laga lokal – Tutur Tinular jika tidak salah.

Senin, 09 Januari 2012

Hujan dan Pohon Tumbang

Pohon besar nan rimbun memang menyenangkan jika mampu memberi teduh di sepanjang jalan selama musim kemarau. Tapi jika mereka berubah menjadi benda-benda berjatuhan di musim oenghujan dengan angin kencangnya?

Setidaknya semalam saya dikagetkan dengan sebuah pohon raksasa yang melintang di jalan ketika saya pulang dari acara minun kopi dan di tengah hujan lebat. Untung saja pohon flamboyan itu tidak tumbang ketika saya lewat di bawahnya.

Memang saat musim hujan dengan angin kencang, pohon akan rawan tumbang. Kalau di tengah hutan mungkin tak masalah bagi manusia. Tapi jika di dalam kota tentu saja akan kesulitan. Setidaknya itu yang tercermin dalam diskusi dengan Kepala Dinas Pertamanan DKI Jakarta pada salah satu stasiun televisi swasta pagi ini.

Saya rasa itu memang risiko manual bahwa pohon akan mungkin tumbang saat alam memberikan hujan dan angin. Bahkan orang tua zaman dulu pun akan menunda bepergian saat alam bergulir liar di langit dan di bumi. Tapi sekarang di zaman serba berpacu, kita kadang mengabaikan tarian liar alam dan mencoba menerobos di antaranya, lalu siapa yang mesti disalahkan jika sebuah batang pohon tiba-tiba terbang ke arah kita? Yah, mungkin si nasib yang jadi kambing hitam.

Sebenarnya taman kota dan semua pohonnya adalah tanggung jawab bersama semua warga kota. Jadi sebaiknya, kita menjaganya bersama-sama.

Jumat, 06 Januari 2012

Yang Di Atas dan Di Bawah Gerbong

Tampaknya PT KAI sudah kehabisan akal menasihati para penumpang nekat yang bukannya berada di dalam gerbong namun justru di atasnya saat menggunakan kereta api. Pelbagai peringatan dan pendekatan telah diberikan.

Spanduk juga sudah ditebar, palang koboi hingga halangan kawat berduri juga ada. Bahkan hingga live event untuk mengetuk hati penumpang bahwa tindakan mereka yang memanjat gerbong itu dapat membahayakan nyawanya dan sesama teman seperjuangan pemanjat gerbong tentunya.

Lha, lalu bagaimana yang di dalam gerbong? Amankah? Ah ya, mungkin itu relatif menurut para pejuang itu. Setidaknya tidak jatuh ke rel dengan kepala terpecah yang menjadi risikonya, mungkin cuma terhimpit sesak, stres, pegal dan banyak lainnya.

Jadi intinya di dalam gerbong juga bukan pilihan baik. Setidaknya demikian yang kulihat dari pengakuan seorang pengguna kereta api listrik sejak tahun 70-an.

Jadi mungkin jika PT KAI memang peduli dengan keselamatan penumpangnya. Maka ada baiknya layanan dan sarana angkutan dibenahi, sehingga para pejuang itu bisa berhenti berperang menantang Maut dan duduk tenang di dalam kereta. Lha, semuanya jadi senang kan jika demikian?

Sandal di Meja Hijau

Saya terkesima jika seorang anak kecil yang dalam catatan masih merupakan seorang pelajar diajukan ke meja hijau untuk sebuah tuntutan mencuri sandal. Ah, tapi tidak aneh lagi di negeri yang aneh ini.

Awalnya ada beragam limpahan informasi yang berbeda dari pelbagai pihak, tentunya dari pihak polisi yang kebetulan jadi penuntut, dan pihak si anak yanh jadi tertuntut. Entah mana yang benar dan mana yang tidak. Tentu saja saya tidak dalam kompetensi membenarkan salah satunya. Lha, membiarkan anak masuk ke meja hijau saja sudah tidak benar, apa yang mau diperbenarkan kalau begitu?

Saya kira kasusnya akan membaik, dalam artian ada kejelasan. Eh, ujung-ujungnya malah tidak jelas. Bahkan media pun ikut memperkarakan antara barang bukti yang ada dalam berkas tuntutan dan yang ada di atas meja hijau.

Ah, ini tragedi sandal di meja hijau. Menunjukkan betapa miskinnya bangsa ini akan kecerdasan yang bernurani - terutama mereka yang semestinya jadi teladan rakyat banyak.

Kamis, 05 Januari 2012

Diet untuk Tekanan Darah Tinggi

Penderita tekanan darah tinggi atau hipertensi cukup banyak. Kebanyakan karena pola hidup. Kondisi ini sebenarnya bisa dibantu dengan mengatur diet atau pola makan, menjadi yang lebih sehat untuk menghentikan tekanan darah tinggi.

Konsumsi lebih banyak buah dan sayuran. Jika ingin menambahkan produk susu atau olahannya, pilihlah yang rendah atau bebas lemak. Hal ini juga berarti penderita hipertensi harus mengurangi makanan yang kaya akan lemak jenuh, kolesterol dan lemak total.

Konsumsi lebih banyak biji-bijian, ikan laut, unggas dan kacang-kacangan sebagai sumber protein. Namun kurangi konsumsi daging merah ataupun olahannya, serta kurangi juga makanan manis.

Konsumsi makanan alami yang kaya akan magnesium, potassium dan kalsium. Namun di sisi lain, kurangi makanan yang mengandung sodium (garam) tinggi, cukup konsumsi tidak lebih dari 2/3 sendok the seharinya.

Di luar sana ada banyak panduan tentang diet untuk hipertensi, misalnya DASH (Pendekatan Diet untuk Menanggulangi Hipertensi). Jika dijalankan dengan disiplin, dapat menurunkan tekanan darah secara bermakna dalam dua minggu.

Oposisi di Sepak Bola

Carut marut persebakbolaan nasional membuat banyak orang bingung, bahkan saya sendiri juga bingung. Pengurus PSSI dituduh mengambil langkah yang hanya menguntungkan diri sendiri melalui mengesahkan LPI sebagai liga resmi.

Sedangkan tim-tim lama yang berada di ISL tentu saja tidak mau pindah begitu saja. Karena bagaimana pun keputusan PSSI dinilai sepihak dan merugikan kepentingan banyak pihak lain.

Akhirnya sekarang muncul LPSI yang mendapatkan
banyak dukungan untuk merombak kembali PSSI. Bagaimana tidak, misalnya saja nama PERSIPURA dicoret sebagai wakil di Liga Juara Asia, hanya karena - ya begitulah.

Jadi tidak aneh kalau muncul oposisi di dunia sepak bola. Ya, mau bagaimana lagi coba.

Rabu, 04 Januari 2012

Kenapa Tidak Masuk Terminal

Sebenarnya mungkin sudah sering dibicarakan, atau malah terlalu sering. Tentang angkot yang tidak masuk terminal.

Kemarin siang saya melewati Terminal Batubulan yang terletak di perbatasan Kabupaten Gianyar dan Kota Denpasar. Lalu lintas cukup padat, namun sayangnya diperparah dengan beberapa kendaraan angkot yang seenaknya parkir di luar terminal dan menyesakkan jalan. Saya kira di mana-mana ada situasi serupa.

Apapun motifnya, pola ini tentu tidak tepat jika dibiarkan berlanjut dan akan mengganggu kepentingan umum. Namun entah mengapa sepertinya ada pembiaran terhadap hal-hal seperti ini. Semuanya tak acuh, dan pada akhirnya kenyamanan yang menjadi hak pengguna jalan pun menjadi terengut.

Jadi, mengapa tidak masuk terminal?

Pemda mesti menemukan jawabannya dan memberikan solusinya, sehingga hak pengguna jalan dapat dikembalikan.