Sabtu, 29 Desember 2012

Mengapa Kita (Bisa) Tahu Bumi Bulat



Bahkan ketika saya kecil, saya bertanya-tanya. Bagaimana manusia bisa tahu bahwa bumi ini bulat? Yah, memang ada perbukitan dan pantai, tapi tidakkah kemudian semua itu tampak datar?

Lalu kita mulai diajarkan ilmu bumi, astrofisika di sekolah dasar (yang konon pada kurikulum baru nanti tampaknya tidak akan ada lagi), sehingga saya bernalar dan menyetujui konsep bahwa bumi bulat - dan mulai berpikir betapa bodohnya orang zaman dulu tidak sadar bahwa bumi bulat, padahal beberapa bulan sebelumnya saya masih mempertanyakan bagaimana bumi bisa dikatakan berbentuk bulat.

Berjalan lurus sejauh 10.000 Km kemudian berbelok 90 derajat, lakukan hal yang sama dua kali lagi, maka kita bisa tiba di titik awal di bumi, yang mana itu tidak mungkin dalam bidang datar. Atau  Tiang-tiang kapal yang tampak lebih dulu di kejauhan sebelum kapal tiba. Atau kisah para penjelajah yang selalu pergi ke Barat di lautan bumi, dan tiba dari Timur.

Video di atas mengingatkan (baca: bernostalgia) saya kembali bagaimana ketika di bangku sekolah dasar kita berkenalan dengan logika ini, bahwa bumi bulat, dan mulai mencoba membuktikannya sendiri. Meski karena keterbatasan, tidak semua bisa dibuktikan (dengan mudah).

Jumat, 28 Desember 2012

Karena Sayang, Uang Melayang

at least they're upfront by army.arch
at least they're upfront, a photo by army.arch on Flickr.

Penipuan via telepon, sms, surat (termasuk email), hingga datang dari pintu ke pintu sudah marak, sering diberitakan, berulang-ulang, pelbagai modus operandi. Ajaibnya, hal ini bisa terjadi bekali-kali dengan cara yang sama. Terutama jika sisi lemah si korban menjadi terekspos tanpa perlindungan oleh si pelaku tindak kejahatan ini.

Alkisah beberapa waktu lalu, datang seorang "ayah" ke instalasi triase kami. Dia datang dengan wajah pucat pasi, awalnya kami menduga dia dalam keadaan sakit dan perlu bantuan. Namun langkahnya masih seperti orang sehat. Dia datang ke meja perawat dan bertanya, apakah ada anak "A" yang baru saja masuk ke sini karena kecelakaan dan dalam kondisi kritis.

Dari kata-kata itu saja kami sudah curiga. Dan ketika kami berkata dan meyakinkan anak "A" tidak pernah dibawa ke IGD kami dalam waktu yang dekat ini. Maka si "Ayah" tersebut langsung memastikan, bahwa dirinya baru saja sudah merelakan beberapa juta uangnya dikirim pada seseorang - entah siapa - yang mengatasnamakan rumah sakit dan tenaga medis.

Modus operandinya sederhana, si pelaku akan menelepon korban, menyatakan bahwa anaknya baru mengalami kecelakaan di sekolah dan dalam kondisi kritis di rumah sakit, perlu tindakan medis segera, dan perlu biaya untuk itu sesegera mungkin.

Biaya harus ada dalam kurun waktu tertentu, misalnya 10 menit. Pertama ini tidak akan memberikan kesempatan korban untuk memberikan uang tunai langsung, kecuali ditransfer secara cepat.

Trik mengatasi hal ini sederhana saja. Di manapun rumah sakitnya, pertolongan pertama adalah mandatori, ada atau tidaknya biaya, menyelamatkan nyawa pasien tidak menunggu mereka yang bertanggung jawab atas si pasien. Misalnya jika seorang anak cedera parah, tim medis diberikan wewenang penuh melakukan tindakan medis yang tepat dan cepat, tanpa perlu persetujuan si orang tua (yang mungkin tidak ada di lokasi), dan tanpa perlu menunggu konfirmasi siapa yang akan menanggu biaya tindakan medis dan pengobatan. Justru jika menunda dan menyebatkan catcat atau hilangnya nyawa pasien, tim medis bisa jadi dipersalahkan.

Kami menyadari bahwa orang tua kerap panik, atau jika orang terkasih dikabarkan sedang dalam kondisi darurat di rumah sakit. Namun percayalah, panik itu tidak akan membantu, kecuali bagi orang-orang yang ingin mengambil keuntungan dan niat jahat dari rasa panik Anda.

Percayalah, tim medis akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan pertolongan pertama dan stabiliasi. Namun jika takdir berkata lain, maka tidak ada yang bisa disalahkan.

Rasa sayang boleh, bahkan mesti ada. Namun keawasan nalar tidak boleh pudar. Misalnya kepanikan si "ayah" pada kasus di atas mengaburkan pikiran yang jernih, ia bahkan tidak curiga, tidak menghubungi anak, sekolah atau pihak lain yang berwenang untuk mengonfirmasi kabar tersebut, bahkan tidak juga menghubungi pihak rumah sakit untuk memastikan bahwa berita sumber kepanikannya memang nyata.

Bagi sebagian besar orang, sejumlah besar uang mungkin tidak akan ada artinya untuk menyelamatkan orang yang terkasih. Namun tentunya dengan cara yang tepat dan bijaksana.

Kamis, 27 Desember 2012

Selamat Natal 2012

Untitled by digitalpsam
Untitled, a photo by digitalpsam on Flickr.

Bagi para sahabat yang merayakan, saya ucapkan "Selamat Natal 2012". Sedikit terlambat, mohon maaf, karena saya tidak dapat mengakses blog utama dengan baik untuk menyampaikan ucapan ini secara lansgung.

Pun demikian, saya harap tidak mengurangi maknanya. Sekali lagi, selamat merayakan Natal bersama orang-orang terkasih. Semoga Damai Natal bersama kita senantiasa, dan bersama negeri kita tercinta ini.

Rabu, 26 Desember 2012

Uang Bukan Segalanya

Hmm... Mungkin terdengar begitu klise ketika kita mendengar orang berkata "uang bukan segalanya". Mungkin juga karena kata-kata tersebut telah diulang berkali-kali sejak benda yang bernama uang itu ditemukan - setidaknya demikianlah yang kuduga.

Pun begitu, rasanya di zaman ini tanpa uang manusia pada umumnya tidak bisa berbuat banyak. Nyaris seluruh kebutuhan pokok hidup manusia dan uang ibarat dua sisi koin yang tidak terpisahkan. Termasuk juga untuk pendidikan dan kesehatan.

Kadang aku bertanya-tanya, seberapa tergantungnya manusia modern dengan uang? Wow, mungkin jawaban dari itu sudah menjadi sesuatu yang absolut, yang lagi-lagi juga klise.

Namun jika pertanyaan kemudian digeser, seberapa terikatnya kita pada uang? Maka mungkin jawabannya menjadi relatif. Di sisi inilah kerelatifan yang muncul dari masing-masing individu akan menjadi cerminan kemanusiaan itu sendiri.

Ada orang yang membangun bisnis besar, hotel mewah, waralaba cepat saji, dan banyak lainnya. Keuntungan berlimpah, dan semoga saja masih tetap taat pajak. Ada yang bisnisnya mungkin saking taatnya dengan pajak, ikut-ikutan membantu memajaki orang-orang di sekitarnya melalui pungutan-pungutan liar.

Sehingga ketika aku mendengar ada orang yang berkata, "uang bukan segalanya", itu bukan tentang nilai sekeping atau selembar uang yang notabene telah absolut, namun nilai kemanusiaan kita dalam kekinian yang bisa menjadi begitu relatif. Setidaknya, demikianlah pandanganku.

Jumat, 21 Desember 2012

Perjalanan di Akhir Tahun

Aku menatap jadwal perjalananku di akhir tahun. Beberapa bulan ini semuanya penuh sesak, bernapas saja terasa sulit. Tapi memang tidak bisa dipungkiri, bahwa bagian dari tugas yang menyesakkan itu adalah warna-warni kehidupan.

Terkadang sedikit meluangkan waktu dengan penyegaran suasana mesti hanya sesaat adalah pilihan yang baik menurutku. Sedikit ketenangan bisa membantu mengembalikan kelegaan ke dalam ruang-ruang yang sudah lama sesak oleh kepenatan.

Maka dengan ini aku mengucapkan selamat datang pada akhir tahunku.

Kamis, 20 Desember 2012

Lebih Baik Berjalan atau Berlari jika Kehujanan?



Pernahkah kita berpikir ketika sedang berada di bawah hujan, tanpa payung ataupun jas hujan? Kita akan bertanya-tanya agar tidak terkena lebih banyak air, haruskah kita berjalan pelan sehingga tidak tidak terlalu basah, ataukah kita harus berlari namun dengan konsekuensi kita lebih banyak tersiram hujan dari arah depan?

Kira-kira apa jawaban atau pilihan kita? Berjalan pelan sehingga hanya basah dari atas, atau berlari sekencang-kencangnya mengurangi basah dari atas namun basah juga dari depan?

Video di atas cukup menarik dalam menjelaskan hal ini. Sebenarnya ketika kita bergerak maju (misalnya berjalan atau berlari di bawah hujan dari satu lokasi ke lokasi lainnya), jumlah air yang kita dapatkan dari depan tetap sama tanpa memedulikan kecepatan kita bergerak/berpindah. Namun guyuran air hujan dari arah vertikal akan bertambah banyak, seiring dengan waktu yang dihabiskan untuk berpindah.

Dengan mempertimbangkan hal tersebut, tentu kita sudah tahu apa jawaban yang tepat bukan?

Selasa, 18 Desember 2012

Isu Kepemilikan Senjata

Beberapa waktu yang lalu kita kembali dikejutkan dengan tragedi penembakan membabi buta di sebuah sekolah yang selayaknya menjadi tempat belajar yang nyaman dan aman bagi anak-anak. Dan ini menyinggung kembali isu kepemilikan senjata oleh warga sipil.

Senjata api memang dalam beberapa sisi menjadi lebih mematikan karena keunggulan kepraktisan dan daya jangkaunya. Bisa digunakan dengan mudah jika dan menjadi malapetaka di tangan yang keliru.

Senjata organik yang memiliki kesahan telah lama dapat dimiliki oleh masyarakat umum dengan syarat dan izin tertentu. Sayangnya, jika pemegangan kemudian tidak dilakukan dengan benar bisa menjadi awal bencana. Misalnya anak tahu di mana orang tuanya menyimpan pistol lalu mengambilnya untuk dipamerkan ke sekolahnya. Atau hal-hal lain yang sama sekali tidak kita sangka sebelumnya.

Maka, apapun itu, kepemilikan senjata oleh perseorangan warga sipil akan tetap memberikan potensi bahaya di dalamnya.

Film Samurai-X



Aku tidak begitu suka J-Drama yang diangkat dari komik. Tapi jika diangkat dari komik populer seperti Samurai-X dalam gambaran petualangan Kenshin Himura, mungkin akan sangat menarik. Kapan akan bisa menyaksikan 『るろうに剣心』予告編 ya?

Sabtu, 08 Desember 2012

Naik Bus Ekonomi AKAP itu... (?)

Bus DAMRI by * miQ
Bus DAMRI, a photo by * miQ on Flickr.

Gambar di atas tentu saja tidak mewakili kondisi bus yang sebenarnya yang saya naiki, setidaknya yang di atas itu tampak jauh lebih menawan. Percayalah!

Saya mencoba menaiki bus AKAP (antar kota antar provinsi) dari Genteng (Jawa Barat) ke Terminal Mengwi (Bali), dan sebaliknya. Iseng menjadi wisatawan domestik, merasakan orang-orang yang konon backpacker-an. Jadi asal stop bus dan kemudian cabut.

Bagi yang sudah sering naik angkutan umum mungkin tidak kaget, tapi apa yang saya temui sungguh mengagetkan. Setidaknya membuat saya akan mempertimbangkan kembali mode transportasi ini.

Alasan pertama, sopir yang ugal-ugalan, tidak disiplin dalam berlalu lintas. Hal ini malah seringkali dianggap wajar bagi yang kejar setoran, dan penumpang pun tampaknya enggan mengeluh asal selamat tiba di tujuan.

Alasan kedua, kondisi kendaraan tidak memenuhi standar keselamatan. Belum satu kilometer keluar dari terminal, bus saya tumpangi sudah mengeluarkan asap dari kap bawah kemudinya. Entah bagian apa yang konslet, tapi asap tebal membuat semua penumpang berlarian dan loncat keluar, kecuali saya yang cukup cuek.

Alasan ketiga, kesehatan tidak terjamin. Asap rokok mengepul di mana-mana di bus yang tidak ber-AC ini. Saya tidak menyalahkan mereka yang perokok, tapi saya kutuk mereka yang tidak bernurani, bahkan dengan santai menghembuskan asap rokok yang asapnya berbutar-putar di sekitar seorang ibu yang menggendong bayi kecilnya.

Tidak memiliki etos kerja mungkin adalah alasan terakhir yang cukup kuat. Bayangkan saja, bus berhenti seenaknya, dengan pengemudi dan kernet kemudian turun dan merokok di kedai kecil, dan meninggalkan penumpang di bus yang kebingungan. Kebingungan yang dihibur dengan pengamen yang naik silih berganti setelah (mungkin) "permisi" dengan si sopir, ditambah hiburan puluhan kecoak yang merayap di lantai hingga kursi bus.

Dalam hati saya berkata, kualitas transportasi mencerminkan kualitas mental bangsa ini, mau salahkan siapa coba. Jangan kemudian diprotes bahwa mereka yang lebih mampu memilih kendaraan pribadi yang lebih hemat dan higienis, bersih, dibandingkan angkutan umum yang dalam banyak sisi mengancam kesehatan hingga nyawa.

Jumat, 12 Oktober 2012

Bagaimana Kita Bisa Melihat Cahaya?



Beberapa hari belakangan ini, berita sains di media lokal dilengkapi dengan sejumlah kisah dari pemenang nobel sains tahun ini. Terutama Serge Haroche and David Wineland yang memberikan sumbangsih untuk bidang fisika kuantum.

Pertanyaan sederha yang mungkin selalu menjadi pertanyaan sejak dahulu, adalah bagaimana kita melihat cahaya. Karena jika kita melihat cahaya, berarti cahaya itu "tersentuh" oleh kita (mata) dan hancur (terserap) dan hilang. Lalu bagaimana kita melihat cahaya tanpa menghancurkannya?

Maka sedikit cuplikan "Quantum Cat-ception" yang menarik dari video di atas bisa menjadi penjelasan sederhana, bagaimana kita bisa "melihat" cahaya.

Minggu, 07 Oktober 2012

Selalu Mengecek Kamar Kecil



Kurasa sudah menjadi kebiasaan kalau saat berkunjung ke acara-acara di lokasi-lokasi baru, aku selalu mengecek keberadaan kamar kecil. Misalnya menghadiri seminar di hotel, maka jalur tercepat ke toilet adalah hal yang wajib ditemukan.

Maklum, jika memiliki saluran pencernaan yang agak rewel, apalagi jika menu jamuannya nanti agak mengejutkan. Ya, siap-siap saja memesan kamar kecil paling dulu, agar tidak mengantre lama.

Jumat, 05 Oktober 2012

Kekurangan Dosis Musik Klasik



Aku tidak tahu apakah tepat menyebutnya sebagai musik klasik, karena tentu saja beberapa instrumental yang kusukai seperti yang berjudul "Titanium / Pavane (Piano/Cello Cover)" - oleh David Guetta / Faure - pada album ThePianoGuys ini bukanlah sesuatu yang klasik sama sekali, bahkan pembuatannya pun menggunakan teknologi dan instrumen modern selain instrumen klasik.

Namun rasanya belakangan ini aku sedang kekurangan dosis musik-musik seperti ini. Sesuatu yang bisa menggugah semangatku untuk tetap menciptakan karya-karyaku juga.

Sayangnya sementara ini keterbatasan dana dan akses membuat sulit mendapatkan karya-karya seperti ini kecuali dari dunia maya.

Apakah kamu juga menyukai musikalitas seperti ini?

Kamis, 04 Oktober 2012

Meretas Yang Bermakna Dari Pendidikan

Pemerintah kembali mencanangkan perubahan kurikulum pendidikan, setidaknya demikian yang saya tangkap dari beberapa media pemberitaan yang samar-samar tiba dalam hari-hari yang sesak oleh kesibukan. Dan saya pun tidak dapat berhenti untuk bertanya-tanya, apa yang sesungguhnya diharapkan oleh dan dari dunia pendidikan kita saat ini?

Sebuah standardisasi yang berlabel Internasional? Ataukah hal-hal lain yang terdengar begitu prestigius. Namun mungkin sesuatu yang lebih sederhana, sebagaimana secuil yang dapat saya tangkap dengan adanya kemungkinan pendidikan kewarganegaraan dimasukkan kembali sebagai kurikulum wajib; yang mungkin merupakan sebuah gambaran tentang kegamangan arah pendidikan yang bertujuan mencetak manusia seperti apa bagi negeri dan sesamanya?

Pendidikan yang mendasar itu mungkin tidak lagi sesederhana yang saya bayangkan. Di mana mengarahkan menuju potensi posifif yang berlimpah merupakan tujuan titik keberangkatan.

Bahkan ketika pemerintah dan para pemikir hendak memangkas jumlah mata pelajaran, tidak serta merta bermakna pelaksana pendidikan akan melakukan hal yang sama di lapangan. Beberapa mungkin memang tidak bisa memenuhi target yang diinginkan karena kurangnya sumber daya yang bisa digerakkan, beberapa yang lain mungkin akan menambahkan banyak lagi karena merasa memiliki peluang untuk itu - apalagi kadang terhembus isu mengenai komersialitas dunia pendidikan.

Di dunia ini tidak ada yang namanya pendidikan murah. Yang termurah dari sebuah pendidikan adalah kesadaran, ya - kesadaran untuk mewujudkan dunia pendidikan yang berkeadilan dan di mana semua orang dapat duduk setara saling bahu membahu menciptakan lingkungan pendidikan yang nyaman dan mampu menyokong generasi penerus bangsa ini. Hanya saja kesadaran itu sendiri yang menjadi yang paling murah murah adalah sesuatu yang sudah begitu mahal, saking mahalnya hingga tidak dapat dibeli dengan uang.

Pendidikan adalah pondasi yang akan membuat bangsa ini menjadi kokoh. Jika tidak jelas arah dan tujuannya, maka implementasinya akan menjadi acak-acakan, dan jika tidak muncul sebuah kesadaran global akan pentingnya pendidikan, maka tidak ada yang cukup bermakna yang dapat dipetik darinya.

Senin, 06 Agustus 2012

Bergesernya Patrap Triloka Pendidikan

Saya tidak tahu berapa banyak di antara kita yang mengingat warisan Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang selayaknya memberikan teladan di depan (Ing Ngraso Sung Tolodo), membangun pemahaman di tengah-tengah (Ing Madyo Mangun Karso) dan memberikan dorongan sepenuh hati dari belakang (Tut Wuri Handayani).

Sekarang banyak yang berdiri di depan, merasa berilmu dan sok pintar, justru menjadi sumbat mengalirnya pendidikan. Berada di tengah dan takut tersaingi, sehingga saling menjegal. Atau pun dibelakang hanya menjadi pemanas suasana yang sisanya tidak begitu peduli, yang penting bisnis tetap berjalan.

Saya tidak skeptis terhadap pendidikan di negeri ini. Namun saya juga tidak berani menaruh harapan besar dengan semua sistem yang berjalan saat ini.

Banyak pendidik yang memberikan waktu dan tenaganya untuk menyiapkan benih-benih masa depan negeri ini, sehingga bisa menyokong kehidupan berbangsa dan bernegara yang kokoh dan sinergis. Namun tidak sedikit pula upaya komersialisasi dunia pendidikan yang seakan menjadi tirani penghalang tersentuh pendidikan yang setara bagi segenap lapisan masyarakat kita.

Saya rasa tiap-tiap dari kita haruslah dapat mengambil sikap, komitmen atau apapun itu. Bahwa pendidikan adalah menjadi tanggung jawab segenap rakyat Indonesia, bukan hanya pemerintah atau kelompok tertentu.

Mengembalikan Patrap Triloka Pendidikan pada tempat selayaknya. Dan marilah berharap agar pendidikan kembali menjadi lentera pandu bagi perjalanan ke masa depan negeri ini.

Kamis, 02 Agustus 2012

Kehidupan Itu Berliku Dan Menanjak

Branch at the top by Katarina 2353
Branch at the top, a photo by Katarina 2353 on Flickr.

Entah berapa orang yang saya temui, namun kebanyakan orang memandang kehidupan itu berliku dan menanjak. Beberapa orang mungkin tampak meroket ke angkasa, namun apa yang mereka sampaikan tetap saja menunjukkan perjuangan yang berliku dan menanjak.

Tidak ada seorang pun yang ingin memberikan kisah yang meremahkan kehidupan. Namun tidak berarti semua orang setuju bahwa kehidupan itu "terlalu" kompleks. Penghargaan akan kehidupan adalah sebuah anugerah tersendiri.

Kadang kita mungkin menemukan jalan yang bercabang justru ketika pikir bahwa langkah di tikungan berikutnya adalah sang puncak.

Namun siapa yang akan tahu?

Mungkin di sana ada turunan yang meneduhkan hati, di mana sungai dengan jernih mengalir, dan setiap hati akan dinyanyikan kidung kedamaian.

Senin, 30 Juli 2012

Puasa Televisi

Private eYe by donmimi83 ( away )
Private eYe, a photo by donmimi83 ( away ) on Flickr.

Beberapa waktu belakangan ini, di tempat sementara, saya menjalani puasa televisi - karena memang tidak tersedia televisi untuk sendiri. Bisa sih nonton di kamar sebelah, tapi rasanya agak enggan juga.

Namun sudah cukup lama saya mengingatnya kembali, bahwa saya tidak lagi sedemikian tertarik duduk di depan televisi untuk menikmati acara-acaranya. Kecuali mungkin acara berita atau dokumenter. Kadang mungkin acara spektakuler seperti piala dunia akan menyita perhatian saya, namun di luar itu, saya bisa mengingat nyaris tidak ada acara yang terlalu menarik.

Acara lokal-pun tidak begitu menarik. Berita lokal juga tidak menarik. Atau mungkin saya sudah kehilangan ketertarikan dengan apa yang dijajakan oleh moderninasi media televisi?

Jika acara di televisi tidak lagi cerdas dalam mendidik, menghibur dan mengampanyekan informasi positif, maka saya tidak lagi tertarik. Ataukah memang standar acara televisi saya terlalu tinggi?

Sehingga, daripada dibilang puasa menahan keinginan menonton televisi, mungkin saya agak sedikit lega tidak ada televisi di sekitar saya.

Sabtu, 28 Juli 2012

Tanpa Lebah Tiada Madu



Kata orang, di mana lebah berkumpul, di sekitar sana niscaya ada madu. Tapi siapakah konsumen madu terbesar di dunia? Ah, mungkin salah satunya adalah kita sendiri, manusia, (sebelum merujuk pada beberapa tokoh beruang di film anak-anak).

Dan mungkin memang bisa dikatakan, tanpa lebah, maka tiada akan ada madu. Namun, apa yang sudah kita berikan pada lebah selama ini?

Higgs Boson: Bagaimana Menemukan Sebuah Partikel?



Sebenarnya mungkin kata "menemukan" itu sendiri kurang tepat, karena secara teoritis sesuatu itu semestinya sudah ada, dan yang kurang adalah pembuktian fakta ilmiahnya.

Hanya saja proses pembuktian ilmiah ini yang sulit, karena kita, atau tepatnya para ilmuwan bekerja dengan apanya yang namanya prinsip probalitas. Misalnya, kita tahu dadu itu ada 6 sisi, dan kita bertanya untuk membuktikan bahwa ada sisi dadu yang berangka 3, bagaimana caranya? Ya, gampang saja, tinggal lempar dadu, dan lihat apakah dia memunculkan angka 3.

Kasus dadu mungkin sangat sederhana, karena kita bisa mudah menemukan dadu bermata 3 bukan, hanya dengan beberapa kali percobaan. Dan jika kurang beruntung, mungkin lebih banyak lagi kita perlu melemparnya (dengan asumsi, kita tidak bisa menyentuhnya dengan tangan, dan mengamatinya). Semua itu ada dalam perhitungan matematika probabilitas.

Namun menemukan bukti ilmiah keberadaan partikel seperti Higgs Boson tentu memiliki tingkat kesulitan yang berbeda, meski dalam prinsip dasarnya sama. Probabilitasnya mungkin satu di antara triliunan tumbukan yang tercipta di dalam HLC, dan menghasilkan jejas Higgs Boson yang menjadi bukti ilmiah keberadaan medan Higgs.

Pencarian Google melalui Tulisan Tangan



Saya rasa beberapa orang mungkin menemukan tulisan tangan lebih menarik dan membantu di sejumlah kesempatan saat menelusuri pencarian via Google. Dan fitur ini kini sudah dilengkapi pada ponsel cerdas berbasis Android. Memudahkan kita ketika mengetik tidak bisa dilakukan.

Informasi lebih lengkap di g.co/handwrite

Kamis, 26 Juli 2012

Pratampil Ubuntu 12.10 Quantel Quetzal



Sebentar lagi Ubuntu 12.10 akan dirilis, sebuah distribusi Linux untuk desktop yang cukup populer saat ini. Saya rasa Ubuntu sedikit demi sedikit mematangkan diri dengan Unity-nya. Dan rasanya pengguna pemula pun tidak akan pernah kesulitan menggunakan Ubuntu.

Video di atas adalah sekilas tentang bagaimana Ubuntu baru nantinya akan hadir.

Tertawalah Sebelum Tertawa Itu Dilarang



Saya kira itu adalah ungkapan lama dari sebuah kelompok lawak tempo dulu. Namun memang konon di era kebebasan seperti saat ini, bahkan tertawa itu mahal. Entah kenapa ada yang bilang demikian, mungkin karena akses pada "tawa" hanya dimiliki oleh orang-orang berduit, ah, entahlah. Namun saya sepakat pada ungkapan lawas tersebut, kita tidak akan tahu kapan kita tidak dapat lagi tertawa dengan bebas, jadi jika memang dapat sekarang, mengapa tidak?

Rabu, 25 Juli 2012

Seharusnya Tidak Dibuat Seperti ini



Saya mungkin bukan penggemar film animasi pendidikan anak Dora the Explorer yang dulu sering tayang di televisi. Namun saya rasa jika ada yang membuat versi teatrikalnya, semestinya tidak dibuat seperti ini.

Akhir Lain dari Kisah Harry Potter



Beberapa orang mungkin memaksakan akhir yang lain dari kisah Harry Potter, namun mungkin itu akan menyebabkan semua buku bagus itu tidak akan pernah terbit.

Senin, 23 Juli 2012

Pamer itu Ndak Bagus



Jadi teringat kalau orang tua dulu sering bilang, bahwa ndak bagus kalau kita suka pamer pada orang lain. Tapi yang namanya ego, entah kenapa selalu bisa menang dengan mudah, betul ndak?

Orang bilang dalam sindiran perempuaan, "rumput tetangga lebih hijau dibandingkan rumput sendiri". Kadang apa yang dimiliki dan dapat dilakukan oleh orang lain, membuat kita turut ingin memiliki atau dapat melakukannya juga, bahkan kalau bisa dengan sesuatu yang menurut kita jauh lebih bagus, menarik, eksotis dan segala macam titel lainnya.

Sebenarnya mungkin, meski katanya termasuk salah satu daru tujuh dosa, cemburu itu adalah tetap saja bumbu kehidupan. Jika manusia tidak bisa cemburu, maka peradabannya tidak akan maju. Jika kita tidak ingin membuat negara kita menjadi lebih baik dari negara lain, maka kita akan tetap terpuruk selamanya.

Hanya saja masalahnya, upaya dan hasil itu mestilah sesuatu yang konkrit atau nyata. Jangan bilang kita bisa pamer sesuatu yang megah, tapi ujung-ujungnya berasal dari hutang dan sebagian besar anggarannya hilang digelapkan.

Kesadaran menjadi lebih baik dari orang lain adalah suatu bentuk motivisi yang paling positif, meskipun saya tidak pernah suka dengan ide motivasi (apalagi dengan yang namanya motivator). Hanya saja jangan pamer, tampilkan apa yang ada, sehingga kita bisa objektif, sejauh apa yang telah bisa kita lakukan dan sejauh apa masih terbentang jarak dengan mimpi kita.

P.S: video di atas cuma hiburan semata.

Bagaimana Tata Surya Bisa Bertahan?



Anda penasaran bagaimana tata surya bisa terbentuk dan tetap ada? Ah, mungkin ada saatnya membuka buku fisika zaman sekolahan. Mengenai adanya tata surya, kita bisa menemukan banyak hipotesis, mulai dari Nebula hingga Bintang Kembar.

Namun bagaimana tata surya dapat bertahan? Nah, itu kembali juga pada pelajaran gaya sentripetal dan sentrifugal (termasuk gravitasi) yang ada pada ruang tiga dimensi (3D). Nah, tertarik kembali membuka buku fisika alam raya?

Sabtu, 21 Juli 2012

Lha, Mengukur Jarak kan bisa Dengan Waktu



Alat ukur dan satuannya itu tidaklah absolut. Misalnya kita dapat mengukur jarak dengan waktu, dan waktu dengan jarak, karena waktu lahir dari adanya jarak.

Tidak Ada yang Namanya Dimensi ke-4



Sudut pandang kita kadang lucu tentang fisika dan alam sekitar, namun konsep itu sebenarnya ada di antara tiada. Letakkan saja ke dalam gelas besar air dari tiga cangkir kecil, lalu kita bertanya, mana air cangkir pertama, dan mana yang kedua? Dimensi seperti itu, mana dimensi pertama, dan mana dimensi kedua - dan seterusnya.

Sebenarnya, apa sih open source itu?



Pada dasarnya, ide sumber terbuka (open source) merupakan sebuah paradigma di mana peranti lunak mestinya dapat digunakan secara bebas, dipelajari secara bebas, diubah secara bebas dan dibagikan secara bebas. Tanpa terikat dengan kepentingan bisnis ataupun politik. Open Source adalah paradigma kebebasan pengembangan kode-kode yang mendukung teknologi kita.

Rabu, 18 Juli 2012

The Dark Knight Rises



Jadi, siapa yang akan menonton film ini di bioskop 2 hari lagi? Ah, ingin duduk di kursi yang nyaman, tapi biasanya tiket sudah dihabiskan oleh pelanggan M-TIX untuk kursi-kursi tersebut.

Kegalauan Rutinitas

Pencil Vs Camera - 64 by Ben Heine
Pencil Vs Camera - 64, a photo by Ben Heine on Flickr.

Kita sering sekali terjebak rutinitas, dan entah mengapa rasanya sesekali ingin sekali kabur dari semua rutinitas - karena tidak dapat disangkal lagi, manusia bisa mendapatkan betapa ia telah begitu jenuh dengan segala sesuatu yang ia temukan dalam kesehariannya.

Karena kadang kita melihat, betapa konyolnya diri kita terjebak dalam rutinitas yang sama setiap waktunya. Namun lebih sering kita menemukan diri kita tidak berdaya menghadapi belenggu rutinitas, seakan-akan daya kita sebagai mahluk yang berbudi dan berdaya ini tidak mampu berbuat apa-apa.

Nah, mungkin kita akan kembali pada pilihan "lari atau hadapi". Tidak ada yang memiliki jawaban absolut untuk kegalauan yang diakibatkan oleh rutinitas.

Rabu, 11 Juli 2012

Mencuri Hari Baik



Sebenarnya kehidupan itu sederhana, jika mengambil hari baik dari orang lain, maka kita juga harus bersiap jika hari baik kita akan tercuri. Mungkin tidak terjadi secara instan, namun setidaknya bersiap saja :D.

Ice Age Continental Drift...



Jika dunia berakhir pada Desember 2012 ini, salahkanlah tupai itu! :D.

Sabtu, 07 Juli 2012

Dunia Pararel



Pernah bermimpi memasuki dunia pararel? Alam semesta dengan sejumlah dimensi yang mungkin tidak semua dari kita pernah memasukinya. Kadang ide-ide begitu memukau, hanya saja jika tidak menemukan sendiri, rasanya sayang juga. Tapi disuruh ke sana pun kalau bisa mungkin akan enggan juga.

Mengenal si Higgs Boson



Jika Anda ingin tahu tentang "mengapa" kita mencari Higgs Boson, dan apa yang mungkin diberikan? Maka video di atas mungkin sedikit dapat memberi pencerahan.

Jumat, 06 Juli 2012

Lawakan Cerdas

Charlie Chaplin by Truus, Bob & Jan too!
Charlie Chaplin, a photo by Truus, Bob & Jan too! on Flickr.

Beberapa waktu yang lalu banyak berita tentang KPI yang meminta salah satu stasiun acara televisi swasta menghentikan acara bernuansa komedinya, karena materi yang disajikan dan mungkin lawakannya terasa "kurang sehat", bahkan membuat sejumlah pihak tersinggung.

Memang tidak ada larangan ada banyolan yang bersifat menghina dalam lawakan, namun itu pun sepertinya cerdas dan bijak, bahkan satire sastra-pun memiliki unsur menusuk yang cerdas ini.

Saya bukan komedian, juga bukan orang yang humoris, jadi sedikitnya tahu bagaimana sulitnya membuat orang terhibur dengan kekocakan kita.

Menghina itu wajar dalam lawakan, namun diproporsikan dalam menampilkan contoh yang keliru dalam sebuah pertunjukkan, bukan sebagai sesuatu yang diterima sebagai kewajaran dan kemudian dibenarkan penggunaannya secara berulang sebagai komoditas utama unsur hiburan. Dan ini tidaklah cerdas menurut saya.

Saya mungkin keliru, namun saya mengharapkan adanya hiburan yang cerdas di negeri ini yang berkembang, sehingga tidak hanya menjadi penghibur di kala suntuk, namun juga pelita bagi banyak orang.

Senin, 02 Juli 2012

Spanyol Menang dan Mempertahankan Piala Eropa 2012

Fernando Torres by Blog Gallery
Fernando Torres, a photo by Blog Gallery on Flickr.

Ah, saya kelewatan lagi, padahal ingin menonton pertandingan final. Maklum, memang tidak mengikuti sejak awal pertandingan Piala Eropa 2012 (biasanya cuma mengikuti Piala Dunia saja).

Euforia kali ini adalah karena Spanyol (katanya) negara pertama yang berhasil mempertahankan Piala Eropa, dan dua kali gelar King of Europe berturut-turut bukanlah sebuah prestasi yang bisa diremehkan. Apalagi di sela-sela itu, Spanyol juga membawa pulang gelar Piala Dunia. Maka lengkap sudah tiga gelar besar yang bisa direbut oleh sebuah tim sepak bola nasional dibawa ke negeri matador. Saya berandai-andai, kapan ya tim negara kita bisa berjaya juga.

Saya bukan penggemar bola, tapi sepertinya akan menarik jika sempat melihat tayangan ulang atau sorotan saat-saat penting selama pertandingan semalam.

Pasang Surut Keindahan

Pasang Surut Keindahan by Cahya Legawa
Pasang Surut Keindahan, a photo by Cahya Legawa on Flickr.

Keindahan biasanya tidak abadi, karena ia bermula dari rasa dan karsa yang dihasilkan manusia. Segalanya bisa melayu dari kesegarannya, dan tampaknya demikianlah alam berpesan dengan adanya pada mereka yang mencoba mengingkari semua itu.

Selama manusia bernapas, selama itu juga pasang surut keindahan terjadi dalam kehidupannya. Bergerak selayaknya harmoni yang memadukan naluri dan gairah.

Sabtu, 30 Juni 2012

Obral Janji saat Kampanye bisa Menyusahkan

Political Commitment by grey garden
Political Commitment, a photo by grey garden on Flickr.

Di dunia politik, sudah tidak asing lagi bagi masyarakat bahwa para "calon" pengempu kewenangan eksekutif maupun legeslatif gemar manaburkan janji-janji baik secara personal, maupun oleh tim suksesnya. Hingga batas tertentu saya bosan mendengarkan lontaran janji-janji - yang mungkin di telinga banyak orang terdengar manis.

Kadang janji itu diucapkan tidak melihat situasi dan kondisi sistem yang tengah berjalan di masyarakat, hanya sekadar bumbu pemanis memberikan pengharapan kosong bagi para calon pemilihnya.

Katakan saja beberapa waktu lalu, saya mendengar seorang yang maju kampanye (entah siapa, saya tidak terlalu memerhatikan) mengatakan bahwa rakyat tidak perlu repot berobat, cukup tunjukan KTP saja - saya langsung "tepok jidat" dan berkata, "emang segampang itu apa?"

Di satu sisi, ya itu adalah ide yang baik, namun di sisi lain itu adalah bunuh diri dalam kondisi masyarakat saat ini. Kalau si calon tidak tahu alasannya mengapa, maka bodoh sekali dia.

Saya sering mendengar kolega mengeluh bahwa ada banyak keluhan dari pihak LSM yang katanya membela orang miskin, bahwa orang miskin "dilarang sakit", "dipersulit berobat".

Ah, yang benar saja?

Apa karena sampeyan merasa miskin terus datang dan menyerahkan KTP, lalu semua beres dan bisa masuk gratis, berobat gratis, pulang gratis? Pokoknya tinggal terima jadi pelayanan kesehatannya? Kalau bisa begitu, semua orang juga mau dong.

Bahkan ndak cuma yang miskin, yang berduit saja juga mesti repot kok. Yang miskin pakai jaringan pengaman sosial, yang berduit pakai asuransi, dua-dua sama-sama mesti mengurus administrasi yang tidak sedikit. Bedanya, yang sadar bahwa itu mesti diurus, tidak akan mengeluh.

Saya sendiri sih merasa akan senang sekali kalau administrasi dan birokrasi bisa dipangkas, tapi apa iya semudah itu? Di negeri yang mental pejabat dan rakyatnya sama-sama gemar korupsi, kepercayaan untuk memangkas birokrasi itu susah.

Dana jaringan pengaman sosial berasal dari pajak yang dibayarkan rakyat, dan memang seharusnya dikembalikan pada rakyat - terutama yang memerlukan agar diprioritaskan. Kalau dengan KTP saja bisa menunjukkan difrensiasi prioritas ini, sih tidak masalah, tapi nyatanya tidak, karena itu administrasi lebih lengkap diperlukan agar tepat sasaran.

Apa iya mau di KTP ditaruh tambahan item pembeda antara warga miskin dan berduit? Sehingga bisa langsung dikenal, "wah, yang ini miskin, ayo masuk Pak, berobatnya gratis." Sampeyan mau membuat perpecahan dan diskriminasi lagi di negeri ini?

Calon pejabat kok ndak ngerti hal-hal sesederhana ini. Apa iya wilayah yang akan dipimpinnya akan baik-baik saja, kalau yang memimpin saja tidak menunjukkan kecerdasan yang bijaksana?

Ah, saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Masalah itu harus diatasi dengan solusi yang cerdas, bukan dengan yang menambah masalah. Saya ndak punya kompetensi seperti ini, makanya saya ndak akan pernah bisa berjanji seperti itu.

N.B: Gambar hanya memberikan ilustrasi dan tidak memiliki hubungan keterkaitan dengan isi/tulisan di atas.

Kamis, 28 Juni 2012

Perkara Ide Gedung Baru untuk KPK

Gedung KPK by Kelana Nusantara
Gedung KPK, a photo by Kelana Nusantara on Flickr.

Setiap kali saya menyalakan layar televisi dan mencari saluran berita, entah kenapa euforia tentang pembangunan gedung baru untuk KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) mengisi cuplikan setiap kesempatan di layar kaca dalam dua atau tiga hari belakangan ini. Saya mungkin memang bukan pecandu berita, namun jika intensitasnya seperti ini - mau tidak mau ya mendengar juga pada akhirnya.

Mungkin karena legeslatif tidak mau memenuhi usul pembangunan gedung baru bagi KPK, maka isu ini semakin gencar. Karena memang gedung (katanya) gedung lama sudah tidak layak huni lagi. Lha, wong anggota dewan sendiri merengek-rengek dulu saat meminta gedung baru, padahal kerjaannya banyak ndak jelas. Sekarang badan independen yang sudah cukup jelas kerjaannya - meski belum tuntas semua - malah tak diacuhkan. Menurut saya (entah apa ini yang namanya kebijakan politik) semua ini terlihat begitu konyol. Ah, rakyat sudah ngertilah, meski ndak semuanya sepaham.

Sekarang malah muncul "saweran" - sumbangan dari rakyat, "croud founding", gratifikasi, atau apalah itu namanya. Untuk mendukung keberadaan gedung baru ini, karena masyarakat luas percaya bahwa KPK memang memerlukannya.

Meski ndak semua elit politik setuju dengan saweran ini, dan lebih memilih menyaweri rakyat yang lebih miskin (masuk akal sih, itu saya juga ragu kalau memang dikerjakan). Tapi kan sudah jelas, bahkan sangat jelas dan masuk di akal, bahwa yang memiskinkan rakyat di negeri ini adalah korupsi dan bentuk sejenis lainnya. Ketidakpedulian menghasilkan korupsi, dan itu langsung maupun tidak langsung akan menyengsarakan rakyat. Yang memang bilang peduli sama rakyat kecil, harusnya ya paham bahwa setiap upaya pemberantasan korupsi bermakna selangkah upaya maju dalam mensejahterakan rakyat atau memberikan kembali pada rakyat apa yang menjadi haknya.

Rakyat, ya kita sendiri, paham akan hal ini, meski selama ini cuma bisa sekadar membantin saja. Karena kenyataan jelas yang terselubung itu, saat ini kita sedang dijajah oleh bangsa sendiri - para koruptor itu.

Maka di sini, satu-satunya harapan nyata rakyat untuk memerdekakan dirinya (yang meskinya mereka telah merdeka) adalah dengan turut membantu memberantas korupsi, meski kadang tidak jarang anggota masyarakat kita yang malah tersandung sakit akibat upaya mereka. Kini saat mereka bisa memberikan sumbangsih pada salah satu lembaga yang dinilai bisa menjadi juru selamat negeri ini dari korupsi, tidak heran mereka akan tergerak, bahkan tidak peduli mungkin seberapa banyak mereka harus berkorban, karena perasaan tertindas itu sudah begitu jenuh dan kental di dalam sanubari rakyat.

Kini jika masyarakat mendapatkan kesempatan membantu KPK secara material, maka rakyat merasa memiliki KPK lebih jauh lagi. Dan harapannya, KPK akan lebih memberikan daya upayanya untuk mewujudkan harapan rakyat sebagai tanggung jawab moralnya. Di sini rakyat bisa berjalan bersama-sama, memantau dan menuntut bentuk-bentuk keadilan atas korupsi yang telah merugikan tanah tumpah darah mereka!

Senin, 25 Juni 2012

(RED)RUSH TO ZERO: Awal dari Akhir AIDS Bermula dari Kamu



Kita dapat memulai akhir dari penyebaran HIV/AIDS yang sejak 30 tahun ini telah menelan korban 30 juta jiwa. Dan kamu bisa memulai itu semua, simak video di atas untuk melihat apa yang dapat kamu lakukan.

Minggu, 24 Juni 2012

Orang Purba Memindahkan Patung Batu Raksasa



Hmm..., melihat video tersebut, saya kadang membayangkan orang purba (namun mungkin tidak selalu tepat menyebut mereka purba) dalam memindahkan baru 5 ton patung batu raksasa ke tempat yang jauh. Namun ini baru yang berukuran 5 ton, kisah Easter Island masih memiliki yang berukuran puluhan ton hingga 70 ton, entah bagaimana mereka akan diprediksi memindahkan itu.

Paradoks Alam Liar

Manul, a small wild cat by Foto Martien
Manul, a small wild cat, a photo by Foto Martien on Flickr.

Manusia adalah mahluk yang sangat mudah bosan. Jika dia diam di dalam rumah yang nyaman terlalu lama, dia akan bosan dan ingin menjelajah dunia luar. Namun ketika alam liar menyapanya dengan sedikit gregetan, dia langsung rindu kembali ke depan perapian yang hangat di atas karpet dan sofa yang empuk.

Manusia selalu memiliki dua sisi yang berlainan, sebuah paradoks bagaikan alam liar.

Sabtu, 23 Juni 2012

Makanan Sayang Makanan Malang

Kurasa beberapa orang memang tidak peduli pada makanan, meskipun mereka cukup peduli pada rasa lapar. Secuil dalam benak orang-orang seperti ini mungkin bahwa makanan hanya alat pemuasan rasa lapar yang menghantui mereka sepanjang waktu.

Siang ini saya berada dalam sebuah jamuan makan prasmanan, dengan kata lain - ambil sendiri menu dan porsi pilihan kita dari atas meja saji.

Alhasil, karena gratis tentunya, gelombang awal layaknya berebut karena merasa tidak akan dapat pengisi perut. Nah, tidak semua memang, namun kita bisa melihat bahwa mereka mengambil dalam porsi besar, seakan berkata "tenang saja, toh pasti yang berikutnya disediakan oleh panitia, mumpung ada, ambil yang banyak". Ya, inilah ajian aji mumpung yang tersohor itu.

Alhasil? Banyak di atas piring para penikmat garis depan yang pada akhirnya menyisakan makanannya. Baik beberapa suap nasi, mungkin sepotong tempe.

Saya rasa di dunia injak selalu ada yang paham bagaimana rasanya kelaparan, namun tetap saja pada akhir ada juga yang membuat semua itu sia-sia ketika tidak benar-benar mengenal bagaimana menghargai sesap nasi.

Saya kadang berpikir, pernahkah orang-orang seperti ini merasakan sulitnya mengolah sawah, atau menanak nasi dan menumis sayur yang terhidang di hadapan mereka.

Kamis, 21 Juni 2012

Euforia Superkomputer

Berita IT belakangan ini sedang didemamkan oleh lahirnya superkomputer baru "IBM Sequoia" yang dinyatakan menjadi yang tercepat saat ini, menggantikan besutan Funjitsu sebelumnya. Dan mungkin karena ini juga kali pertamanya superkomputer tercepat merupakan buatan Amerika, euforia ini serasa sedikit menggema.

Superkomputer memang sangat bermanfaat untuk penelitian dan pengembangan teknologi, IMB Sequoia ini misalnya mampu melakukan perhitungan 16,32 petaflops per detik dengan menggunakan hampir 1,6 juta inti prosesor (bayangkan komputer rumah kita saat ini paling banyak hanya memiliki dua atau empat inti prosesor - dual core atau quad core).

Apa artinya itu? Kita mungkin bingung dengan angka-angka itu, namun itu kira-kira bermakna, dalam satu jam komputer ini mampu menghitung apa yang perlu dihitung oleh 6,7 juta orang dengan kalkulator tangan selama 320 tahun. Kalkulasi, itulah kekuatan sebuah superkomputer.

Aku tidak tahu apakah negara kita memanfaatkan superkomputer-superkomputer seperti ini sebagaimana negara-negara yang memberikan perhatian besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Superkomputer seperti ini biasanya menggunakan Linux; IMB Sequoia sendiri menggunakan RHEL, beberapa yang lain menggunakan SLES/D. Dari 500 superkomputer hanya 13 yang menggunakan Windows, itu berarti jika negara kita tidak mulai menukar kurikulum pendidikan dengan menggunakan open source, kita bahkan mungkin lebih jauh lagi dari mimpi menggunakan superkomputer.

Opera 12 - Make it yours



Saya suka dengan kehadiran Opera 12, cepat, mudah digunakan, dan mendukung lebih bayak HTML5 dari versi sebelumnya. Belum lagi untuk CSS3 Animations dan Transition-nya.


Semua membuat Opera 12 menjadi all-in-one browser yang bisa digunakan di semua komputer saya.

Selasa, 19 Juni 2012

Obat Generik Saja

Generic Drugs by BC Gov Photos
Generic Drugs, a photo by BC Gov Photos on Flickr.

Kadang memang heran melihat bahwa orang menuntut dipilihkan obat bermerk yang dikenal dengan obat paten dibandingkan obat generik yang harganya jauh lebih terjangkau. Mungkin karena pola pikir masyarakat bahwa obat paten itu pasti menyembuhkan dan lebih baik dari obat generik.

Salah kaprah? Entahlah, stigma seperti itu sudah lama ada di masyarakat. Kadang ada kolega yang berkata bahwa pasiennya tidak percaya bahwa obat yang diresepkan bisa membantu penyakitnya, karena saat ditebus di apotek harganya sangat murah.

Aku sendiri geleng-geleng kepala. Karena selama ini jika meresepkan untuk diri sendiri, di saat memang benar-benar perlu obat, maka pilihan tetap ada pada obat generik. Karena kalau kandungannya sama, untuk apa membayar lebih mahal?

Ada banyak alasan kenapa obat paten mahal, mereka membayar iklan untuk promosi produk mereka dan bersaing dengan perusahaan farmasi yang lain. Mereka memiliki kemasan yang lebih menarik dan lebih mahal biaya produksinya.

Di sisi lain, mungkin karena mereka menambahkan zat tertentu yang menekan efek samping komponen asli, atau mereka hadir dan dikemas dengan tidak menggunakan komponen preservasi (pengawet).

Tentunya tidak jarang, obat paten adalah masih merupakan pemegang hak paten resmi untuk komponen obat tersebut. Sehingga biaya mahal digunakan untuk mengembalikan biaya penelitian obat yang nilainya tidak sedikit. Dan dalam hal ini tidak ada versi generiknya, juga merupakan kewajaran dalam upaya melindungi pengembangan teknologi obat ke depannya.

Pun demikian, pilihan jenis obat tetap berada di tangan pasien - entah menggunakan yang generik ataupun yang paten. Tentunya dengan syarat bahwa pasien berhak mengetahui informasi yang selengkapnya mengenai pilihan obat yang diberikan.

Aku sendiri sih jika tersedia akan memilih obat generik saja.

Minggu, 10 Juni 2012

Mengubah Kedudukanmu?



Katanya setiap individu memiliki tempatnya sendiri di masyarakat. Yah, bisa dikatakan sebagai sebuah kedudukan sosial. Dan tak jarang individu menginginkan kedudukan sosial yang lebih baik (lebih tinggi?), mendapatkan perhatian dari banyak individu atau kelompok lainnya.

Pun setelah kita berubah, memiliki kedudukan yang lebih baik, ini kadang bukan selalu bermakna bahwa apa yang kita harapkan terwujud, atau apa yang dihasratkan menjadi terpuaskan.

Kita berubah, baik karena kita inginkan, kita usahakan, atau terjadi secara alaminya. Kita mungkin menguak dunia yang baru, yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, dan tidak selalu berakhir baik. Hanya saja, sebaiknya kita tidak berhenti melangkah, meski yang hadir tidak seperti yang kita kehendaki.

Laba-Laba Terbesar di Dunia



Laba-laba adalah salah satu mimpi buruk kebanyakan orang, entah mengapa - mungkin karena mereka tampak sangat berbeda dari kita. Dan yang terbesar adalah keluarga Tarantula - setiap anak di muka bumi pasti pernah mendengar nama mereka setidaknya sekali seumur hidup, meski tidak pernah melihatnya langsung.

Dan yang terbesar dari para tarantula adalah "Goliath" si raksasa. Namun tentu saja tidak akan sebesar Aragog di serial/novel Harry Potter, mungkin hanya seukuran tikus sawah besar (yah, itu juga cukup besar). Namun jangan khawatir, karena tampaknya bisa Goliath tidaklah mematikan bagi manusia (secara umum).

Mandi Pagi?

Kalau hari libur banyak orang yang malas mandi pagi, jangankan mandi pagi, bangun pagi saja malas, apalagi jika pagi mending berubah gerimis - hilang sudah mandi pagi.

Dari pada mencium aroma kamar mandi. Rasanya mencium aroma debu di balik selimut akan lebih nikmat, seperti menghirup candu ke alam layangan angan.

Ah, kemalasan itu adalah candu yang paling nikmat. Tapi mandi pagi adalah musuh besarnya. #eh

Kamis, 07 Juni 2012

Mimpi Pendidikan

Kadang semasa kecil, entah sama atau tidak dengan anak-anak lainnya, aku menemukan bahwa mimpi belajar di tempat yang memiliki prestise tersendiri adalah hal yang menakjubkan - yah, meski hanya sebuah mimpi.

Belajar mungkin adalah salah satu hal menarik yang membuat kita manusia terus melangkah maju, dan peradaban kita menghasilkan dunia pendidikan untuk mengisi hasrat ini.

Sayangnya, meski pendidikan menyumbang banyak pada kehidupan manusia, tidak semua orang menyadari bahwa pendidikan selayaknya menjadi sesuatu hal global yang dapat diakses oleh setiap orang secara adil dan merata.

Selama ini aku hanya melihat sebuah kata yang mewakili pendidikan di negeri ini, yaitu "mahal". Bantuan pendidikan tidak banyak, dan jika pun ada yang terjangkau hanya sedikit saja. Pun itu bisa dikatakan sebuah keberuntungan. Sisanya mungkin boleh jadi akan gigit jari.

Banyak anak di negeri ini yang melihat pendidikan prestise sebagai mimpi, namun mungkin lebih banyak lagi yang melihat mimpi pendidikan akan datang ke kenyataan yang mengejutkan ketika ia membuka matanya dari lelap di pagi hari.

Rabu, 16 Mei 2012

Bagaimana Email Dikirimkan?



Saya tertarik sekali melihat video animasi dari Google ini, memperlihatkan bagaimana email (surat elektronik) dikirim dari ponsel atau komputer kita ke alamat tujuan. Dan bagaimana teknologi membantu semua itu.

Minggu, 06 Mei 2012

Planet Kecil kita

Planet Residential Park by Photo Dean
Planet Residential Park, a photo by Photo Dean on Flickr.

Kadang kita tidak sadar, betapa kecilnya planet yang kita huni di antara semesta yang luas. Karena pandangan kita yang sempit membuat segala sesuatu di sekelilingnya tampak begitu besar dan luas.

Namun bukan tentang luas dan sempit, kadang saya ingin bertanya pada diri sendiri. Seberapa besar makna planet kecil kita bagi kita sendiri?

Jumat, 20 April 2012

Karena Kita Tak Ingin Sendiri

20042011 one man and his dog by kierentc
20042011 one man and his dog, a photo by kierentc on Flickr.

Kurasa manusia itu sederhana, menyambung kebersamaan - karena ia tak ingin berada sendiri. Bukannya manusia tak bisa hidup sendiri, kita mendengar banyak kisah bahwa orang bisa bertahan hidup seorang diri.

Namun yang hakiki adalah keinginan untuk selalu bersama. Sesuatu yang melindungi manusia tetap bertahan hidup dan berkembang dalam peradaban seperti saat ini.

Pun demikian, tak jarang kita temukan, bahwa manusia bisa membuat kotak, sekat, pemisahan - karena ia juga tak ingin kehilangan rasa amannya akan kebersamaan yang dalam pandangannya adalah yang paling baik. Cemburu, emosi, pertengkaran hingga peperangan adalah hasil dari semua itu.

Kita mungkin sederhana - tak ingin berada sendiri. Namun dari sinilah kompleksitas kehidupan seorang anak manusia dimulai.

Rabu, 18 April 2012

Mata-Mata di Tubuh Demokrat

Kadang saya merasa ada kelucuan tersendiri mendengar berita dan perbincangan berita pagi ini. Karena pidato (sindiran?) Pak Presiden yang tertutup di antara petinggi Partai Demokrat tersebar ke luar oleh sebuah rekaman misterius.

Yang menjadi masalah tentu karena - katanya - isinya adalah sindiran terhadap partai lain. Saya sendiri tidak tahu pasti karena tidak pernah mendengar rekaman itu, dan memang tidak tertarik.

Namun kadang ya itu, lucu mendengar jika ada wacana bahwa pihak media menyusupkan mata-mata ke tengah tubuh partai untuk mendapatkan rekaman ini. Atau sebaliknya.

Ah, dunia ini memang tidak aman, pintu dan dinding pun punya mata dan telinga.

Senin, 16 April 2012

Pendidikan itu untuk Kehidupan

Hari ini pelajar kita mulai menghadapi ujian nasional. Hanya saja saya masih sedih mendengar bahwa masih ada upaya mencari kunci jawaban, membocorkan soal - bahkan hingga rentetannya berupa rasa tidak percaya dan pemeriksaan lokasi ujian agar bebas ponsel - termasuk dengan mengerahkan petugas keamanan.

Saya mungkin mesti mengakui, bahwasanya, ujian itu tidaklah mudah, tidak jarang membuat kepala terasa berdenyut nyeri.

Namun jauh daripada itu, orang-orang tampaknya mulai menggeser bahwa pendidikan sebenarnya ditujukan bagi kehidupan secara luas, menjadikan seseorang terdidik sehingga dapat hidup sebagai manusia seutuhnya.

Pendidikan bukanlah tentang menciptakan nilai-nilai tinggi, jawara-jawara hebat, atau lulusan-lulusan yang diterima di jenjang bergengsi berikutnya. Karena pada akhirnya, semua itu akan terjadi dengan sendirinya sebagai buah dari proses pendidikan yang baik.

Pun jika itu tidak terjadi, kita tidak dapat memaksanya terjadi. Atau kita akan mulai menciptakan kepalsuan, nilai-nilai palsu, lulusan-lulusan palsu, dan gelar-gelar palsu. Dan pada akhirnya kita menciptakan masyarakat dan negara yang palsu yang mulai berteriak kebenaran akan pembenaran hal-hal yang dibiasakannya, korupsi, cauvinisme, nepotisme, dan sebagainya yang menjadi roda iblis di bumi pertiwi.

Pendidikan itu untuk kehidupan, dan saya tidak tahu, seberapa banyak dari kita yang masih dapat tersenyum bahagia melihat mereka yang giat menempa ilmu - bukan hanya untuk nilai dan gelar semata.

Jumat, 13 April 2012

Istri Simpanan untuk Anak SD

Don't Piss Me Off! by Extra Medium
Don't Piss Me Off!, a photo by Extra Medium on Flickr.

Aku agak tersenyum (mungkin sedikit sinis) mendengar berita marak tentang buku "Lembar Kerja Siswa" Sekolah Dasar yang berisi materi bertajuk istri simpanan - atau sesuatu seperti itu dalam cerita "Bang Maman dari Kali Pasir".

Dari berita juga kutahu bahwa banyak yang protes tentang hal ini, kenapa bisa diloloskan pada buku SD.

Namun aneh juga, selain pengawas tidak tahu menahu bahwa materi ini beredar di buku anak sekolahan, orang tua sendiri mungkin tidak pernah peduli isi buku pendidikan anak-anaknya, sehingga baru sekarang terbuka kasusnya, padahal ada berapa ratus eksemplar di luar sana. Mungkin kebobolan ini juga - jika masyarakat mau jujur - adalah akibat penyerahan sepenuhnya si anak untuk menjadi tanggung jawab sekolah mendidiknya, ya akui saja kadang ketakacuhan orang tua itu seperti inilah dampaknya. Namun tentu saja pelbagai instasi terkait tidak dapat lepas tangan juga akan kasus ini.

Hal lain juga, orang berpendapat bahwa materi ini tidak sesuai dengan pendidikan anak-anak. Ada yang berpendapat ini adalah masalah orang dewasa, lha bukannya pendidikan itu sewajarnya mendewasakan anak?

Kukira suatu saat anak akan belajar tentang yang namanya "istri simpanan", dan Anda mungkin menyesal jika bukan Anda yang memberi penjelasan pada si anak tentang itu.

Pun demikian, aku tetap setuju, bahwa materi ini sebaiknya tidak dituangkan terlalu dini pada anak-anak yang belum cukup dapat memahinya. Lagi pula untuk memahami sisi "gelap" kehidupan, ada baiknya dengan mengenalkannya pada "terang". Tidak semua anak dapat mencerna "gelap"-nya kehidupan dengan bijak, karenanya-lah mereka memerlukan bimbingan.

Mengajari anak tentang saling menyayangi dan nilai kesetiaan serta kebersamaan, maka suatu saat jika si anak bertemu dengan topik "istri simpanan", maka diharapkan dia akan cukup bisa memahami itu sebagai sesuatu yang tidak sepatutnya menjadi pilihan baginya.

Dan orang tua mesti tetap tidak melepas tanggung jawab pendidikan anak pada pihak lain begitu saja. Seyogyanya yang namanya orang itu - ya - mengayomi. Masih ada banyak tantangan di luar sana, termasuk konten hiburan yang kadang tidak memberikan nilai pendidikan positif pada anak.

Kamis, 12 April 2012

Jangan Menindas yang Lemah



Inilah mengapa kita selalu diingatkan untuk tidak menindas yang lemah. Bukan karena suatu saat penindasan itu akan berbalik pada kita. Namun kadang hal-hal itu hanyalah kekonyolan belaka.

Senin, 09 April 2012

Tidak Selamanya Bisa Jadi Primadona

Malam ini sebuah berita yang kutonton menyatakan bahwa wisata Bali (khususnya) terancam oleh wisata di Thailand - negera tetangga kita, terutama karena banyak wisatawan dari negeri kangguru yang kini tidak memilih Bali lagi sebagai primadonanya.

Yah, tidak selamanya sesuatu bisa menjadi primadona, meski sesuatu itu masih memiliki sesuatu yang masih dicari.

Namun memang, seperti yang dikutip di berita tersebut. Kenyataan kemacetan lalu lintas di area wisata memang tidak pernah menyamankan siapapun. Jika tuan rumah sendiri sudah banyak mengeluh, apalagi wisatawan.

Bali terkenal karena senimannya yang menghasilkan banyak karya luar biasa, sekarang mungkin lebih banyak pebisnis seni daripada seniman - entahlah. Bali dulu terkenal karena pemandangan alamnya yang memesona, namun sekarang alam indah dicaplok oleh desakan aas nama kepadatan penduduk - entahlah.

Mungkin memang tidak selamanya bisa jadi primadona.

Nelayan dan Musim Melaut

Sekitar seminggu yang lalu, aku sempat mendengar celoteh seorang nelayan tua - usianya mungkin sudah 60-an tahun - tentang sulitnya mendapat ikan saat ini.

Bukan karena cuaca yang makin menggila, namun laut tampaknya sudah tidak menyediakan kelimpahan sumber daya selayaknya semasa ia kecil dan remaja dulu.

Nelayan dari desa nelayan di Selatan Bali ini mengeluhkan nelayan pendatang dari pulau-pulau seberang yang melaut - menangkap ikan - tanpa menggunakan penanggalan.

Mengapa? Yah, kehidupan di Bali secara tradisional masih menggunakan penanggalan untuk mencari hari baik melakukan sesuatu, misalnya perjalanan, ataupun untuk pergi melaut bagi nelayan.

Penanggalan membuat nelayan hanya melaut pada waktu tertentu sesuai dengan kebijaksanaan kuno. Ini juga bermanfaat bagi lautan untuk memberi waktu hening dari aktivitas manusia yang menguras sumber dayanya, bagi laut untuk memperbarui kekayaannya sehingga bisa digunakan lagi oleh manusia.

Namun nelayan pendatang tampaknya tidak mengenal waktu dan penanggalan. Mereka melaut setiap saat, menguras isi lautan di Selatan Bali. Tentu saja ini juga membuat nelayan lokal mesti juga bersaing, jika tidak, bagaimana mereka bisa menghidupi keluarga mereka jika tidak ikut menjaring isi lautan setiap saat.

Kadang aku berpikir, kita tidak lagi bersahabat dengan alam. Dan jika suatu saat alam tidak menyediakan apa-apa kecuali sejumlah bencana, mungkin kita telah kehilangan tempat untuk mengeluh padanya.

Sabtu, 07 April 2012

Apa Alih Bahasanya Menu Dropdown?

Blue - Dropped Down by Anas Ahmad
Blue - Dropped Down, a photo by Anas Ahmad on Flickr.

Aku lagi bingung menerjemahkan sebuah kata dalam sistem antarmuka komputer, yaitu "drop down". Ya ini bisa jadi sebuah daftar dalam tampilan menu yang memilih dengan klik dan memperlihatkan menunya dalam kotak kecil menurun.

Rekan-rekan di milis bahtera menyarankan menggunakan "menu tarik menurun". Ah..., rasanya agak aneh, meski banyak orang yang suka.

Saya sendiri memilih tergantung konteksnya...

Dropdown Menu = Pilihan Gulir Menurun
Dropdown List = Daftar Pilihan Menurun

Nah, terserah saja, bahasa kan kembali pada kenyamanan penggunanya. Ah, kapan ya Balai Bahasa akan membuatkan istilah yang baku.

Selasa, 03 April 2012

BBM Naik, Jadi atau Ndak?

Setidaknya pemerintah kita bilang bahwa kenaikan BBM ditunda, manuver politik juga begitu, ndak ada jelasnya.

Satu yang masih jelas adalah keresahan rakyat akan beban BBM masih tetap tak terhindarkan.

Kecuali negeri ini sudah berkeadilan sosial, dengan pendapatan perkapita yang tinggi. Boleh-lah subsidi dicabut, naikkan harga BBM juga ndak apa-apa, asal keuntungan yang didapat negara untuk semua itu kembali ke rakyat.

Senin, 02 April 2012

Jangan Batasi Hati

Orang bilang jangan kita membatasi hati, karena kita tak akan pernah menyentuh kehidupan.

Namun kadang kehidupan memukul kita dengan sedemikian kerasnya, sehingga kita membuat sebuah pagar yang tak lekang oleh waktu untuk melindungi satu-satunya hati kita.

Dan dari sanalah kita terpisah dari kehidupan itu sendiri.

Minggu, 01 April 2012

Selalu Menatapmu

Random Sunflowers by Aaron_Bennett
Random Sunflowers, a photo by Aaron_Bennett on Flickr.

Kata-kata itu sebenarnya cukup sederhana, "aku selalu menatapmu", hanya saja entah kenapa sulit diungkapkan. Lagi pula kadang aku juga bertanya-tanya, apa iya mesti diungkapkan.

Bagaimana perasaan orang yang menerima ungkapan seperti itu? Ah, entahlah. Setidaknya mungkin karena aku tak pernah menerima langsung setangkai atau beberapa tangkai bunga matahari untuk merasakannya.

Sudah jamak diketahui bahwa bunga matahari digunakan untuk membahasakan "aku selalu menatapmu". Meski harfiahnya mungkin lebih pas "aku selalu memandangmu", namun karena memandang dapat memiliki makna ganda, jadi menatap akan lebih pas.

Ha ha..., sayangnya dia pecinta mawar putih, jika tidak pasti sudah kuberikan bunga matahari, ataupun mungkin kwaci ya?

Mata Itu Bisa Menipu?

Flying saucer? by macropoulos
Flying saucer?, a photo by macropoulos on Flickr.

Banyak teman-temanku bilang mata itu bisa menipu, lha bahkan kadang ditambah suara itu bisa menipu, kemudian juga ada paras muka itu bisa menipu. Tapi menurutku sih karena ya memang kita saja yang mudah tertipu, mau bilang apapun juga kita adalah mahluk berahlak yang memiliki kemampuan guna mempercayai (baca: bisa ditipu).

Nah kembali ke mata bisa menipu. Sebenarnya kurasa kecuali mata kita memang memiliki gangguan (baik aksial dan transversal seperti yang kualami), maka mata akan melihat apa adanya.

Yang kadang membuatnya berbeda adalah kacamata yang kita gunakan untuk melihat. Langit biru dengan kacamata merah akan menghasilkan langit yang lebih gelap dan mengerikan.

Kacamata pengetahuan akan mempengaruhi apa yang dipandang oleh manusia. Dan oleh karena pengetahuan seseorang selalu terbatas, maka apa yang bisa dilihatnya selalulah menjadi terbatas.

Misalnya jika aku tahu bahwa hantu bisa berwujud api yang terbang di malam hari, bisa saja saat melihat cahaya di kejauhan aku sudah berpikir itu hantu, meski bisa jadi obor atau sejenisnya.

Kadang tak salah mungkin jika kupikir kita adalah mahluk yang sering tertipu oleh diri kita sendiri. Karena keterbatasan yang kita miliki. Atau mungkin karena keterbatasan yang sengaja kita usung dan kenakan kemana-mana dengan sedikit kebanggaan atas semua itu.

Jumat, 30 Maret 2012

Kekuasaan Itu Kehendak Rakyat

Kurasa konsep demokrasi yang hakiki itu belumlah bergeser sama sekali, bahwa negara yang berdiri karena rakyatnya selayaknya dijalankan atas kehendak rakyat demi kebaikan seluruh rakyat.

Melalui pendidikan yang merupakan salah satu upaya pencendersan bangsa yang entah kenapa mahalnya bukan main di negeri ini, rakyat sudah mulai dapat melihat, bahwa sering kali kehendak mereka tidak tercerminkan dalam sebuah kekuasaan yang diamanahkan.

Itulah mengapa, kekuasaan yang layak adalah yang didukung oleh rakyat, bukan yang dinaiki di atas tangga berkarpet merah hasil kontrakan dengan golongan tertentu.

Jadilah kekuasaan itu sebuah pengayom bagi suara-suara kecil yang memerlukan bantuan, yang memerlukan keluh kesahnya didengarkan. Janganlah kekuasan itu menjadi sebuah boneka yang digerak dengan benang-benang tak kasat mata, namun buta dan tuli akan sekitarnya.

Kekuasaan itu adalah suara rakyat.

Kamis, 29 Maret 2012

Tetaplah Tegak

Ada kalanya kita dipandang rendah, yah, mungkin karena adanya kita rendah. Namun yang rendah memiliki nuansa indah, yang sanggup melepaskan semua gundah.

Dirimu adalah dirimu, dunia tak akan seindah ini tanpa dirimu.

Jangan khawatir karena tempatmu yang rendah, karena mungkin di sana semua genangan kebaikan.

Pun jika tidak ada kebaikan yang kau temukan. Hanya satu yang dapat dilakukan, tetaplah tegak, itulah yang akan menjadi keindahanmu.

Orang-orang yang merasa tinggi mungkin tak akan pernah memandangmu. Namun jangan khawatir, mereka hanya sedang lupa bagaimana rasanya jatuh cinta pada kehidupan.

Tetaplah tegak, karena itu bukti cinta, napas, dan kehidupanmu yang sepenuhnya.

Kehidupan Modern

Lha, aku sendiri paling anti sama yang namanya bepergian ke kota-kota besar, apalagi ibu kota. Tapi kadang merasa aneh sendiri, kota-kota besar di negara lain kok sepertinya nyaman ya untuk dipakai berjalan-jalan.

Apa ada yang keliru dengan cara mengadaptasi kehidupan modern di negeri ini?

Di luar orang bilang modern itu bermakna bisa nyaman berjalan kaki dan naik transportasi umum tepat waktu. Di sini orang bilang itu modern itu naik mobil mewah, pakai pendingin udara hingga bisa memalingkan muka dari panas dan susahnya kehidupan di jalanan kota yang macet.

Tentu kalau mau dicari-cari lagi, ya masih banyak hal-hal yang tampak aneh bagiku tentang hidup modern masyarakat kita.

Lalu pertanyaannya, apa kita sedang hidup modern, ataukah kita sedang merasa hidup modern?

Rabu, 28 Maret 2012

Buat Aku Mengerti!

The poser - 2/52 by Danny Beattie
The poser - 2/52, a photo by Danny Beattie on Flickr.

Buat aku mengerti! Karena aku tak akan bisa selalu di sini untuk menatap dan menantimu. Buat aku memahami! Karena tumpuanku adalah sebuah hubungan kepercayaan yang tak dapat dibeli.

Dunia yang kita pandang mungkin sama, namun dari mana kita memangdang bukanlah sesuatu yang sama.

Buat aku mengerti, meski bahasa kita berbeda, karena aku pasti berpaling untuk mendengarkan setiap ucapmu.

Senin, 26 Maret 2012

Bersanding Kepakan Di Bawah Senja

Sunrise Fly-by by paeuk
Sunrise Fly-by, a photo by paeuk on Flickr.

Aku rindu gelak manjamu yang merajut senyum ke buluh waktu. Langkah ceriamu seperti sepasang kepakan yang mendendangkan angin berlalu.

Kapan kita dapat bersanding langkah kembali, senja tanpa jiwamu menjadi kehilangan arti.

Datanglah wahai beludru perduku, sebelum sinar terakhir menjadi kisah yang lalu. Karena tanpamu, sepasang sayapku hanyalah kenangan berdebu.

= sebuah saja untuk sahabatku, pecinta kopi dan pecinta sapi, entah kenapa demikian, padahal sapi menghasilkan susu bukan kopi. Ah, mungkin dia berkenan memasukkan sajak kecil ini ke bukunya yang selanjutnya :D =

Mulailah dari yang Terlupakan

remnants of fall by manyfires
remnants of fall, a photo by manyfires on Flickr.

Seorang teman (dan mungkin banyak sahabat lainnya) bertanya, "saya ingin menulis, namun dari mana harus memulai?"

Sayangnya aku tak memiliki jawaban untuk itu. Bagiku tulisan adalah sesuatu yang mengalir. Tidak memiliki ujung maupun pangkal, ia hanya berhenti untuk dimulai kembali.

Pun demikian, engkau dapat memulai dari sesuatu yang terlupakan. Sesuatu yang tak akan menjenuhkan.

Coba saja, siapa yang akan mengingat dedaunan yang berguguran di pinggiran kursi tua sebuah taman. Namun jika aku yakin, jika dapat disajikan dengan indah, tentu saja akan menjadi sebuah sajian yanng penuh makna dan menarik.

Minggu, 25 Maret 2012

Melepaskan

in the wind by rsc_escher
in the wind, a photo by rsc_escher on Flickr.

Banyak yang berkata, melepaskan itu tidak semudah ucapan kata-kata belaka. Dan mungkin itu ada benarnya, jika memang melepaskan bukan bagian dari sebuah kesadaran yang utuh.

Aku selalu membayangkan melepaskan itu seperti biji yang terlepas terbang ketika wadahnya siap terpecahkan oleh hembusan udara hangat. Atau seperti buah ranum yang jatuh dari pohonnya.

Semua itu tidak bisa dipaksakan, dan akan tiba dengan sendirinya pada waktunya.

Jika aku masih memaksakannya, maka itu adalah mengekangnya, dan bukan melepaskannya :).

Senandung Senja

Kadang aku menyambung mimpi merajut lamun, tentang sebuah setapak yang kususuri di masa senja dengan menyiualkan senandung tentang alam yang tak berhenti untuk hidup.

Kehidupan adalah gerak yang tak akan terpadamkan oleh senja, selama sisa kehidupan yang ditebar mentari di siang hari belum sepenuhnya merangas, maka harmoni baru akan mulai didendangkan saat senja menghantar sebuah hari menuju akhirnya.

Seperti tepian laut yang tak berhenti bergerak. Demikian jua senandung senjaku, akan selalu berdendang di antara langkah lelahku.

Selasa, 20 Maret 2012

Gerbang Penjemput Cahaya

Jika engkau merindukan cahaya menyirami hatimu, sebenarnya engkau tak memerlukan lebih dari sekadar membuka gerbang hatimu yang selama ini tertutup - dan membiarkan cahaya memasukinya.

Cahaya adalah cahaya, ia bukan bukan tulisan, kata-kata, ide, kisah, dongeng. Tidak juga ia ada di dalam segala yang kita khayalkan.

Semua itu hanya akan menyesakkan gerbang hatimu, dan engkau akan berputar-putar dalam kegelapan yang telah kau ciptakan sendiri.

Bukalah gerbang itu, dan biarkan cahaya menyirami semua yang ada di dalam hatimu.

Senin, 19 Maret 2012

Mimpi untuk Sebuah Akhiran

Sunset at Achill Island by Stefano Viola
Sunset at Achill Island, a photo by Stefano Viola on Flickr.

Setiap orang memiliki sebuah (atau lebih) mimpi untuk mengawali harinya, mengisi kehidupannya, ataupun menemani saat tuanya. Saya yakin tak ada yang ingin mimpi itu merupakan sebuah perjalanan di ladang ranjau, di antara hujan peluru ataupun tiupan mesiu. Tidak juga saya rasa mimpi itu tentang dirinya yang bergelut dengan letih dan lapar.

Mungkin banyak dari kita yang memiliki kebiasaan mengucapkan "semoga bermimpi indah", pada seseorang yang kita kasihi sebelum lelap memeluknya untuk beberapa waktu ke depan di antara gulita yang dingin nan tanpa perasaan.

Dan orang-orang pun juga tampaknya gemar bermimpi sambil membuka kedua matanya lebar-lebar. Dan seperti film tua yang diputar dalam layar lamunan, mimpi ini bisa menjadi begitu melodrama. Kadang jika mimpi tampaknya terlalu sulit dijangkau untuknya, maka dia akan menurunkan standar mimpinya. Kadang kemalangan datang padanya ketika ia mendengar seorang motivator berkata bahwa dia telah salah dengan menurunkan standar mimpinya, bahkan mimpi itu seharusnya diangkat lebih tinggi lagi. Maka kerumitan ini telah menghepaskannya ke mana-mana, antara mimpi yang berpindah dan kehidupan yang berputar.

Saya sendiri tidak terlalu memedulikan hal-hal seperti itu. Bagi saya kesederhanaan adalah segalanya, karena itulah yang paling mahal bagi seseorang yang tak pernah memahami artinya menjadi sederhana, karena saya sendiri masih jauh dari sederhana.

Jika saya menenpuh semua jalan ini hingga tapal batas waktu saya temui. Maka pada akhiran itu saya hanya memimpikan satu hal, kedamaian - seperti saat saya memandang kelembutan senja setiap ia mengakhiri hari saya.

Satgas Pornografi Akan Tiba

WL_Geger Pornografi by dadigareng
WL_Geger Pornografi, a photo by dadigareng on Flickr.

Selain mengumumkan kenaikan harga BBM, kuderngar istana negara juga menyampaikan soal pembentukan satgas pornografi.

Lha, apa lagi ini?

Namun sebelum buru-buru menyalahkan, pun meniscayakan ide itu, aku mau melihat lagi ke belakang.

Apa pornografi semakin merebak? Bisa jadi ya, aku sendiri tidak terlalu peduli - karena memang jarang menemui ranah itu kecuali tanpa sengaja menemukannya di dunia maya. Tapi melihat keprihatinan yang muncul, ya kurasa memang bertambah parah.

Apa memprihatinkan? Oh jelas sekali, pornografi, penurunan moralitas, pergaulan bebas dan kejahatan seksual adalah lingkaran setan yang saling terkait. Nah, kurasa semua orang setuju itu. Dan pecegahannya akan menjadi hal mutlak yang disetujui semua orang, kecuali dia memang penggemar pornografi.

Namun ada sebuah kelemahan fatal di sini. Yaitu tentang "persepsi", ndak semua persepsi orang sama tentang "pornografi". Kondisi A mungkin merupakan pornografi bagi kelompok pertama, mungkin biasa saja bagi kelompok kedua.

Kelemahan ini bukan hanya berpotensi tidak menyelesaikan masalah "penanganan terhadap pornografi", namun juga berpotensi menimbulkan perpecahan horizontal yang sebenarnya tidak diperlukan.

Lalu di mana sebenarnya nanti peran satgas antipornografi ini?

Apakah di dunia maya? Ah, yang benar saja, para ahli yang mejeng di depkominfo saja dari dulu bilang akan mencegah penyebaran pornografi di Internet sampai mengacam RIM (produsen BlackBerry) segala. Hasilnya, nol besar, cuma beberapa saja yang diblok, sisanya - jangan harap. Memangnya satgas lebih hebat daripada orang-orangnya di depkominfo?

Mau di sekolah ngawasi anak-anak belajar, biar ndak ada yang nonton film porno di ponsel cerdas mereka? Ya ampun, para guru buat apa dong? Sekalian saja buat aturan, anak-anak sekolah cuma boleh bawa ponsel jadul yang layarnya hitam putih. Lagi pula mau jagaain berapa sekolah?

Mau di jalanan ngawasi yang berani keluar dengan pakaian tidak senonoh? Ah, tepok jidat dah, memangnya abang tukang bakso ndak bisa apa? Aku sendiri sering menyarankan orang di sekitarku sekiranya berpakaian yang lebih santun, karena itu budaya kita. Setiap orang bisa saling mengingatkan, itu tidak susah.

Kalau kupikir-pikir lagi, kita semua memiliki pranala untuk mencegah pornografi menyebar di bumi nusantara, meskipun mungkin tidak secara menyeluruh.

Namun mengapa masih tidak mampu? Sederhana saja, karena ndak semua dari kita cukup peduli akan hal ini, dan ndak semua orang tahu caranya.

Coba sekarang tanyakan, siapa yang cukup peduli untuk dengan santun menegur mereka yang berpakaian agak terbuka, kebanyakan juga cuek. Diminta menegur orang merokok saja mungkin juga enggan. Karena kita enggan mencampuri urusan orang lain, kita melakukan pembiaran.

Apa ini salah? Kurasa ndak salah sama sekali. Setiap orang berhak atas pangan, papan dan sandang bagi dirinya yang ia sukai. Namun menegur untuk maksud baik juga tidak ada salahnya.

Nah, kurasa kecuali satgas pornografi mampu membangkit keawasan dan kepedulian terhadap pornografi secara nasional sedemikian hingga menimbulkan tindakan nyata secara besar-besaran dari kesadaran masyarakat sendiri, maka bisa dikatakan keberadaan satgas antipornografi ini akan sia-sia. Kalau judi saja tidak bisa diberantas, jangan harap dah bisa memberantas pornografi.

Yang masih bijak saat ini, cukup beruntung dapat melindungi orang-orang terdekatnya dari bahaya pornografi. Selebihnya, aku sendiri tidak berani berharap terlalu banyak.

Harga BMM Membumbung, Rakyat pun Terhimpit

Bahan Bakar Fosil by hidayat_peje7
Bahan Bakar Fosil, a photo by hidayat_peje7 on Flickr.

Bulan April nanti bisa dipastikan keputusan pemerintah Indonesia telah bulat menaikan harga BBM setelah pidato kenegaraan presiden beberapa waktu yang lalu. Kenaikan BBM sudah pasti memberatkan, dan telah banyak yang mendebatnya, namun tak juga didengarkan oleh pemerintah kita. Lha, kurasa aku tak perlu lagi protes di sini jika begitu situasinya.

Ya, rakyat bisa bicara apa? Yang mau diajak bicara saja ndak mau mendengarkan.

Mau tidak mau saat harga BBM naik melambung, maka yang terhimpit cuma bisa pasrah. Mau menolak BLT-pun untuk harga diri tidak sanggup, bagaimana mau menolak, karena perut juga semakin keroncongan - perut sendiri walau tidak masalah, belum tentu sama rasanya saat mendengar keroncongan perut anak cucu.

Yang terhimpit bisa saja melakukan revolusi, namun apa daya ndak semuanya cukup cerdas buat itu. Bagaimana mau cerdas, yang terhimpit mau mencari ilmunya saja susah, sekolah pada mahal. Kalau mau sekolah, mesti juga bisa menahan lapar, nah bagaimana mau menyerap ilmu dengan baik di antara kebisingan keroncong yang selalu berdendang di dalam perut?

Ndak salah orang bilang ini zaman edan. Yang punya kuasa ndak mau memikirkan yang memberikannya mandat atas kuasa, yang memimpin ndak peduli perut yang dipimpinnya. Lalu salah siapa negeri ini jadi carut-marut?

Minggu, 18 Maret 2012

Air dan Kehidupan

Water petal by @Doug88888
Water petal, a photo by @Doug88888 on Flickr.

Aku selalu berkata pada diriku dan dunia, bahwa air adalah sesuatu yang begitu berharga bagi kehidupan - dan bukan hanya kehidupan spesies tunggal manusia itu sendiri. Kurasa bukan hanya aku yang menyuarakan hal ini, namun setiap orang yang menyadarinya dengan segenap akal sehatnya.

Pun demikian, aku selalu dapat menemukan orang yang bisa membuang air dengan mudahnya. Semakin makmur kehidupannya, semakin melimpah air yang ia rasa "dimilikinya", semakin cenderung muncul penyia-nyiaan akan karunia alam ini. Mungkin demikianlah kita, kadang ketenangan dan kemakmuran justru melemahkan akal kita, bahkan nurani kita. Namun semakin sulit pun kadang tidak menambah kesadaran kita.

Manusia selalu membanggakan dirinya sebagai mahluk cerdas, walau tidak jarang cukup sering mengolok-olok kebodohan sesamanya.

Jadi saya sedang tidak ingin mengolok-olok siapapun yang cukup bodoh untuk tidak menyadari bahwa mereka sedang cukup egois untuk membuang-buang air yang begitu berharga bagi kehidupan.

Air di planet ini sangat sedikit meskipun tampak berlimpah. Air yang sedikit ini adalah air yang cukup layak digunakan bagi banyak kehidupan, terutama kita dan hewan/binatang di daratan. Dan jumlah air ini semakin hari semakin berkurang, terutama akibat pemakaian berlebihan dan pencemaran lingkungan.

Aku tidak tahu, berapa lama lagi air akan selalu tersedia bagi kita, yang meski tidak semua - karena tidak semua manusia di atas planet ini memiliki akses untuk air bersih.

Air dan kehidupan adalah hal yang tidak terpisahkan. Saat kita memandangnya sebagai sesuatu yang terpisah, maka mulai saat itulah kiamat bagi umat manusia telah dimulai.

Refleksi

water lily by Bahman Farzad
water lily, a photo by Bahman Farzad on Flickr.

Setiap orang pernah menemukan kesulitan atau masalah yang bahkan mungkin dia tidak mengerti bagaimana itu bisa terjadi padanya, tidak melihat mengapa bisa berdampak besar pada kehidupannya. Seakan-akan semuannya menjadi begitu gelap dan mendendangkan keputusasaan.

Jika kehidupan tidak memiliki masalah, maka mungkin itu bukan kehidupan sama sekali. Namun jika masalah kehidupan tak kunjung memiliki sebuah jalan keluar yang nyata dan mencerahkan, maka kita pun tidak bisa berkata bahwa kita sedang hidup dalam makna sesungguhnya.

Kita mungkin telah berupaya keras mencari jawabannya di luar sana. Bergulat di antara harapan akan adanya harapan dan hempasan beratnya langkah kaki kita melihat gelapnya keputusasaan. Kita mungkin telah protes berulang kali, seakan dunia tak sedikit pun memihak pada kita, dan kehidupan tak sedikit pun mengulurkan tanggannya yang maha agung.

Jika segalanya telah menjadi menjadi begitu gelap. Setidaknya mungkin masih ada satu hal yang dapat kita lakukan. Melihat ke dalam diri kita sendiri.

Jika semua tempat di luar sana gelap, maka nyalakanlah pelita kebijakan di dalam diri. Lihatlah kehidupan melalui diri kita seutuhnya.

Refleksi - melihat dengan mananggalkan segenap konsep dan paradigma yang kita miliki. Sehingga yang ada hanya kita seutuhnya, dan apa yang hadir selain kita - pastilah masalah. Jika masalah tidak tampak jua, maka bisa jadi, kitalah masalah yang sesungguhnya.

Refleksi - kemampuan menerima kehidupan tanpa upaya membenarkan dan menyalahkan. Cerminan yang selalu memperlihatkan diri kita tanpa menambahkan kemuliaan pun kehinaan.

Namun jika kita masih lari dari kehinaan, takut akan kehinaan, mengejar kemuliaan, melekat pada kemuliaan. Maka cermin kita hanyalah sebuah cermin yang penuh dengan debu. Ia tak akan pernah menjadi kolam tenang yang menggambarkan kehidupan dengan segala keelokannya.