Sabtu, 03 Desember 2011

Akan Ke Mana Piramida Garut

Dalam seminggu ini, saya memerhatikan sebuah berita lokal tentang sebuah Gunung (bukit) Sadahurip di Garut (Jawa Barat) yang kini sedang mengundang cukup banyak perhatian, lantaran diduga sementara merupakan apa yang tersisa dari struktur buatan manusia (man-made) dari masa lalu yang berbentuk menyerupai piramida. Hasilnya, topik tentang “Piramida Garut” pun bergulir dengan mengasyikkan – menurut saya tentunya.

Seandainya proposal saya 8 tahun yang lalu disetujui, mungkin sekarang saya sudah seperti Indiana Jones yang berkeliling menggali apa saja yang menarik. Sayangnya, karena tidak mendapatkan dukungan (finansial), akhirnya saya mengurungkan niat menekuni arkeologi, dan hanya menjadi penyimak berita menariknya dari seluruh dunia.

Runutan kepopuleran si Piramida Garut ini dimulai temuan Tim Bencana Katastropik Purba yang melihat kejanggalan pada bentuk gunung yang katanya dikeramatkan oleh masyarakat lokal. Janggal karena bentuknya susah dikatakan terbentuk secara alami, karena piramida lebih cenderung (dan mungkin masuk akal) jika merupakan buatan manusia. Meskipun katanya sebelum ini sudah ada tim lain yang menemukan kejanggalan ini, namun entahlah, saya terlalu malas untuk menelusuri pro dan kontra siapakah yang pertama kali menemukan kejanggalan ini.

Saya dengar sudah dilakukan beberapa pengujian, termasuk perkiraan berapa usia struktur tersebut. Meski dikatakan (diduga) lebih tua daripada usia Piramida Giza, saya harap pernyataan seperti ini tidak terlalu terburu-buru. Apalagi ada yang meragukan juga metode yang digunakan. Misalnya di saat mengatakan akan memperkirakan usia batuan, mengapa menggunakan radio dating (mungkin maksudnya radiocarbon dating) yang dalam catatan digunakan untuk mengukur peluruhan radioaktif carbon-14 yang hanya berasal dari organisme hidup? Hmm…, apa sekarang sudah bisa digunakan untuk batuan? Atau mungkin karena metode lain seperti uranium-thorium dating tidak tersedia?

Tidak heran jika muncul banyak tanda tanya kemudiannya, dan tentu saja pro dan kontra baik yang berhubungan langsung dengan subjek dan objek arkeologi ataupun yang tidak. Namun setidaknya ada perhatian untuk sebuah objek arkeologi, saya rasa itu sudah merupakan sebuah keberuntungan.

Tapi satu hal tentang arkeologi yang selalu mengusik, selain sang arkeolog, mungkin orang lain tidak akan mendapat informasi yang setepatnya mengenai objek arkeologi. Jadi ingat dengan topik bahasan buku Forbidden Archeology.

Nah, kembali ke Piramida Garut. Jika memang pemerintah ataupun lembaga di bawahnya berminat untuk melanjutkan penelitian, pembuktian hingga termasuk ekskavasi di dalamnya. Saya rasa tidak masalah, kalau memang ada, mengapa tidak kita teliti, meski saya juga agak khawatir jika nanti tiba-tiba hilang di tengah jalan karena alasan pendanaan.

Siapa tahu kita akan memiliki keajaiban dunia yang baru, atau objek wisata baru. Berpikir positif di awal mungkin adalah hal yang baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar