Rabu, 23 November 2011

Tak Suka Horror

Aku tak pernah suka hal yang berbau horor, termasuk film tentunya. Meski sepertinya banyak yang menyukainya, tapi seperti halnya durian bagiku, aku akan otomatis menjauh dari atmosfer yang seram.

Tapi bukan berarti aku tidak bisa melewati gang sepi di tengah malam, atau melintas di sekitar kuburan. Itu sih sudah bisa dibilang keseharian. Ketidaksukaanku pada sesuatu yang horor bukan berarti selaras dengan ketakutan terhadap segala sesuatu yang berbau okultis. Kurasa itu dua hal yang cukup berbeda.

Ketakutan yang sengaja dibuat-buat sering menimbulkan perasaan yang tidak nyaman. Oleh karena itulah aku tak begitu menyukainya. Kadang aku mésti bertanya-tanya, mengapa orang suka atau mendapat kesenangan dari menakuti orang lain, apalagi kadang dalam sebentuk gurauan yang melewati batas.

Kadang saya juga bisa menikmati cerita horor, jika dibumbui dengan komedi, misalnya novel ringan äla Tasogare Otome x Amnesia. Itu lucu sekali.

Senin, 21 November 2011

Akhir Perjalanan Garuda Muda

Akhirnya babak final perebutan medali emas cabang sepak bola pada Sea Games 2011 berakhir dengan kemenangan Malaysia. Yah, tim nasional kita belum berhasil mendatangkan medali emas melalui drama adu pinalti.

Cukup saya nikmati permainan malam ini, meski permainan tim kita tidak sebaik yang para penonton di tempat kami menonton harapkan. Entah mengapa rasanya ada yang kurang pas.

Pun demikian permainan garuda muda kita mesti apresiasi, inilah yang sudah diberikan. Selamat pada garuda muda. Semoga ke depannya dapat lebih sukses lagi.

Saya dengar terjadi insiden yang merengut korban jiwa di GBK, entah benar atau tidak. Ini jika benar, sungguh jadi catatan kelam yang lebih buruk dari kekalahan kita.

Senin, 14 November 2011

Harga Diri Atau Tebal Muka

Beberapa hari belakangan ini, kamarku sering riuh dengan suara-suara sorak sorai dalam acara nonton bareng kesebelasan nasional usia 23 dalam ajang SEA GAMES kali ini. Siapa yang tidak suka melihat garuda muda berlaga, setidaknya demikian kita sering dengar nama kiasannya di media.

Namun di balik kebanggaan itu semua. Kita sebagai bangsa juga sedang disindir dengan sengit oleh yang lain, karena sebagai tuan rumah - bisa kukatakan - kita telah gagal menjamu tamu dengan layak. Apalagi kalau bukan karena wahana yang digunakan banyak yang tidak siap pakai.

Dulu saat ada saran untuk menunda pelaksanaan, negara alias pemerintah memilih maju terus, padahal banyak pihak yang telah memprediksi bahwa kegagalan ini akan terjadi. Nah, sekarang sudah begini, mau apa coba?

Untuk apa pembukaan yang megah, rasa bangga, jika kita tak bisa jadi tuan rumah yang baik. Saya salut pada pekerja, para atlet kita yang sudah berpeluh-peluh. Tapi pembuat kebijakan kita malah, entah demi nama harga diri atau tebal muka membiarkan kita sebagai bangsa terhina di mata dunia.

Senin, 07 November 2011

Demam BlackBerry cuma di Indonesia?

Beberapa waktu lalu kubaca sejumlah nama penghasil (produsen) ponsel cerdas yang paling banyak menguasai pasar. Tentu saja ada nama Nokia, Samsung, Apple, bahkan ZTE. Tapi entah mengapa tidak ada nama RIM dengan ponsel BlackBerry-nya.

Saya baru sebulan ini menggunakan BlackBerry dan sudah ingin kembali menggunakan Nokia berbasis Symbian saya. Karena saya lihat untuk kondisi tertentu, saya lebih suka Symbian lama saya.

BlackBerry memang menawarkan integrasi dengan jejaring sosial yang disusun dengan apik. Tapi bukan berarti ponsel lain seperti Nokia kalah saing dengan melihat utilitasnya. Bahkan Android yang sedang naik daun-pun memiliki kemampuan yang juga memesona.

Tapi sepertinya BlackBerry kadung namanya naik daun, sehingga banyak yang suka. Tapi kadang tidak tahu bagaimana menggunakannya. Bahkan kulihat banyak pengguna BlackBerry tidak tahu apa yang namanya push mail, hanya tahu BBM saja. Seakan memiliki BlackBerry bukan untuk produltivitas, namun hanya sekadar gaya dan gaul saja.

Jadi, kadang membuat penasaran juga. Apa demam BlackBerry cuma ada di Indonesia?

Rabu, 02 November 2011

Air Terjun dan Pengetahuan Umum

Kurasa aku harus kembali ketika ingatan ini membawaku ke bangku sekolah dasar. Kurasa pelajaran ketika itu sangat sederhana, sedikit ilmu pasti (matematika dan pengetahuan alam), ilmu sosial (sejarah, pengetahuan umum), dan termasuk kajian budaya (bahasa, agama).

Yah, setiap anak pada masa itu senang dengan mengumpulkan beberapa pengetahuan umum yang baru, yang ketika itu informasi masih cukup sulit, tidak secanggih zaman Internet saat ini. Pilihannya hanya buku atau surat kabar, dan tentu saja sebagaimana sekarang demikian juga dulu, surat kabar jarang memberikan porsi yang besar untuk ilmu pengetahuan.