Minggu, 23 Oktober 2011

Dukungan Pulau Komodo–Sebuah Nasionalisme yang Salah Kaprah?

Saya mungkin pernah menulis tentang ini sebelumnya, karena topik ini belakangan ini kembali mencuat lagi. Saat ini banyak kalangan di negeri ini sibuk mencuatkan nama Pulau Komodo untuk dijadikan salah satu 7 Natural Wonders yang konon dipunggungi oleh salah satu organisasi yang entah mengapa bisa terkait dengan UNESCO.

Bahkan makin ramai dengan gencarnya himbauan untuk SMS mendukung gerakan Vote for Komodo ini.

Saya terus terang tidak ikut, dan memang dari dulu tidak setuju dengan gerakan macam ini. Termasuk ketika mendukung Borobudur. Saya melihat hal-hal seperti ini tidak esensial, buang-buang energi dan sumber daya.

Bagi saya Borobudur memang sudah keajaiban, Pulau Komodo memang sudah keajaiban, tanpa pemungutan suara dan dukungan pun jika dunia melirik, kedua tempat ini dan banyak tempat lain di negeri ini adalah keajaiban. Bayangkan di mana Anda bisa menemukan candi Buddha terbesar dari masa lalu, dan di mana Anda bisa menemukan naga terakhir di muka bumi ini kecuali di Borobudur dan Pulau Komodo.

Jika wisatawan baik lokal maupun duranagari ingin menemukan Naga Komodo, mereka akan mencari Pulau Komodo dengan sendiri, meski tanpa dimasukkan ke 7 Keajaiban Alam sekali pun.

Tidakkah Anda tahu bahkan Komodo sudah sangat terkenal di seluruh dunia, dan kini kita sedang “membuang” miliaran rupiah untuk membuatnya terkenal. Kita pasti ditertawakan oleh nenek moyang kita jika mereka tahu, dan mereka akan mengutip peribahasa “bagai menabur garam ke lautan”.

Nah, sekarang coba pikir, jika kita sudah mengeluarkan miliaran rupiah dengan energi tak terhingga dari bangsa ini. Apa yang kita dapatkan?

Kalau mau berbicara bisnis, apakah bisa dalam setidaknya 10 tahun ke depan sudah bisa mengembalikan triliunan rupiah untuk bangsa ini dan terutama mensejahterakan rakyat kita – setidaknya mereka yang bergantung hidup dari Pulau Komodo. Atau membantu reservasi area wisata ekologis kita? Kalau tidak bisa, ya kan dari sisi bisnis pun ini upaya sia-sia yang bodoh. Dan jika pun bisnis berjalan, siapa yang akan meraup untungnya? Apakah negara ini, ataukah organisasi yang memelopori gerakan 7 wonders – yang terkesan seperti mafia pariwisata itu?

Kalau mau bicara dari kebanggaan berbangsa dan bernegara. Yah, memangnya Pulau Komodo mesti masuk 7 Wonders yang tidak jelas itu sehingga Anda baru bisa bangga sebagai orang Indonesia? Lalu tidakkah Anda bangga memiliki Pulau Samosir, Burung Cendrawasih Papua atau Harimau Sumatera yang tidak masuk ke 7 Wonders ataupun Wonders of The World?

Pikiran sempit dari mana ini?

Saya lama menjadi anggota pasif UNESCO World Heritage, jika kita memang bangga dengan sesuatu yang terwariskan pada negeri ini, masukkan menjadi bagian dari warisan dunia, sehingga kita bisa menjaga dengan baik dan dunia pun menghargainya. Tidak perlu-lah sampai menjadi keajaiban segala.

Jika Anda punya cukup waktu untuk mendukung Pulau Komodo dan keindahan nusantara lainnya, mengapa tidak menulis untuk itu – misalnya. Tulisan anda akan menjadi jendela dunia untuk melihat keindahan negeri ini. Dan dengan demikian Anda sendiri akan menyadari sejauh mana Anda telah mengenal negeri ini yang katanya Anda cintai.

Saya tidak menentang gerakan “Vote Komodo”, hanya saja saya melihat betapa sia-sianya semua itu. Kita seakan mengejar kebanggaan yang sudah sejak dulu melekat erat, seolah kebanggaan itu bisa hilang. Apa yang mau kita pamerkan pada dunia? Tidakkah kita bangsa yang bersahaja?

Jangan menyalakan obor di bawah terik matahari untuk mendapatkan terang, karena hanya mereka yang buta berharap dapat melihat lebih baik dengan semua kesia-siaan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar