Kamis, 20 Oktober 2011

Daya Sastra itu Adalah Jenuh

Beberapa tenggelam dalam kesusastraan yang tak berbatas membuatku melihat banyak hal yang dilihat dalam lorong-lorong terang lainnya yang mungkin jauh lebih menalar. Jiwaku terseok dalam rima yang lirih nan indah, bak menarik sukma ke dalam bayang-bayang yang tak pernah menipis.

Jemariku memang tak mengukir sastra, mulutku memang tak berucap layaknya para pujangga, dan tentu saja nalarku bukanlah empu yang mampu membebaskan belenggu ruh-ruh dengan sekadar kata. Bukan pula ksatria yang dengan berani menancapkan penanya di antara kekeliruan yang telah menebal guna menguak apa yang telah lama sirna.

Ya, dalam susastra segalanya bisa redup, hilang sirna tertelan bumi tanpa kata.

Redupnya sebuah cahaya adalah kealamian dari segala bentuk kehadiran di jagat raya, bagi segala sesuatu yang terlahirkan, ketiadaan adalah sebuah kepastian – laksana dua sisi keping mata uang, begitu menyatu.

Segalanya menjadi sejenuh lumpur di tepian rawa.

Namun jenuh adalah semua yang kita perlukan – ah…, setidaknya semua yang kuperlukan.

Jenuh membuat batin seketika berontak dengan ketidakberdayaan untuk menelurkan perubahan, jenuh menciptakan letupan karsa yang selama terbelenggu dalam marga dengan ranah abu-abu.

Jenuh bak jiwa yang terbenam ke dalam lumpur pekat, insting bertahan hidupnya akan dengan sendirinya berusaha melecut naik meski sambil megap-megap mencoba mencuri napas kreativitas yang telah lama tiada.

Jiwa yang diketuk kematian adalah batin yang penuh kehidupan.

Kreativitas itu ada di sana, sastra itu ada di situ, di setiap butiran embun yang tampak melepuh nikmat di antara sinar pagi, di ujung-ujung angin yang merumbai angan dan memilinnya menjadi syair penuh kasih.

Jadi untuk lahir kembali, jenuhlah, tenggelamlah dan instingmu akan menyelamatkanmu dengan memetik kemurnian yang menghidupkan setiap rasa, cipta dan karsamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar