Rabu, 26 Oktober 2011

Kita Adalah Penyebar Hoax yang Polos

Anda mungkin sudah tahu apa itu hoax, berita bohong yang menyebar dengan cepat di media, baik yang daring maupun luring. Bahkan tak jarang mengenai tokoh-tokoh masyarakat dan media massa ternama.

Hoax sangat menarik perhatian seseorang karena mengandunh unsur sensasional dan mendorong urge to spread it - rasa mendesak untuk segera turut serta menyebarkannya, apalagi sumbernya adalah orang ternama, media massa dan sajabat baik.

Saking polosnya, kita sering percaya begitu saja Tampa sadar bahwa kita turut serta dalam sebuah pembohongan publik.

Saya pahan bahwa sebuah informasi itu berharga. Namun akan lebih baik jika kita menyeleksi dan meneliti kembali informasi yang kita dapatkan sebelum menyebarkannya.

Minggu, 23 Oktober 2011

Dukungan Pulau Komodo–Sebuah Nasionalisme yang Salah Kaprah?

Saya mungkin pernah menulis tentang ini sebelumnya, karena topik ini belakangan ini kembali mencuat lagi. Saat ini banyak kalangan di negeri ini sibuk mencuatkan nama Pulau Komodo untuk dijadikan salah satu 7 Natural Wonders yang konon dipunggungi oleh salah satu organisasi yang entah mengapa bisa terkait dengan UNESCO.

Bahkan makin ramai dengan gencarnya himbauan untuk SMS mendukung gerakan Vote for Komodo ini.

Saya terus terang tidak ikut, dan memang dari dulu tidak setuju dengan gerakan macam ini. Termasuk ketika mendukung Borobudur. Saya melihat hal-hal seperti ini tidak esensial, buang-buang energi dan sumber daya.

Bagi saya Borobudur memang sudah keajaiban, Pulau Komodo memang sudah keajaiban, tanpa pemungutan suara dan dukungan pun jika dunia melirik, kedua tempat ini dan banyak tempat lain di negeri ini adalah keajaiban. Bayangkan di mana Anda bisa menemukan candi Buddha terbesar dari masa lalu, dan di mana Anda bisa menemukan naga terakhir di muka bumi ini kecuali di Borobudur dan Pulau Komodo.

Jika wisatawan baik lokal maupun duranagari ingin menemukan Naga Komodo, mereka akan mencari Pulau Komodo dengan sendiri, meski tanpa dimasukkan ke 7 Keajaiban Alam sekali pun.

Tidakkah Anda tahu bahkan Komodo sudah sangat terkenal di seluruh dunia, dan kini kita sedang “membuang” miliaran rupiah untuk membuatnya terkenal. Kita pasti ditertawakan oleh nenek moyang kita jika mereka tahu, dan mereka akan mengutip peribahasa “bagai menabur garam ke lautan”.

Nah, sekarang coba pikir, jika kita sudah mengeluarkan miliaran rupiah dengan energi tak terhingga dari bangsa ini. Apa yang kita dapatkan?

Kalau mau berbicara bisnis, apakah bisa dalam setidaknya 10 tahun ke depan sudah bisa mengembalikan triliunan rupiah untuk bangsa ini dan terutama mensejahterakan rakyat kita – setidaknya mereka yang bergantung hidup dari Pulau Komodo. Atau membantu reservasi area wisata ekologis kita? Kalau tidak bisa, ya kan dari sisi bisnis pun ini upaya sia-sia yang bodoh. Dan jika pun bisnis berjalan, siapa yang akan meraup untungnya? Apakah negara ini, ataukah organisasi yang memelopori gerakan 7 wonders – yang terkesan seperti mafia pariwisata itu?

Kalau mau bicara dari kebanggaan berbangsa dan bernegara. Yah, memangnya Pulau Komodo mesti masuk 7 Wonders yang tidak jelas itu sehingga Anda baru bisa bangga sebagai orang Indonesia? Lalu tidakkah Anda bangga memiliki Pulau Samosir, Burung Cendrawasih Papua atau Harimau Sumatera yang tidak masuk ke 7 Wonders ataupun Wonders of The World?

Pikiran sempit dari mana ini?

Saya lama menjadi anggota pasif UNESCO World Heritage, jika kita memang bangga dengan sesuatu yang terwariskan pada negeri ini, masukkan menjadi bagian dari warisan dunia, sehingga kita bisa menjaga dengan baik dan dunia pun menghargainya. Tidak perlu-lah sampai menjadi keajaiban segala.

Jika Anda punya cukup waktu untuk mendukung Pulau Komodo dan keindahan nusantara lainnya, mengapa tidak menulis untuk itu – misalnya. Tulisan anda akan menjadi jendela dunia untuk melihat keindahan negeri ini. Dan dengan demikian Anda sendiri akan menyadari sejauh mana Anda telah mengenal negeri ini yang katanya Anda cintai.

Saya tidak menentang gerakan “Vote Komodo”, hanya saja saya melihat betapa sia-sianya semua itu. Kita seakan mengejar kebanggaan yang sudah sejak dulu melekat erat, seolah kebanggaan itu bisa hilang. Apa yang mau kita pamerkan pada dunia? Tidakkah kita bangsa yang bersahaja?

Jangan menyalakan obor di bawah terik matahari untuk mendapatkan terang, karena hanya mereka yang buta berharap dapat melihat lebih baik dengan semua kesia-siaan itu.

Buatkan Aturan Tentang SMS Masal

Sudah tidak aneh lagi di negeri ini banyak penipuan yang menggunakan jalur SMS (pesan singkat) pada perangkat seluler. Tapi bukannya berkurang, justru modusnya kian beragam dan kreatif.

Salah satunya adalah SMS masal yang berupa permintaan pulsa atau sekadar menyatakan konfirmasi transfer rekening. Sebenarnya fasilitas SMS masal itu bisa memudahkan. Tapi ya kalau disalahgunakan ya susah juga kan.

Mengapa tidak dibuat regulasi saja ya, misalnya paling banyak sekali SMS hanya ke 10 nomor, meski saya tidak yakin juga bisa melawan kreativitas oknum pelaku.

Tapi bercermin pada penggunaan email misalnya, pengiriman surat eloktronik kan dibatasi untuk menghindari spam. Perusahaan besar seperti Google dan Yahoo menerapkan ini, kenapa SMS justru tidak bisa?

Jika memang mau ke banyak nomor, ya gunakan gryp terdaftar. Atau buat sistem anti SMS spam dan penipuan. Masakah di negeri ini tidak bisa?

Sabtu, 22 Oktober 2011

Hati Tak Lagi Bermata

Malam tadi saya menyaksikan berita bahwa gadis yang ditabrak lari yang menimbulkan kehebohan itu akjirnya tak tertolong juga di rumah sakit.

Kejadian tabrak lari itu sendiri tak dapat dibenarkan, dan yang lebih menyesakkan lagi adalah lalu lalang orang-orang yang tak acuh akan bocah dua tahun yang tergeletak bersimbah darah.

Ada apa sebenarnya dengan rasa kemanusiaan negeri tirai bambu Cina ini? Mengapa orang bisa menjadi begitu tak bertanggung jawab, dan bahkan tidak peduli.

Meski pun mungkin memang sudah waktunya bagi bocah malang itu untuk berpulang, tapi tidak berarti bukan rada kemanusiaan itu seakan hilang tak berbekas.

Saya tidak tahu, apakah di negeri ini juga demikian. Namun saya harap tidak. Karena hati manusia selayaknya tidak buta.

Kamis, 20 Oktober 2011

Daya Sastra itu Adalah Jenuh

Beberapa tenggelam dalam kesusastraan yang tak berbatas membuatku melihat banyak hal yang dilihat dalam lorong-lorong terang lainnya yang mungkin jauh lebih menalar. Jiwaku terseok dalam rima yang lirih nan indah, bak menarik sukma ke dalam bayang-bayang yang tak pernah menipis.

Jemariku memang tak mengukir sastra, mulutku memang tak berucap layaknya para pujangga, dan tentu saja nalarku bukanlah empu yang mampu membebaskan belenggu ruh-ruh dengan sekadar kata. Bukan pula ksatria yang dengan berani menancapkan penanya di antara kekeliruan yang telah menebal guna menguak apa yang telah lama sirna.

Ya, dalam susastra segalanya bisa redup, hilang sirna tertelan bumi tanpa kata.

Redupnya sebuah cahaya adalah kealamian dari segala bentuk kehadiran di jagat raya, bagi segala sesuatu yang terlahirkan, ketiadaan adalah sebuah kepastian – laksana dua sisi keping mata uang, begitu menyatu.

Segalanya menjadi sejenuh lumpur di tepian rawa.

Namun jenuh adalah semua yang kita perlukan – ah…, setidaknya semua yang kuperlukan.

Jenuh membuat batin seketika berontak dengan ketidakberdayaan untuk menelurkan perubahan, jenuh menciptakan letupan karsa yang selama terbelenggu dalam marga dengan ranah abu-abu.

Jenuh bak jiwa yang terbenam ke dalam lumpur pekat, insting bertahan hidupnya akan dengan sendirinya berusaha melecut naik meski sambil megap-megap mencoba mencuri napas kreativitas yang telah lama tiada.

Jiwa yang diketuk kematian adalah batin yang penuh kehidupan.

Kreativitas itu ada di sana, sastra itu ada di situ, di setiap butiran embun yang tampak melepuh nikmat di antara sinar pagi, di ujung-ujung angin yang merumbai angan dan memilinnya menjadi syair penuh kasih.

Jadi untuk lahir kembali, jenuhlah, tenggelamlah dan instingmu akan menyelamatkanmu dengan memetik kemurnian yang menghidupkan setiap rasa, cipta dan karsamu.