Senin, 11 Juli 2011

Bukankah Lebih Baik Tak Usah Berdasi

Saya memerhatikan banyak sekolah-sekolah menengah membuat seragam mereka sedemikian rupa dipasangkan dengan dasi. Namun tidak sedikit bahwa kemudian sebagian besar siswanya tidak mengenakan dasi dengan "sewajarnya".

Entah karena dua atau tiga biji kancing dari kerah bacu terlepas, atau dasi menggantung longgar tidak karuan. Jadi malah mirip handuk pengelap keringat yang digantungkan di leher. Ataukah trend penggunaan dasi memang sudah berubah sekarang?

Negara kita memang negara tropis, saya mengerti mengenakan dasi setengah hari lebih di ruang kelas atau di lingkungan sekolah yang panas terpanggang matahari bukanlah hal yang membuat nyaman. Sehingga trend memakai dasi gaya baru ini mungkin semakin menjamur jadinya di mana-mana, apalagi ditambah tayangan sinetron remaja yang menunjukkan "kampanye trend" serupa ini.

Sebenarnya mungkin kalau hanya sekadar mengejar "trend" berdasi, sekolah sih tidak perlu terburu-buru menjadikan dasi sebagai bagian dari kelengkapan seragam sekolah. Apalagi jika pada akhirnya malah tidak pas dengan yang diharapkan.

Mengenakan dasi memerlukan disiplin, dan berdisiplin memerlukan kesadaran. Tentunya kesadaran adalah apa yang menjadikan seorang manusia itu manusia. Kalau memang tidak bisa berdasi dengan baik, ya tidak perlulah berdasi, kan lumayan juga menghemat anggaran seragam sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar