Kamis, 26 Mei 2011

Kepedulian itu Nyata Berbeda

Beberapa waktu belakangan ini, saya memerhatikan ada sebuah tayangan iklan di televisi yang sedikit menyita perhatian saya karena konten iklannya. Anehnya saya sendiri tidak begitu ingat, iklan tersebut siapa dan apa yang menjadi subjeknya. Jika saya tidak keliru mengingat mungkin sebuah iklan tentang bahan pangan yang mengandung kalsium.

Yang menarik perhatian saya adalah, sebuah cuplikan dalam iklan tersebut yang menampilkan animasi seekor kepiting memiliki tulang belulang yang kuat di dalam tubuhnya.

Mengapa ini menarik?

Saya tidak tahu, apakah yang membuat konsep, menyusun animasi ataukah bagian penyuntingan yang meloloskan iklan ini yang sebenarnya kurang menaruh perhatian, bahwa seekor kepiting, sebagaimana crustacea lainnya adalah kelompok hewan dengan eksoskeleton. Bagaimana mungkin mereka melewatkan ini? Atau mereka tidak menaruh perhatian pada pelajaran biologi dulu?

Jika mereka sengaja mendesain iklan tersebut seperti itu. Apalagi targetnya adalah anak-anak kecil usia sekolah, saya kira malah lebih buruk lagi. Meski mungkin tujuannya untuk menarik perhatian, namun iklan yang memberikan informasi palsu secara sengaja atau tidak, saya rasa tidak memiliki nilai pendidikan sama sekali. Anak-anak, bisa jadi menyerap informasi keliru ini dan menyimpannya secara sadar ataupun tidak.

Atau singkat katanya. Mereka yang telah membuat iklan seperti ini bisa ditayangkan di televisi, sama sekali tidak memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan kita.

Tentu saja ada beberapa "comercial breaks" yang memang memiliki nilai edukasi, karena sengaja ditanamkan demikian. Namun ternyata, tidak semua memiliki kepedulian yang sama, dan ya, kepedulian yang berbeda itu, nyata adanya.

Kamis, 12 Mei 2011

Malam Tanpa Bintang

Entah karena hidup di zaman yang berbeda, ataukah hidup di peradaban yang telah banyak berubah. Aku menemukan bahwa banyak orang di masa kini, mungkin sebagian besar generasi muda mengalami malam-malam tanpa bintang.

Bukan bintang di angkasa telah hilang, atau karena - meski memang - tak bisa kupungkiri, bahwa cahaya mereka telah lama tercuri oleh sumber-sumber cahaya buatan manusia yang mengusir gelap malam ke dalam hamparan terang. Namun lebih dari itu, aku mungkin yang termasuk kehilangan kepedulian, sehingga melalui malam tanpa bintang.

Kadang bagiku, rasanya hanya sayang jika mesti cuma memandang bintang dari ujung kenangan, atau dari selembar halaman buku atau gambar-gambar di dunia maya, padahal semua itu selalu ada di luar sana jika kuingin menyulang damai bersama mereka pada suatu malam.

Bahkan, mereka yang terpelajar, yang melek dunia maya dan teknologi, yang tak asing dengan si "milky way", nyatanya tidak dapat setiap saat, bahkan mungkin (nyaris) tak pernah memandang melankoli bima sakti sama sekali. Yah, sebagian dari kita hanya cukup puas dengan kata pintar yang tercap resmi dengan hitam di atas putih, sementara tak kenal bahkan tak peduli dengan kehidupan dan nyala semesta yang ada di luar sana.

Kita terkurung dengan rutinitas kita, terkukung kenyamanan kita, dan terhalang ketidakacuhan kita sendiri. Jadi jangan salahkan siapa-siapa jika kita selama ini selalu melewati malam tanpa bintang.