Kamis, 24 Februari 2011

Tebal Muka atau Tanpa Nurani?

Di nusantara (setidaknya di Jawa dan sekitarnya) sedang dipenuhi pekikan "Nurdin Turun!" oleh para penggemar olah raga sepak bola dari pelbagai elemen. Bahkan saya yang tidak suka menyimak berita olahraga dan politik pun bisa disambangi juga oleh berita ini.

Masyarakat penggemar bola (sebut saja demikian) tidak rela Nurdin - sang ketua lama PSSI menjabat kembali. Katanya sih karena PSSI di bawah kepemimpinannya justru menjadi lembaga korup (padahal seharusnya menjunjung tinggi sportifitas), dan persepekbolaan nasional menjadi makin terpuruk yang kemudian berujung munculnya LSI sebagai titik balik upaya mereka yang peduli sepak bola untuk memperbaiki dan membangkitkan sepak bola nasional.

Masyarakat penggemar bola (masih saya sebut demikian), sebenarnya sudah sejak dulu meminta Nurdin turun dari jabatan ketua, eh..., tapi ternyata tidak demikian.

Kini justru keberangan masyarakat pecinta bola semakin menjadi-jadinya, bukannya Nurdin turun dari kursi ketua, malah terpilih lagi sebagai calon ketua PSSI periode selanjutnya. Semuanya protes, di seluruh media ada suara protes, yang anehnya (atau justru tidak sama sekali) bahwa tidak ada suara yang mendukung Nurdin untuk melanjutkan jadi ketua (lagi).

Kalau saya diprotes sedemikian rupa, sih saya rasa saya tidak akan bersedia lagi mengambil jabatan. Meskipun saya merasa tidak salah, itu namanya tahu diri, tapi tampaknya pak ketua lama ini justru tebal muka.

Pun ternyata memang terbukti tidak memberikan kebaikan bagi organisasi, sudah selayaknya turun dan serahkan kesempatan pada orang lain yang mungkin bisa memberikan yang lebih baik. Apalagi banyak suara meminta demikian (dengan bulat), itu namanya bernurani. Eh..., tapi tampaknya juga nurani tak tampak.

Saya tidak tahu menahu tentang obat tebal muka dan tak bernurani. Yang saya inginkan adalah sedikit kondisi tenang, media sudah terlalu banyak dengan hastag #nurdinturun, apa ndak bosan apa, kalau saya sih sudah jenuh sekali.

--------------------------------------------------------------
Ovi Mail: Making email access easy
http://mail.ovi.com

Sabtu, 19 Februari 2011

Film Asing Ditarik?

Tulisan Mbak Dos yang berjudul “Selamat Tinggal Hollywood?” memberi sebuah celetukan besar tadi pagi. Saya pada awalnya hanya menganggap angin lalu saja, karena toh itu rasanya terlalu ekstrem untuk terjadi.

Tapi nyatanya tidak, kalau kita membaca di pelbagai media dunia maya, ternyata isu ini juga lumayan menggelisahkan banyak pihak. Namun di sisi lain juga melegakan banyak pihak lainnya.

Yang paling terhenyak pastinya penggemar film berkualitas tinggi, mereka tidak lagi bisa menikmati film-film animasi sekelas besutan Pixar, Disney atau DreamWorks. Tidak ada lagi film-film drama berkualitas ala August Rush, atau film-film laga ala Transformer dan keindahan spesial efek Avatar.

Sedangkan tentunya penyedia jasa penjualan film asing pastinya akan merasa lega, karena mereka akan diburu. He he…, terutama sepertinya yang menyediakan film bajakan, karena orang tidak memiliki pilihan lain. Membeli film asing asli akan bisa jadi terlalu mahal (daripada menonton di bioskop atau membeli bajakan), dan film asli setidaknya baru bisa dinikmati jika memiliki sebuah home theater yang mumpuni.

Konon katanya ini bisa mendongkrak produksi film-film lokal (nasional), ha ha…, bisa jadi, tapi mendongkrak penggemar – nanti dulu! Saya sendiri tidak yakin ini bisa mendongkrak penggemar, apalagi melihat perkembangan film nasional yang tidak terlalu banyak kemajuan, komedi, horor atau pun sinema keluarga tidak ada penambahan kualitas bermakna. Belum lagi adanya unsur-unsur peniruan film lokal dari film asing, kesannya belum kreatif mungkin ya.

Entahlah, sepertinya seseorang tengah membangun mimpi di antara penerapan aturan baru.

Saya tidak tahu apakah pemerintah sedang kekurangan dana sehingga membuat aturan bea masuk yang begitu unik (konon tidak ada di negara lainnya di planet ini).

Saya berharap perfilman nasional membaik dari segi kualitas (ndak usah kuantitas-lah), namun bukan berarti membaik karena tidak ada saingan di kandang sendiri.

Rabu, 16 Februari 2011

Nuklir atau Panas Bumi?

Belakangan ini sedang asyik membahas isu tentang mengembangan sumber energi alternatif. Negeri ini konon semakin mengalami krisis energi, terutama listrik yang angka pemakaiannya kian meningkat. Bagaimana tidak, semakin banyak jumlah penduduk otomatis konsumsi energi akan bertambah, yah bodohnya bilang saja begitu.

Kini pemerintah, dalam hal ini yang bertanggung jawab mencari sumber energi baru mulai kembali mencoba mengimplementasikan penyediaan energi listrik dengan menggunakan tenaga nuklir (PLTN). Tentu saja ini menimbulkan pro dan kontra.

PLTN adalah sumber energi yang menjanjikan, itu dari mata seorang yang tidak mendalami ilmu tersebut. Saya hanya pendengar berita, jadi tidak mengerti kalkulasi pastinya.

Lihat saja Prancis, sebuah negara padat penduduk, kecil lagi. Konon lebih dari 80% pasokan listriknya berasal dari beberapa pembangkit listrik tenaga nuklir, bahkan ini membuat Prancis nyaris bebas ketergantungan bahan bakar fosil untuk menyediakan listrik, dan tentu saja setelah berkutat lama dengan nuklir ini menjadikan Prancis salah satu negara dengan pengembangan ilmu dan teknologi nuklir termaju di dunia.

Ah, saya tidak tahu bagaimana Prancis bisa semaju itu. Tapi apa Indonesia bisa? Belum berdiri saja sudah pada panik dan ketakutan, melihat ke belakang pada kisah Cernobyl yang malang. Ya, secara mental kita tidak siap. Dan saya rasa sebaiknya kita tidak mengambil langkah jika kita tidak siap secara mental.

Efek nuklir jika terjadi kesalahan, hmm..., kita bisa bayangkan sebuah neraka yang tak terbayangkan di muka bumi. Mengerikan mungkin. Sayangnya di Indonesia terlalu sering terjadi kesalahan seperti ini, dari kecelakaan lalu lintas hingga lumpur lapindo adalah contohnya. Ah, susah kan membayangkannya. Bahkan ada yang berguyon, jika tabung gas hijau 3 kg saja bisa meledak, apalagi nuklir.

Energi alternatif lain yang muncul adalah panas bumi. Termasuk kategori pembangkit listrik paling ramah lingkungan setahu saya. Tapi sayangnya, katanya sih daerahnya banyak yang tidak strategis. Kadang asyik juga menyimak perdebatan antara mereka yang pro dan kontra masalah pembangunan PLTN ini.

Pemerintah memberikan garansi bahwa nuklir bisa menjadi sumber energi yang bersih dan aman, namun beberapa pendapat lain menyatakan bahwa nuklir tidak sepenuhnya aman, apalagi kemudian menyangkut limbah nuklirnya. Jadi menuntut pemerintah lebih kreatif mencari sumber energi alternatif seperti tenaga panas bumi atau batu bara di mana negara kita kaya akan kedua sumber energi itu.

Lalu bagaimana pendapat anda tentang pengayaan energi nuklir di tanah air?

--------------------------------------------------------------
Ovi Mail: Making email access easy
http://mail.ovi.com

Jumat, 04 Februari 2011

Jawaban yang Memuaskan

Salah satu yang menjadi dasar enigma yang membentuk kehidupan adalah berangkai pertanyaan yang membentuk lengkung-lengkung waktu setiap pijakan kaki dan takdir insani. Dan jawaban yang dituju untuk setiap pertanyaan tentang kehidupan menjadi sama dalamnya dengan seteguk napas yang menggantung masa kini untuk kemudian jatuh dan menghilang.

Setiap jawaban silih berganti menuntut beberapa hal yang telah didaftarkan bahkan sebelum pertanyaan itu sendiri hadir ke dalam padang rumput luas yang disebut keberadaan ini. Salah satunya adalah tuntutan akan kepastian. Tanpa kepastian, jawaban tidak akan dapat dikatakan memuaskan.

Aku memiliki banyak pertanyaan terhampar lembut dalam pandanganku yang mulai lelah. Beberapa di antaranya hanyalah kendi-kendi kosong yang telah retak karena waktu. Sehingga esensinya telah berhembus bersama debu-debu yang tak mungkin kembali.

Lalu apa yang mesti kupertanyakan demikian, dalam kekosongan yang telah mengisi dirinya sendiri, aku tak memiliki apa-apa lagi. Hanya tinggal lelah di antara guliran waktu. Maka pertanyaan itu telah menjadi nirrupa, dan jawabannya pun akan cukup memuaskan tanpa kata-kata.

Karena kekosongan ini akan membuatku berhenti dalam damai selamanya.

--------------------------------------------------------------
Ovi Mail: Making email access easy
http://mail.ovi.com