Sabtu, 03 Desember 2011

Akan Ke Mana Piramida Garut

Dalam seminggu ini, saya memerhatikan sebuah berita lokal tentang sebuah Gunung (bukit) Sadahurip di Garut (Jawa Barat) yang kini sedang mengundang cukup banyak perhatian, lantaran diduga sementara merupakan apa yang tersisa dari struktur buatan manusia (man-made) dari masa lalu yang berbentuk menyerupai piramida. Hasilnya, topik tentang “Piramida Garut” pun bergulir dengan mengasyikkan – menurut saya tentunya.

Seandainya proposal saya 8 tahun yang lalu disetujui, mungkin sekarang saya sudah seperti Indiana Jones yang berkeliling menggali apa saja yang menarik. Sayangnya, karena tidak mendapatkan dukungan (finansial), akhirnya saya mengurungkan niat menekuni arkeologi, dan hanya menjadi penyimak berita menariknya dari seluruh dunia.

Kamis, 01 Desember 2011

Kue Pertemuan

Saya kira sudah menjadi standar bahwa di manapun ada acara pertemuan yang formal, maka santap camilan setidaknya mesti tersedia. Kuenya pun beraneka jenis, meski mungkin untuk daerah non metropolitan seperti di sekitar saya, maka kebanyakan kue tradisional yang jadi pilihan.

Saya bahkan ingat, pertemuan OSIS zaman SMA pun tak luput dari kebutuhan dalam anggaran konsumsi (camilan). Dan sepertinya budaya atau hal serupa terbawa hingga ke dunia kerja profesional.

Beberapa orang berkata bahwa itu sudah lumrah, tapi tak jarang menuai protes, apalagi jika acara pertemuan tidak memberikan hasil sebagaimana yqng diharapkan - konsumsi pun bisa jadi batu lampiasan.

Saya tidak protes pada hal-hal seperti ini. Memang masuk di akal bahwa orang sulit berkomunikasi apalagi yang memerlukan berpikir jika perutnya kosong, tapi ya mesti diingat juga, hal sebaliknya juga bisa berefek serupa.

Dan tentunya, asal tidak lebih besar pasak daripada tiang, itu sah saja. Meski pun kadang adegan yang ditampilkan dalam rapat-rapat kaum elit di film-film Barat, hanya menyuguhkan segelas besar air putih pada pesertanya, bisa sangat memukau.

Rabu, 23 November 2011

Tak Suka Horror

Aku tak pernah suka hal yang berbau horor, termasuk film tentunya. Meski sepertinya banyak yang menyukainya, tapi seperti halnya durian bagiku, aku akan otomatis menjauh dari atmosfer yang seram.

Tapi bukan berarti aku tidak bisa melewati gang sepi di tengah malam, atau melintas di sekitar kuburan. Itu sih sudah bisa dibilang keseharian. Ketidaksukaanku pada sesuatu yang horor bukan berarti selaras dengan ketakutan terhadap segala sesuatu yang berbau okultis. Kurasa itu dua hal yang cukup berbeda.

Ketakutan yang sengaja dibuat-buat sering menimbulkan perasaan yang tidak nyaman. Oleh karena itulah aku tak begitu menyukainya. Kadang aku mésti bertanya-tanya, mengapa orang suka atau mendapat kesenangan dari menakuti orang lain, apalagi kadang dalam sebentuk gurauan yang melewati batas.

Kadang saya juga bisa menikmati cerita horor, jika dibumbui dengan komedi, misalnya novel ringan äla Tasogare Otome x Amnesia. Itu lucu sekali.

Senin, 21 November 2011

Akhir Perjalanan Garuda Muda

Akhirnya babak final perebutan medali emas cabang sepak bola pada Sea Games 2011 berakhir dengan kemenangan Malaysia. Yah, tim nasional kita belum berhasil mendatangkan medali emas melalui drama adu pinalti.

Cukup saya nikmati permainan malam ini, meski permainan tim kita tidak sebaik yang para penonton di tempat kami menonton harapkan. Entah mengapa rasanya ada yang kurang pas.

Pun demikian permainan garuda muda kita mesti apresiasi, inilah yang sudah diberikan. Selamat pada garuda muda. Semoga ke depannya dapat lebih sukses lagi.

Saya dengar terjadi insiden yang merengut korban jiwa di GBK, entah benar atau tidak. Ini jika benar, sungguh jadi catatan kelam yang lebih buruk dari kekalahan kita.

Senin, 14 November 2011

Harga Diri Atau Tebal Muka

Beberapa hari belakangan ini, kamarku sering riuh dengan suara-suara sorak sorai dalam acara nonton bareng kesebelasan nasional usia 23 dalam ajang SEA GAMES kali ini. Siapa yang tidak suka melihat garuda muda berlaga, setidaknya demikian kita sering dengar nama kiasannya di media.

Namun di balik kebanggaan itu semua. Kita sebagai bangsa juga sedang disindir dengan sengit oleh yang lain, karena sebagai tuan rumah - bisa kukatakan - kita telah gagal menjamu tamu dengan layak. Apalagi kalau bukan karena wahana yang digunakan banyak yang tidak siap pakai.

Dulu saat ada saran untuk menunda pelaksanaan, negara alias pemerintah memilih maju terus, padahal banyak pihak yang telah memprediksi bahwa kegagalan ini akan terjadi. Nah, sekarang sudah begini, mau apa coba?

Untuk apa pembukaan yang megah, rasa bangga, jika kita tak bisa jadi tuan rumah yang baik. Saya salut pada pekerja, para atlet kita yang sudah berpeluh-peluh. Tapi pembuat kebijakan kita malah, entah demi nama harga diri atau tebal muka membiarkan kita sebagai bangsa terhina di mata dunia.

Senin, 07 November 2011

Demam BlackBerry cuma di Indonesia?

Beberapa waktu lalu kubaca sejumlah nama penghasil (produsen) ponsel cerdas yang paling banyak menguasai pasar. Tentu saja ada nama Nokia, Samsung, Apple, bahkan ZTE. Tapi entah mengapa tidak ada nama RIM dengan ponsel BlackBerry-nya.

Saya baru sebulan ini menggunakan BlackBerry dan sudah ingin kembali menggunakan Nokia berbasis Symbian saya. Karena saya lihat untuk kondisi tertentu, saya lebih suka Symbian lama saya.

BlackBerry memang menawarkan integrasi dengan jejaring sosial yang disusun dengan apik. Tapi bukan berarti ponsel lain seperti Nokia kalah saing dengan melihat utilitasnya. Bahkan Android yang sedang naik daun-pun memiliki kemampuan yang juga memesona.

Tapi sepertinya BlackBerry kadung namanya naik daun, sehingga banyak yang suka. Tapi kadang tidak tahu bagaimana menggunakannya. Bahkan kulihat banyak pengguna BlackBerry tidak tahu apa yang namanya push mail, hanya tahu BBM saja. Seakan memiliki BlackBerry bukan untuk produltivitas, namun hanya sekadar gaya dan gaul saja.

Jadi, kadang membuat penasaran juga. Apa demam BlackBerry cuma ada di Indonesia?

Rabu, 02 November 2011

Air Terjun dan Pengetahuan Umum

Kurasa aku harus kembali ketika ingatan ini membawaku ke bangku sekolah dasar. Kurasa pelajaran ketika itu sangat sederhana, sedikit ilmu pasti (matematika dan pengetahuan alam), ilmu sosial (sejarah, pengetahuan umum), dan termasuk kajian budaya (bahasa, agama).

Yah, setiap anak pada masa itu senang dengan mengumpulkan beberapa pengetahuan umum yang baru, yang ketika itu informasi masih cukup sulit, tidak secanggih zaman Internet saat ini. Pilihannya hanya buku atau surat kabar, dan tentu saja sebagaimana sekarang demikian juga dulu, surat kabar jarang memberikan porsi yang besar untuk ilmu pengetahuan.

Rabu, 26 Oktober 2011

Kita Adalah Penyebar Hoax yang Polos

Anda mungkin sudah tahu apa itu hoax, berita bohong yang menyebar dengan cepat di media, baik yang daring maupun luring. Bahkan tak jarang mengenai tokoh-tokoh masyarakat dan media massa ternama.

Hoax sangat menarik perhatian seseorang karena mengandunh unsur sensasional dan mendorong urge to spread it - rasa mendesak untuk segera turut serta menyebarkannya, apalagi sumbernya adalah orang ternama, media massa dan sajabat baik.

Saking polosnya, kita sering percaya begitu saja Tampa sadar bahwa kita turut serta dalam sebuah pembohongan publik.

Saya pahan bahwa sebuah informasi itu berharga. Namun akan lebih baik jika kita menyeleksi dan meneliti kembali informasi yang kita dapatkan sebelum menyebarkannya.

Minggu, 23 Oktober 2011

Dukungan Pulau Komodo–Sebuah Nasionalisme yang Salah Kaprah?

Saya mungkin pernah menulis tentang ini sebelumnya, karena topik ini belakangan ini kembali mencuat lagi. Saat ini banyak kalangan di negeri ini sibuk mencuatkan nama Pulau Komodo untuk dijadikan salah satu 7 Natural Wonders yang konon dipunggungi oleh salah satu organisasi yang entah mengapa bisa terkait dengan UNESCO.

Bahkan makin ramai dengan gencarnya himbauan untuk SMS mendukung gerakan Vote for Komodo ini.

Saya terus terang tidak ikut, dan memang dari dulu tidak setuju dengan gerakan macam ini. Termasuk ketika mendukung Borobudur. Saya melihat hal-hal seperti ini tidak esensial, buang-buang energi dan sumber daya.

Bagi saya Borobudur memang sudah keajaiban, Pulau Komodo memang sudah keajaiban, tanpa pemungutan suara dan dukungan pun jika dunia melirik, kedua tempat ini dan banyak tempat lain di negeri ini adalah keajaiban. Bayangkan di mana Anda bisa menemukan candi Buddha terbesar dari masa lalu, dan di mana Anda bisa menemukan naga terakhir di muka bumi ini kecuali di Borobudur dan Pulau Komodo.

Jika wisatawan baik lokal maupun duranagari ingin menemukan Naga Komodo, mereka akan mencari Pulau Komodo dengan sendiri, meski tanpa dimasukkan ke 7 Keajaiban Alam sekali pun.

Tidakkah Anda tahu bahkan Komodo sudah sangat terkenal di seluruh dunia, dan kini kita sedang “membuang” miliaran rupiah untuk membuatnya terkenal. Kita pasti ditertawakan oleh nenek moyang kita jika mereka tahu, dan mereka akan mengutip peribahasa “bagai menabur garam ke lautan”.

Nah, sekarang coba pikir, jika kita sudah mengeluarkan miliaran rupiah dengan energi tak terhingga dari bangsa ini. Apa yang kita dapatkan?

Kalau mau berbicara bisnis, apakah bisa dalam setidaknya 10 tahun ke depan sudah bisa mengembalikan triliunan rupiah untuk bangsa ini dan terutama mensejahterakan rakyat kita – setidaknya mereka yang bergantung hidup dari Pulau Komodo. Atau membantu reservasi area wisata ekologis kita? Kalau tidak bisa, ya kan dari sisi bisnis pun ini upaya sia-sia yang bodoh. Dan jika pun bisnis berjalan, siapa yang akan meraup untungnya? Apakah negara ini, ataukah organisasi yang memelopori gerakan 7 wonders – yang terkesan seperti mafia pariwisata itu?

Kalau mau bicara dari kebanggaan berbangsa dan bernegara. Yah, memangnya Pulau Komodo mesti masuk 7 Wonders yang tidak jelas itu sehingga Anda baru bisa bangga sebagai orang Indonesia? Lalu tidakkah Anda bangga memiliki Pulau Samosir, Burung Cendrawasih Papua atau Harimau Sumatera yang tidak masuk ke 7 Wonders ataupun Wonders of The World?

Pikiran sempit dari mana ini?

Saya lama menjadi anggota pasif UNESCO World Heritage, jika kita memang bangga dengan sesuatu yang terwariskan pada negeri ini, masukkan menjadi bagian dari warisan dunia, sehingga kita bisa menjaga dengan baik dan dunia pun menghargainya. Tidak perlu-lah sampai menjadi keajaiban segala.

Jika Anda punya cukup waktu untuk mendukung Pulau Komodo dan keindahan nusantara lainnya, mengapa tidak menulis untuk itu – misalnya. Tulisan anda akan menjadi jendela dunia untuk melihat keindahan negeri ini. Dan dengan demikian Anda sendiri akan menyadari sejauh mana Anda telah mengenal negeri ini yang katanya Anda cintai.

Saya tidak menentang gerakan “Vote Komodo”, hanya saja saya melihat betapa sia-sianya semua itu. Kita seakan mengejar kebanggaan yang sudah sejak dulu melekat erat, seolah kebanggaan itu bisa hilang. Apa yang mau kita pamerkan pada dunia? Tidakkah kita bangsa yang bersahaja?

Jangan menyalakan obor di bawah terik matahari untuk mendapatkan terang, karena hanya mereka yang buta berharap dapat melihat lebih baik dengan semua kesia-siaan itu.

Buatkan Aturan Tentang SMS Masal

Sudah tidak aneh lagi di negeri ini banyak penipuan yang menggunakan jalur SMS (pesan singkat) pada perangkat seluler. Tapi bukannya berkurang, justru modusnya kian beragam dan kreatif.

Salah satunya adalah SMS masal yang berupa permintaan pulsa atau sekadar menyatakan konfirmasi transfer rekening. Sebenarnya fasilitas SMS masal itu bisa memudahkan. Tapi ya kalau disalahgunakan ya susah juga kan.

Mengapa tidak dibuat regulasi saja ya, misalnya paling banyak sekali SMS hanya ke 10 nomor, meski saya tidak yakin juga bisa melawan kreativitas oknum pelaku.

Tapi bercermin pada penggunaan email misalnya, pengiriman surat eloktronik kan dibatasi untuk menghindari spam. Perusahaan besar seperti Google dan Yahoo menerapkan ini, kenapa SMS justru tidak bisa?

Jika memang mau ke banyak nomor, ya gunakan gryp terdaftar. Atau buat sistem anti SMS spam dan penipuan. Masakah di negeri ini tidak bisa?

Sabtu, 22 Oktober 2011

Hati Tak Lagi Bermata

Malam tadi saya menyaksikan berita bahwa gadis yang ditabrak lari yang menimbulkan kehebohan itu akjirnya tak tertolong juga di rumah sakit.

Kejadian tabrak lari itu sendiri tak dapat dibenarkan, dan yang lebih menyesakkan lagi adalah lalu lalang orang-orang yang tak acuh akan bocah dua tahun yang tergeletak bersimbah darah.

Ada apa sebenarnya dengan rasa kemanusiaan negeri tirai bambu Cina ini? Mengapa orang bisa menjadi begitu tak bertanggung jawab, dan bahkan tidak peduli.

Meski pun mungkin memang sudah waktunya bagi bocah malang itu untuk berpulang, tapi tidak berarti bukan rada kemanusiaan itu seakan hilang tak berbekas.

Saya tidak tahu, apakah di negeri ini juga demikian. Namun saya harap tidak. Karena hati manusia selayaknya tidak buta.

Kamis, 20 Oktober 2011

Daya Sastra itu Adalah Jenuh

Beberapa tenggelam dalam kesusastraan yang tak berbatas membuatku melihat banyak hal yang dilihat dalam lorong-lorong terang lainnya yang mungkin jauh lebih menalar. Jiwaku terseok dalam rima yang lirih nan indah, bak menarik sukma ke dalam bayang-bayang yang tak pernah menipis.

Jemariku memang tak mengukir sastra, mulutku memang tak berucap layaknya para pujangga, dan tentu saja nalarku bukanlah empu yang mampu membebaskan belenggu ruh-ruh dengan sekadar kata. Bukan pula ksatria yang dengan berani menancapkan penanya di antara kekeliruan yang telah menebal guna menguak apa yang telah lama sirna.

Ya, dalam susastra segalanya bisa redup, hilang sirna tertelan bumi tanpa kata.

Redupnya sebuah cahaya adalah kealamian dari segala bentuk kehadiran di jagat raya, bagi segala sesuatu yang terlahirkan, ketiadaan adalah sebuah kepastian – laksana dua sisi keping mata uang, begitu menyatu.

Segalanya menjadi sejenuh lumpur di tepian rawa.

Namun jenuh adalah semua yang kita perlukan – ah…, setidaknya semua yang kuperlukan.

Jenuh membuat batin seketika berontak dengan ketidakberdayaan untuk menelurkan perubahan, jenuh menciptakan letupan karsa yang selama terbelenggu dalam marga dengan ranah abu-abu.

Jenuh bak jiwa yang terbenam ke dalam lumpur pekat, insting bertahan hidupnya akan dengan sendirinya berusaha melecut naik meski sambil megap-megap mencoba mencuri napas kreativitas yang telah lama tiada.

Jiwa yang diketuk kematian adalah batin yang penuh kehidupan.

Kreativitas itu ada di sana, sastra itu ada di situ, di setiap butiran embun yang tampak melepuh nikmat di antara sinar pagi, di ujung-ujung angin yang merumbai angan dan memilinnya menjadi syair penuh kasih.

Jadi untuk lahir kembali, jenuhlah, tenggelamlah dan instingmu akan menyelamatkanmu dengan memetik kemurnian yang menghidupkan setiap rasa, cipta dan karsamu.

Selasa, 12 Juli 2011

Salah Kaprah Hemat BBM

Ada yang aneh dengan konsep hemat BBM kita, terutama premium. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa pemerintah sedang kebingungan dengan subsidi premium yang semakin mencekik anggaran negara – setidaknya demikian yang pemerintah sampaikan.

Sementara di satu sisi, masyarakat kita masih berharap bahwa BBM tidak dinaikkan tentunya, meski harganya sudah jauh di bawah harga pasar dunia. Alasannya ya klasik, yaitu menghemat pengeluaran masyarakat, bahkan pemilik kendaraan yang “berpunya”-pun enggan beralih ke BBM non-subsidi dan tetap menyerahkan pilihan hatinya pada premium bersubsidi. Meski sudah ada pelbagai himbauan bahwa subsidi hanya bagi mereka yang memerlukan. Lha, ternyata semua merasa memerlukan.

Masyarakat tidak ingin membuang uangnya untuk sesuatu yang lebih mahal, jika mereka bisa mendapatkan sesuatu yang lain yang lebih murah dan memang bisa dibilang sama bagusnya. Tapi sore ini saya melihat ada sesuatu yang berbeda ketika mengisi bahan bakar di salah satu SPBU terdekat.

Mengisi Bensin

Meski gambar di atas hanya ilustrasi, tapi kira-kira yang saya hadapi serupa. Antrean panjang, dan bayangkan jika semua sepeda motor yang mengantre itu tetap menyalakan mesinnya. Betapa banyaknya asap mengepul, betapa banyaknya bahan bakar yang terbuang percuma di saat semuanya bisa dihemat.

Tapi pada kenyataan, memang itulah yang terjadi! Pemborosan bahan bakar bahkan oleh mereka yang berkata ingin berhemat dengan bahan bakar – yaitu kita! Masyarakat sendiri!

Kita ingin menghemat uang kita! Bukan bahan bakar kita! Sehingga kita bisa dimanja dengan teknologi ini, bahkan untuk bergerak 50 meter saja kita masih ingin tetap duduk di jok dan memutar gas tanpa mesti mengeluarkan tenaga.

Bayangkan saja jika pajak kendaraan dan bahan bakar dinaikkan, dan pendapatan kita tidak bertambah, bisa jadi kita tidak akan bisa bermanja-manja seperti itu. Ya, ada salah kaprah dengan konsep hemat BBM di negeri ini. Ini hanya salah satu gambarannya saja.

Senin, 11 Juli 2011

Bukankah Lebih Baik Tak Usah Berdasi

Saya memerhatikan banyak sekolah-sekolah menengah membuat seragam mereka sedemikian rupa dipasangkan dengan dasi. Namun tidak sedikit bahwa kemudian sebagian besar siswanya tidak mengenakan dasi dengan "sewajarnya".

Entah karena dua atau tiga biji kancing dari kerah bacu terlepas, atau dasi menggantung longgar tidak karuan. Jadi malah mirip handuk pengelap keringat yang digantungkan di leher. Ataukah trend penggunaan dasi memang sudah berubah sekarang?

Negara kita memang negara tropis, saya mengerti mengenakan dasi setengah hari lebih di ruang kelas atau di lingkungan sekolah yang panas terpanggang matahari bukanlah hal yang membuat nyaman. Sehingga trend memakai dasi gaya baru ini mungkin semakin menjamur jadinya di mana-mana, apalagi ditambah tayangan sinetron remaja yang menunjukkan "kampanye trend" serupa ini.

Sebenarnya mungkin kalau hanya sekadar mengejar "trend" berdasi, sekolah sih tidak perlu terburu-buru menjadikan dasi sebagai bagian dari kelengkapan seragam sekolah. Apalagi jika pada akhirnya malah tidak pas dengan yang diharapkan.

Mengenakan dasi memerlukan disiplin, dan berdisiplin memerlukan kesadaran. Tentunya kesadaran adalah apa yang menjadikan seorang manusia itu manusia. Kalau memang tidak bisa berdasi dengan baik, ya tidak perlulah berdasi, kan lumayan juga menghemat anggaran seragam sekolah.

Selasa, 05 Juli 2011

Negeri Tropis Pecinta Dingin

Negeri kita kaya akan sinar matahari yang melimpah, bahkan untuk musim penghujannya. Karena itulah kita memiliki hutan tropis yang luas, pun saat ini tidak bisa begitu dibanggakan lagi karena telah dibabat oleh mereka yang lebih mementingkan uang daripada lingkungan hidup.

Sehari yang lalu saya menghabiskan dua jam di ruangan ber-AC, dan wuih, dinginnya bukan main. Ruangan cukup besar untuk menampung 100 orang, namun di sana hanya ada kurang dari 10 kepala. Saya menduka suhu AC disetel kurang dari 20 derajat Celcius. Dan benar-benar membuat menggigil.

Saya sungguh tidak memahami pola kesukaan orang-orang di negeri ini yang gemar sekali masuk ruangan ber-AC dan mendinginkan badannya di sana. Bahkan sekarang banyak bayi di kota yang sudah mulai tidak bisa tidur lelap tanpa nyala AC di ruangnya.

Kalau dipikir-pikir, beberapa di antara kita mungkin sudah lama melupakan kehangatan mentari nusantara.

Senin, 04 Juli 2011

Kebahagiaan Tidak Dapat Dikejar

Apakah yang Anda maksudkan dengan kebahagiaan? Beberapa akan menyebutkan bahwa kebahagiaan hadir ketika memperoleh apa yang kita inginkan. Anda menginginkan mobil, dan Anda mendapatkannya, dan Anda pun bahagia.

Saya ingin pakaian; saya ingin bertamsya ke Eropa, dan jika saya bisa, saya pun bahagia. Saya ingin menjadi politisi terhebat, dan jika saya mendapatkannya, saya pun bahagia; namun jika saya tak memperolehnya, saya tidak bahagia.

Jadi, apa yang Anda sebut sebagai kebahagiaan adalah mendapatkan apa yang Anda inginkan, pencapaian atau kesuksesan, menjadi terhormat, mendapatkan apapun yang Anda mau. Selama Anda menghendaki sesuatu dan mendapatkannya, Anda merasa sepenuhnya bahagia; Anda tidak frustasi, namun ketika Anda tidak mendapatkannya, maka ketidakbahagiaan dimulai.

Kita semua memiliki perhatian akan hal ini, bukan hanya bagi mereka kaya ataupun yang miskin. Baik yang kaya maupun yang miskin semuanya menginginkan sesuatu untuk diri mereka sendiri, untuk keluarha mereka, untuk masyarakat; dan jika mereka terhalangi, terhentikan, mereka akan jauh dari berbahagia.

Kita tak sedang mendiskusikan, kita tak sedang mengatakan bahwa si miskin selayaknya tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Itu bukanlah permasalahannya.

Kita sedang mencoba untuk menemukan apakah kebahagiaan itu dan apakah kebahagiaan sesuatu yang hadir ketika Anda sadar.

Di saat Anda sadar bahwa Anda bahagia, bahwa Anda punya banyak (hal), apakah itu kebahagiaan? Tepat pada saat Anda sadar bahwa Anda bahagia, itu bukanlah kebahagiaan kan? Jadi Anda tidak dapat mengejar kebahagiaan. Tepat di saat Anda sadar bahwa Anda rendah hati, Anda tidaklah rendah hati. Jadi, kebahagiaan bukanlah sesuatu untuk dikejar; ia datang.

Namun jika Anda mencarinya, ia akan menghindari anda.

[Disadur dari "Buku Kehidupan" oleh Jiddu Krishnamurti]

Minggu, 03 Juli 2011

Bergosip di Televisi

Ketika bersih-bersih di kamar, saya iseng menyalakan televisi untuk melihat acara yang ditayangkan, mungkin sekadar mencari pengalihan pandangan dari kondisi kamar yang masih berserakan. Namun seperti pada jam-jam yang sama ketika itu, televisi berisi siaran gosip, ya siaran gosip!

Saya tidak ingat kapan tepatnya di negeri ini, atau mungkin banyak di tempat di muka bumi, dimulainya gosip memiliki jam eksklusif di layar kaca. Saat saya kecil di mana televisi hanya berwarna hitam dan putih, tentu saja tidak ada yang namanya gosip.

Entah apa siaran pada masa itu, saya tidak begitu ingat. Mungkin ada sedikit keinginan lagi kembali pada masa-masa itu dan terduduk di depan televisi sambil menyaksikan film berseri keluarga cemara misalnya.

Namun kini televisi lebih banyak memiliki acara hiburan, mungkin karena pasarnya memang ada untuk menghibur masyarakat kita yang serba kekurangan, termasuk kekurangan penghibur batin mereka di negeri yang carut marut ini. Sehingga melahirkan banyak selebritas untuk membawa kembali sedikit hiburan pelipur lara bagi rakyat jelata. Yang pada akhirnya secara tidak langsung menjadikan celah bagi lahirnya gosip di televisi.

Jadikah, apakah salah jika dikatakan bahwa kehadiran banyak acara gosip di televisi merupakan dampak secara tidak langsung kondisi kesejahteraan rakyat baik secara lahir ataupun batin yang masih memprihatikan?

Seandainya pendidikan mencukupi, sandang pangan tidak kurang, dan papan tersedia bagi rakyat yang memiliki lapangan pekerjaan yang baik, serta lingkungan hidup yang mendukung masyarakat untuk selalu produktif dalam mengisi keluangan waktunya. Akankah gosip masih memiliki posisi kokoh seperti saat ini?

Ah, mungkin juga tidak. Karena gosip sepertinya juga telah mendarah daging bagi beberapa kelompok masyarakat di negeri ini. Bak berkibar-kibar semboyan mereka, "tiada hari tanpa gosip". Apalagi dengan didapatkannya gosip instan melalui layar kaca, bak anak kecil bergairah mendengarkan dongeng di pangkuan ibunya, maka gosip di layar kaca pun menjadi santapan lezat sebagai hidangan pembuka ataupun penutup untuk sarapan dan makan siang, atau bahkan mungkin sebagai hidangan utama.

Gosip bukanlah hal yang buruk, karena seingat saya dalam kelas sosiologi di bangku sekolah dulu. Gosip adalah salah satu sarana kontrol masyarakat. Tapi itu ya jika digunakan secara tepat, mungkin masyarakat akan mengarah ke ranah sosiokultural yang lebih baik.

Namun selama kita masih lebih suka membenarkan yang biasanya dan menolak membiasakan yang benar, maka gosip biasanya seperti vitamin yang tidak terlalu bernutrisi. Dimakan sedikit tidak berguna, ditelan banyak malah justru merugikan kesehatan.

Jika Anda tidak menemukan sesuatu yang berguna ketika waktu luang anda terasa membosankan. Mungkin Anda akan memilih gosip di layar kaca. Namun jika ada yang bisa Anda kerjakan, mungkin seperti saya, menghabiskan waktu luang dengan menulis.

Kamis, 30 Juni 2011

Negeri Tambal Sulam

Saya kadang heran, dan bertanya-tanya dalam diri. Apakah negeri ini adalah negeri tambal sulam? Kadang selalu ada hal-hal yang aneh, masalah-masalah tak hentinya bermunculan padahal itu sesuatu yang sebenarnya sudah bisa dicegah sebelumnya.

Beberapa minggu lalu, pemberitaan tentang TKI yang mencuat. Bagaimana warga negara Indonesia yang bekerja di pelbagai tempat di negeri asing, seringkali mendapatkan musibah dari perlakuan semena-mena majikannya. Sementara KBRI yang seharusnya memberikan solusi dan informasi justru dibanjiri keluhan dan kritik.

Kemudian ada kasus tentang "contek masal" ujian akhir nasional, lalu sekarang ada mencuat berita tentang lembaga pemasyarakatan sebagai ranah transaksi narkoba.

Padahal hal-hal ini bukanlah hal yang baru lagi, namun mengapa terus menerus berlangsung? Apa yang sedari dulu tidak bisa dibenahi? Dan apa akan berlangsung lagi di masa depan?

Ah, sungguh sebuah negeri tambal sulam.

Kamis, 26 Mei 2011

Kepedulian itu Nyata Berbeda

Beberapa waktu belakangan ini, saya memerhatikan ada sebuah tayangan iklan di televisi yang sedikit menyita perhatian saya karena konten iklannya. Anehnya saya sendiri tidak begitu ingat, iklan tersebut siapa dan apa yang menjadi subjeknya. Jika saya tidak keliru mengingat mungkin sebuah iklan tentang bahan pangan yang mengandung kalsium.

Yang menarik perhatian saya adalah, sebuah cuplikan dalam iklan tersebut yang menampilkan animasi seekor kepiting memiliki tulang belulang yang kuat di dalam tubuhnya.

Mengapa ini menarik?

Saya tidak tahu, apakah yang membuat konsep, menyusun animasi ataukah bagian penyuntingan yang meloloskan iklan ini yang sebenarnya kurang menaruh perhatian, bahwa seekor kepiting, sebagaimana crustacea lainnya adalah kelompok hewan dengan eksoskeleton. Bagaimana mungkin mereka melewatkan ini? Atau mereka tidak menaruh perhatian pada pelajaran biologi dulu?

Jika mereka sengaja mendesain iklan tersebut seperti itu. Apalagi targetnya adalah anak-anak kecil usia sekolah, saya kira malah lebih buruk lagi. Meski mungkin tujuannya untuk menarik perhatian, namun iklan yang memberikan informasi palsu secara sengaja atau tidak, saya rasa tidak memiliki nilai pendidikan sama sekali. Anak-anak, bisa jadi menyerap informasi keliru ini dan menyimpannya secara sadar ataupun tidak.

Atau singkat katanya. Mereka yang telah membuat iklan seperti ini bisa ditayangkan di televisi, sama sekali tidak memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan kita.

Tentu saja ada beberapa "comercial breaks" yang memang memiliki nilai edukasi, karena sengaja ditanamkan demikian. Namun ternyata, tidak semua memiliki kepedulian yang sama, dan ya, kepedulian yang berbeda itu, nyata adanya.

Kamis, 12 Mei 2011

Malam Tanpa Bintang

Entah karena hidup di zaman yang berbeda, ataukah hidup di peradaban yang telah banyak berubah. Aku menemukan bahwa banyak orang di masa kini, mungkin sebagian besar generasi muda mengalami malam-malam tanpa bintang.

Bukan bintang di angkasa telah hilang, atau karena - meski memang - tak bisa kupungkiri, bahwa cahaya mereka telah lama tercuri oleh sumber-sumber cahaya buatan manusia yang mengusir gelap malam ke dalam hamparan terang. Namun lebih dari itu, aku mungkin yang termasuk kehilangan kepedulian, sehingga melalui malam tanpa bintang.

Kadang bagiku, rasanya hanya sayang jika mesti cuma memandang bintang dari ujung kenangan, atau dari selembar halaman buku atau gambar-gambar di dunia maya, padahal semua itu selalu ada di luar sana jika kuingin menyulang damai bersama mereka pada suatu malam.

Bahkan, mereka yang terpelajar, yang melek dunia maya dan teknologi, yang tak asing dengan si "milky way", nyatanya tidak dapat setiap saat, bahkan mungkin (nyaris) tak pernah memandang melankoli bima sakti sama sekali. Yah, sebagian dari kita hanya cukup puas dengan kata pintar yang tercap resmi dengan hitam di atas putih, sementara tak kenal bahkan tak peduli dengan kehidupan dan nyala semesta yang ada di luar sana.

Kita terkurung dengan rutinitas kita, terkukung kenyamanan kita, dan terhalang ketidakacuhan kita sendiri. Jadi jangan salahkan siapa-siapa jika kita selama ini selalu melewati malam tanpa bintang.

Senin, 18 April 2011

Ujian Nasioanal yang Mendebarkan

Sejak dulu saya pikir setiap orang memiliki kekhawatiran dengan ujian nasional yang akan dijalaninya. Demikian juga setiap tahun di negeri ini, anak-anak SMA yang akan mengikuti ujian nasional sebagian besar mengalami kekhawatiran akan kemungkinan tidak lulus.

Sukses Ujian Nasional

Banyak orang yang melakukan persiapan mati-matian, sepertinya ujian nasional adalah perang penghabisan, dan belajar selama bertahun-tahun ini hanya untuk di beberapa hari ini. Bahkan saya dengar ada sekolah yang melakukan karantina terhadap para siswanya selama beberapa hari menjelang ujian nasional.

Sangat berbeda sekali dengan saya dulu, saya merasa sudah belajar dengan cukup & sepenuhnya selama beberapa tahun. Jadi saya memberikan semuanya pada ujian akhir itu, saya tidak begitu peduli dengan lulus atau tidak, entah mengapa dalam diri saya ada pemikiran bahwa dalam kehidupan ini selalu ada kegagalan dan keberhasilan yang merupakan kewajaran, jika berhasil ya itu wajar, dan jika gagal ya itu pun wajar – saya hanya perlu memperbaiki lagi untuk berhasil di kesempatan selanjutnya.

Suasana Ujian Nasional

Tapi sekarang di mana-mana ada berita bahwa siswa menjadi stres dan begitu terbebani dengan suasana ujian nasional. Bahkan ada yang menangis histeris ketika gagal ujian, dan gembira meluap-luap saat dinyatakan lulus. Menjadi sebuah pemandangan kontras ketika hasil ujian diumumkan.

Saya rasa mungkin pendidikan di sekolah telah gagal dalam satu hal, yaitu mempersiapkan para siswanya untuk menghadapi kegagalan itu sendiri dalam perjalanan hidupnya. Karena tanpa keberanian untuk menghadapi kegagalan, maka keberhasilan yang sebenarnya tidak akan pernah tercapai.

Ah…, apalagi jika pada kenyataannya yang paling berdebar-debar akan keberhasilan dan kegagalan siswa adalah sekolah itu sendiri.

Jumat, 08 April 2011

Berlibur Di Bali Seperti Neraka?

Tulisan Times yang berjudul “Holidays in Hell: Bali's Ongoing Woes” mengundang banyak kontroversi, baik dari kalangan pelaku wisata, pemerintah daerah Bali, maupun di kolom komentar blog itu sendiri.

Pantai Kuta

Pada dasarnya tulisan – bagi saya – tampak seperti ketidakpuasan atas pelbagai hal yang terjadi dalam kondisi pariwisata di Bali, yang sayangnya menjadikan Kuta sebagai pars pro toto bagi seluruh kondisi pariwisata di Bali.

Saya tidak hendak membela Bali sebagai sebuah surga pariwisata yang sempurna, tidak juga hendak menyalahkan penulis artikel tersebut, karena apa yang ditulisnya belum tentu keliru. Lagi pula, jika kita menjelajah Internet lebih lanjut, ada lebih banyak lagi ketidakpuasan & kekecewaan banyak pihak terhadap kondisi pariwisata pulau dewata ini.

Saya tumbuh besar di Bali, jadi setidaknya tahu sedikit banyak tentang kondisi Bali. Meski pun dengan sebuah perubahan & modernisasi yang terjadi saat ini, saya masih tetap merasakan kesedihan akan wajah Bali saat ini.

Bali itu pulau yang kecil, dan tentu saja dengan panorama alam yang indah. Saya sendiri telah lama jatuh cinta pada panorama alam Bali, dan saya percaya mereka yang pernah melancong ke Bali dan menikmati panorama alam yang sesungguhnya dengan sisipan budaya kunonya, pastilah akan jatuh cinta pada Bali.

Kini pulau kecil ini dijejali oleh ledakan penduduk yang luar biasa, baik lokal maupun pendatang. Jika 40 atau 50 tahun yang lalu Anda naik pada sebuah bukit dan melihat jauh hamparan sawah hijau berbatas hutan rimbun, dengan anak-anak yang asyik menggembala itik atau orang tua yang sibuk membajak sawah. Kini pemandangan itu berganti dengan jalan yang memanjang nan sesak lalu lintas dan pemukiman pada di sisi-sisinya, serta ruko-ruko yang jauh dari kesan Bali tempo dulu.

Ledakan penduduk ini menimbulkan banyak sekali permasalahan bagi pulau kecil ini. Anda bisa mengasumsikan apa-apa saja yang timbul dari ledakan penduduk bukan? Lapangan kerja yang semakin terus bertambah kebutuhan, dan ini membuat pembangunan sentra-sentra lapangan kerja yang sering kali tidak mengindahkan tata ruang. Alhasil, ruang hijau pun semakin menyempit di Bali, banyak persawahan dan ladang berubah menjadi pemukiman hingga tourism resort.

Banyak orang yang khawatir jika lahan hijau terus tergusur menjadi lapangan golf, mal, kebun binatang, dan lain sebagainya. Lamban laun bisa-bisa Bali menjadi seperti Hongkong atau Singapura, sebuah pulau di atas lahan beton.

Pembangunan yang serba cepat dan tiada berhenti ini memberikan wajah yang kurang menyamankan bagi banyak orang orang, seakan berkata ini bukan lagi Bali yang dikenal dulu dengan keindahan alamnya. Apalagi jika menjejakkan kaki di wilayah pariwisata seperti Kuta dan sekitarnya, padat merayap, itu kesan saya terakhir berkunjung ke sana. Jadi tidak heran jika wisman juga akan bertanggapan serupa.

Apalagi, jika saya membaca beberapa tulisan keluh kesah di Internet, ada oknum-oknum tertentu yang mencoba meraup untung berlebih dengan tidak sewajarnya. Misalnya mengutamakan layanan pada wisatawan mancanegara dan melupakan kenyamanan juga mestinya ditujukan pada tamu domestik, atau kisah supir taksi yang mencoba menipu argo – adalah contoh-contoh cerita klasik yang dikeluhkan dalam pariwisata di Bali.

Bali dan Modernisasi

Gambar di atas saya ambil blog Ayo Wisata menggambarkan tampaknya suasana pemandangan modernisasi mengambil wajah budaya lokal di Pulau Bali. Saya kira jika hanya satu atau dua lokasi saja tidak masalah, toh karena beberapa di antaranya membuat nyaman wisatawan. Tapi jika semakin lama semakin membludak, ya, mungkin Bali akan kehilangan wajah aslinya.

Saya kira orang mengunjungi Bali bukan karena adanya boulevard ala negara-negara Barat. Namun karena pesona alam & budayanya, menjadi Bali saya rasa bukan menjadi terbenam dalam derasnya laju globalisasi & modernisasi, namun menjadi apa sesungguhnya wajah Bali yang pernah menarik wisatawan puluhan tahun lalu, dan menjadikannya sesuai dengan sandangan namanya sebagai pulau dewata.

Pura Danu Bratan

Tidak banyak generasi muda Bali yang kini menaruh minat pada budaya sendiri karena memang perasaan suka & cinta, namun jika-pun mereka berada di situ, kadang hanya sekadar sebagai pemenuhan kebutuhan akan mata pencaharian.

Saat ini sudah jarang ada anak-anak kampung yang berkumpul di pelataran pura di desanya, hanya untuk bercanda atau berlatih tari tradisional bersama-sama. Bagaimana bisa, sementara mereka sibuk di sekolah dari pagi hingga menjelang sore, baik dengan kurikulum maupun kegiatan ekstrakulikuler.

Sudah jarang melihat petani membajak sawah dengan kerbau, dan kemudian membiarkan anak-anak memandikan kerbau mereka di sungai. Karena mesin-mesin telah menggantikan semua sistem tua itu.

Meski banyak ukiran keindahan di pulau dewata yang telah rapuh & runtuh, saya rasa Bali masih memiliki pesonanya. Hanya saja orang harus bisa menemukan di mana letak pesona tersebut. Jika saya boleh menyarankan, ketika berwisata ke Bali, jangan hanya melulu di pusat modernisasi seperti Kuta dan Denpasar, cobalah tengok pelosok dan sudut-sudut Bali yang mungkin keindahannya tidak pernah terbayang sebelumnya.

Sunset at Beach

Rabu, 06 April 2011

Kartu Kredit yang Tak Pernah Saya Mengerti

Memang saya tidak pernah menggunakan kartu kredit, bagaimana bisa menggunakan, punya saja tidak. Tapi saya rasa itu adalah sebuah revolusi masa kini, bagaimana tidak, hanya sebuah kartu bisa digunakan untuk berbelanja hampir di semua tempat modern di dunia nyata dan dunia maya.

Bagi mereka pandai mengelola keuangan, pintar menyiasati strategi untuk mendapat keuntungan lebih banyak dari kartu kredit, maka benda ini bisa memberi keuntungan yang berlipat bagi pemiliknya, dan tidak hanya sekadar tagihan saja.

Namun bagi saya yang sama sekali tidak pandai dalam mengelola keuangan, maka kartu kredit hanya akan menjadi tali tiang gantungan saja. Sehingga kalau dipikir-pikir, punya kartu debet saja sudah pusing, apalagi punya kartu kredit.

Selasa, 29 Maret 2011

Gedung Dewan Baru?

Sebenarnya saya rasa tidak terlalu bermasalah jika ada gedung lama yang sudah tidak layak pakai diperbarui, diperbaiki atau diganti dengan bangunan baru yang dapat digunakan untuk tujuan serupa atau meningkatkan fungsinya.

Namun rencana pembuatan gedung DRP RI yang baru memang sudah lama mengundang perdebatan setahun belakangan ini. Banyak yang mengatakan itu tidak perlu, pembuangan sumber daya percuma, dan alasan-alasan lain tentunya.

Rencana Pembangunan Gedung DPR

Saya menonton acara “Sentilan & Sentilun” malam ini, dan rasanya memang agaknya berupa pemborosan. Bayangkan saya jika satu ruang kerja anggota dewan menghabiskan dana delapan ratus juta rupiah, berapa biaya pemeliharaannya, dan berapa yang akan kembali pada rakyat?

Bahkan lihat saja, jika ada pusat rekreasi di dalamnya, memangnya apa Jakarta kekurangan pusat rekreasi? Dan apa uang rakyat memang untuk digunakan berekreasi?

Jakarta katanya hanya memiliki sisa ruang hijau kurang dari 9,6% dari aturan minimal 30% dari RTH yang seharusnya dimiliki oleh kabupaten atau kota. Dan kini mau membuang lagi ruang hijau di dalamnya. Mengapa mereka tidak membangun gedung biasa saja di pedalaman Kalimantan atau Papua yang kondisi masyarakatnya mungkin masih lebih perlu dilihat lagi oleh para anggota dewan?

Dan ada apa dengan desain itu? Nah, orang arsitektur pasti akan banyak mendebatkannya.

Saya secara pribadi tidak mendukung pembangunan gedung DPR yang baru ini. Mungkin ada yang mendukung?

Minggu, 20 Maret 2011

Kampanye Hari Hening Bumi 2011

Bagaimanapun saya rasa kita semua mengetahui bahwa planet ini telah begitu terbebani dengan aktivitas kehidupan manusia yang semakin padat seiring dengan lonjakan populasi planet ini sendiri. Sebagai efek dari daya hidup manusia, kita telah membuang banyak hal negatif pada tanah, air dan udara – mencemari tempat hidup kita sendiri.

Polusi dari kendaraan, limbah rumah tangga, hingga hasil industri kita, termasuk listrik yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil yang tidak teperbaharukan dalam ribuan hingga jutaan tahun. Kita mengurangi dan memangkas hutan-hutan yang layaknya menjadi tempat hidup dan sumber hidup tidak hanya bagi manusia, demikian juga lautan dan kekayaan alam di dalamnya.

Jadi muncul pertanyaan, apa yang akan terjadi jika kita berhenti sejenak dan memberikan bumi waktu untuk bernapas sementara manusia serentak selama beberapa jam hening dari seluruh aktivitasnya? Termasuk memangkas semua kegiatan yang menyita sumber daya alam.

Kampanye Hari Hening Bumi

Mungkin itulah yang hendak di sampaikan dalam “Kampanye Hari Hening Bumi” yang jatuh pada 21 Maret setiap tahunnya.

Kamis, 24 Februari 2011

Tebal Muka atau Tanpa Nurani?

Di nusantara (setidaknya di Jawa dan sekitarnya) sedang dipenuhi pekikan "Nurdin Turun!" oleh para penggemar olah raga sepak bola dari pelbagai elemen. Bahkan saya yang tidak suka menyimak berita olahraga dan politik pun bisa disambangi juga oleh berita ini.

Masyarakat penggemar bola (sebut saja demikian) tidak rela Nurdin - sang ketua lama PSSI menjabat kembali. Katanya sih karena PSSI di bawah kepemimpinannya justru menjadi lembaga korup (padahal seharusnya menjunjung tinggi sportifitas), dan persepekbolaan nasional menjadi makin terpuruk yang kemudian berujung munculnya LSI sebagai titik balik upaya mereka yang peduli sepak bola untuk memperbaiki dan membangkitkan sepak bola nasional.

Masyarakat penggemar bola (masih saya sebut demikian), sebenarnya sudah sejak dulu meminta Nurdin turun dari jabatan ketua, eh..., tapi ternyata tidak demikian.

Kini justru keberangan masyarakat pecinta bola semakin menjadi-jadinya, bukannya Nurdin turun dari kursi ketua, malah terpilih lagi sebagai calon ketua PSSI periode selanjutnya. Semuanya protes, di seluruh media ada suara protes, yang anehnya (atau justru tidak sama sekali) bahwa tidak ada suara yang mendukung Nurdin untuk melanjutkan jadi ketua (lagi).

Kalau saya diprotes sedemikian rupa, sih saya rasa saya tidak akan bersedia lagi mengambil jabatan. Meskipun saya merasa tidak salah, itu namanya tahu diri, tapi tampaknya pak ketua lama ini justru tebal muka.

Pun ternyata memang terbukti tidak memberikan kebaikan bagi organisasi, sudah selayaknya turun dan serahkan kesempatan pada orang lain yang mungkin bisa memberikan yang lebih baik. Apalagi banyak suara meminta demikian (dengan bulat), itu namanya bernurani. Eh..., tapi tampaknya juga nurani tak tampak.

Saya tidak tahu menahu tentang obat tebal muka dan tak bernurani. Yang saya inginkan adalah sedikit kondisi tenang, media sudah terlalu banyak dengan hastag #nurdinturun, apa ndak bosan apa, kalau saya sih sudah jenuh sekali.

--------------------------------------------------------------
Ovi Mail: Making email access easy
http://mail.ovi.com

Sabtu, 19 Februari 2011

Film Asing Ditarik?

Tulisan Mbak Dos yang berjudul “Selamat Tinggal Hollywood?” memberi sebuah celetukan besar tadi pagi. Saya pada awalnya hanya menganggap angin lalu saja, karena toh itu rasanya terlalu ekstrem untuk terjadi.

Tapi nyatanya tidak, kalau kita membaca di pelbagai media dunia maya, ternyata isu ini juga lumayan menggelisahkan banyak pihak. Namun di sisi lain juga melegakan banyak pihak lainnya.

Yang paling terhenyak pastinya penggemar film berkualitas tinggi, mereka tidak lagi bisa menikmati film-film animasi sekelas besutan Pixar, Disney atau DreamWorks. Tidak ada lagi film-film drama berkualitas ala August Rush, atau film-film laga ala Transformer dan keindahan spesial efek Avatar.

Sedangkan tentunya penyedia jasa penjualan film asing pastinya akan merasa lega, karena mereka akan diburu. He he…, terutama sepertinya yang menyediakan film bajakan, karena orang tidak memiliki pilihan lain. Membeli film asing asli akan bisa jadi terlalu mahal (daripada menonton di bioskop atau membeli bajakan), dan film asli setidaknya baru bisa dinikmati jika memiliki sebuah home theater yang mumpuni.

Konon katanya ini bisa mendongkrak produksi film-film lokal (nasional), ha ha…, bisa jadi, tapi mendongkrak penggemar – nanti dulu! Saya sendiri tidak yakin ini bisa mendongkrak penggemar, apalagi melihat perkembangan film nasional yang tidak terlalu banyak kemajuan, komedi, horor atau pun sinema keluarga tidak ada penambahan kualitas bermakna. Belum lagi adanya unsur-unsur peniruan film lokal dari film asing, kesannya belum kreatif mungkin ya.

Entahlah, sepertinya seseorang tengah membangun mimpi di antara penerapan aturan baru.

Saya tidak tahu apakah pemerintah sedang kekurangan dana sehingga membuat aturan bea masuk yang begitu unik (konon tidak ada di negara lainnya di planet ini).

Saya berharap perfilman nasional membaik dari segi kualitas (ndak usah kuantitas-lah), namun bukan berarti membaik karena tidak ada saingan di kandang sendiri.

Rabu, 16 Februari 2011

Nuklir atau Panas Bumi?

Belakangan ini sedang asyik membahas isu tentang mengembangan sumber energi alternatif. Negeri ini konon semakin mengalami krisis energi, terutama listrik yang angka pemakaiannya kian meningkat. Bagaimana tidak, semakin banyak jumlah penduduk otomatis konsumsi energi akan bertambah, yah bodohnya bilang saja begitu.

Kini pemerintah, dalam hal ini yang bertanggung jawab mencari sumber energi baru mulai kembali mencoba mengimplementasikan penyediaan energi listrik dengan menggunakan tenaga nuklir (PLTN). Tentu saja ini menimbulkan pro dan kontra.

PLTN adalah sumber energi yang menjanjikan, itu dari mata seorang yang tidak mendalami ilmu tersebut. Saya hanya pendengar berita, jadi tidak mengerti kalkulasi pastinya.

Lihat saja Prancis, sebuah negara padat penduduk, kecil lagi. Konon lebih dari 80% pasokan listriknya berasal dari beberapa pembangkit listrik tenaga nuklir, bahkan ini membuat Prancis nyaris bebas ketergantungan bahan bakar fosil untuk menyediakan listrik, dan tentu saja setelah berkutat lama dengan nuklir ini menjadikan Prancis salah satu negara dengan pengembangan ilmu dan teknologi nuklir termaju di dunia.

Ah, saya tidak tahu bagaimana Prancis bisa semaju itu. Tapi apa Indonesia bisa? Belum berdiri saja sudah pada panik dan ketakutan, melihat ke belakang pada kisah Cernobyl yang malang. Ya, secara mental kita tidak siap. Dan saya rasa sebaiknya kita tidak mengambil langkah jika kita tidak siap secara mental.

Efek nuklir jika terjadi kesalahan, hmm..., kita bisa bayangkan sebuah neraka yang tak terbayangkan di muka bumi. Mengerikan mungkin. Sayangnya di Indonesia terlalu sering terjadi kesalahan seperti ini, dari kecelakaan lalu lintas hingga lumpur lapindo adalah contohnya. Ah, susah kan membayangkannya. Bahkan ada yang berguyon, jika tabung gas hijau 3 kg saja bisa meledak, apalagi nuklir.

Energi alternatif lain yang muncul adalah panas bumi. Termasuk kategori pembangkit listrik paling ramah lingkungan setahu saya. Tapi sayangnya, katanya sih daerahnya banyak yang tidak strategis. Kadang asyik juga menyimak perdebatan antara mereka yang pro dan kontra masalah pembangunan PLTN ini.

Pemerintah memberikan garansi bahwa nuklir bisa menjadi sumber energi yang bersih dan aman, namun beberapa pendapat lain menyatakan bahwa nuklir tidak sepenuhnya aman, apalagi kemudian menyangkut limbah nuklirnya. Jadi menuntut pemerintah lebih kreatif mencari sumber energi alternatif seperti tenaga panas bumi atau batu bara di mana negara kita kaya akan kedua sumber energi itu.

Lalu bagaimana pendapat anda tentang pengayaan energi nuklir di tanah air?

--------------------------------------------------------------
Ovi Mail: Making email access easy
http://mail.ovi.com

Jumat, 04 Februari 2011

Jawaban yang Memuaskan

Salah satu yang menjadi dasar enigma yang membentuk kehidupan adalah berangkai pertanyaan yang membentuk lengkung-lengkung waktu setiap pijakan kaki dan takdir insani. Dan jawaban yang dituju untuk setiap pertanyaan tentang kehidupan menjadi sama dalamnya dengan seteguk napas yang menggantung masa kini untuk kemudian jatuh dan menghilang.

Setiap jawaban silih berganti menuntut beberapa hal yang telah didaftarkan bahkan sebelum pertanyaan itu sendiri hadir ke dalam padang rumput luas yang disebut keberadaan ini. Salah satunya adalah tuntutan akan kepastian. Tanpa kepastian, jawaban tidak akan dapat dikatakan memuaskan.

Aku memiliki banyak pertanyaan terhampar lembut dalam pandanganku yang mulai lelah. Beberapa di antaranya hanyalah kendi-kendi kosong yang telah retak karena waktu. Sehingga esensinya telah berhembus bersama debu-debu yang tak mungkin kembali.

Lalu apa yang mesti kupertanyakan demikian, dalam kekosongan yang telah mengisi dirinya sendiri, aku tak memiliki apa-apa lagi. Hanya tinggal lelah di antara guliran waktu. Maka pertanyaan itu telah menjadi nirrupa, dan jawabannya pun akan cukup memuaskan tanpa kata-kata.

Karena kekosongan ini akan membuatku berhenti dalam damai selamanya.

--------------------------------------------------------------
Ovi Mail: Making email access easy
http://mail.ovi.com