Minggu, 17 Oktober 2010

Nasib Tikus Lab

Pernahkah ada yang membayangkan (jika tidak pernah melihat sendiri), apa yang terjadi pada tikus-tikus yang digunakan dalam percobaan di laboratorium penelitian pasca mereka tidak digunakan lagi? Apa mereka pergi ke rumah penampungan tikus terlantar? Ah, kurasa tidak.

Mereka dimusnahkan tentu saja, menurut kebanyakan sumber informasi, sesuai dengan prosedur baku yang ada di masing-masing instalasi. Tapi bagi yang tidak benar-benar tahu, pemusnahan ini tetap saja masih menjadi misteri.

Tikus putih sebagaimana yang sering kita saksikan di layar kaca adalah tikus lab yang sering kali sejak lahir sudah ditentukan nasibnya untuk jadi percobaan di laboratorium. Galur wistar misalnya, atau rattus norvegicus (konon berasal dari Chinna tapi diberi nama karena terlihat bersama bangsa Norwegia), paling umum jadi bahan percobaan.

Mereka tinggal menunggu nasib, apakah akan jadi percobaan obat, percobaan melihat perjalanan penyakit, atau yang cukup beruntung menjadi bahan uji tingkah laku. Bayangkan jika racun disuntikkan ke tikus itu dan kemudian membuatnya menjadi menderita kanker, baru kemudian dicoba diobati dengan obat yang sedang diteliti. Mereka kemudian berakhir di meja bedah, untuk diambil organ-organ dalamnya dan diteliti.

Beberapa yang melewati penelitian dan masih hidup setelah penelitian biasanya akan dimusnahkan.

Beberapa pagi yang lalu saya bertemu teman yang kenal dengan orang yang meniliti dengan wistar. Saya bertanya apa penelitiannya sudah selesai, dan apa yang terjadi dengan tikus-tikus penelitian itu. Ya, kalian mungkin sudah bisa menduga jawabannya.

Namun demikian dalam setiap penelitian menggunakan hewan. Peneliti wajib menghargai hak asasi hewan, karenanya penelitian dan tindakan invasif yang berpotensi menyakiti hewan dilakukan dengan metode khusus yang tidak akan terlalu menyakitinya.

Memberikan perhatian pada hewan lab juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah penelitian dengan hewan. Pun demikian prosedur keamanan baku tetap dituntut untuk diterapkan, sehingga pemusnahan tikus lab seringkali merupakan keharusan.

Jika tidak, mungkin mereka akan protes seperti dalam kisah kartun dari Worner Bross, di mana pingky dan brain - dua tikus lab yang berhasrat untuk menguasai dunia sebagai balas dendamnya.

Tikus lab sudah banyak berjasa atas pelbagai inovasi di dunia bioteknologi, farmasi dan kedokteran. Karenanya, bukan berarti hewan yang bisa disepelekan. We should be thankful.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar