Sabtu, 23 Oktober 2010

Jalan Berseberangan

Manusia hidup sebagaimana jalan hidupnya, terserah apakah kita akan sebut itu sebagai takdir, pilihan atau hanya sekadar kebetulan belaka.

Seperti dedaunan di musim gugur, beberapa terlepas dari ranting dan cabang karena mereka memang sudah waktunya terlepas, dan beberapa terpaksa lepas karena tertiup angin pegunungan yang dingin.

Manusia dapat memilih jalan hidup bagi dirinya sendiri, namun kembali bahwasanya segala sesuatu selalu saling mempengaruhi di dunia ini. Saling tarik dan saling ulur.

Terkadang kita akan melintasi jalan yang berseberangan, di satu sisinya adalah kebahagiaan, sementara di sisi lain adalah kebalikannya. Tidak ada yang sesungguhnya bisa memaksa kita untuk mengambil salah satu jalan dan menjauhi jalan yang lainnya.

Manusia hendaknya memiliki kebijaksanaan untuk memilih lagu kehidupannya, bagaimana ia mendendangkan kebebasannya, bersama-sama ataupun dalam langkah yang sepi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar