Sabtu, 23 Oktober 2010

Jalan Berseberangan

Manusia hidup sebagaimana jalan hidupnya, terserah apakah kita akan sebut itu sebagai takdir, pilihan atau hanya sekadar kebetulan belaka.

Seperti dedaunan di musim gugur, beberapa terlepas dari ranting dan cabang karena mereka memang sudah waktunya terlepas, dan beberapa terpaksa lepas karena tertiup angin pegunungan yang dingin.

Manusia dapat memilih jalan hidup bagi dirinya sendiri, namun kembali bahwasanya segala sesuatu selalu saling mempengaruhi di dunia ini. Saling tarik dan saling ulur.

Terkadang kita akan melintasi jalan yang berseberangan, di satu sisinya adalah kebahagiaan, sementara di sisi lain adalah kebalikannya. Tidak ada yang sesungguhnya bisa memaksa kita untuk mengambil salah satu jalan dan menjauhi jalan yang lainnya.

Manusia hendaknya memiliki kebijaksanaan untuk memilih lagu kehidupannya, bagaimana ia mendendangkan kebebasannya, bersama-sama ataupun dalam langkah yang sepi.

Minggu, 17 Oktober 2010

Nasib Tikus Lab

Pernahkah ada yang membayangkan (jika tidak pernah melihat sendiri), apa yang terjadi pada tikus-tikus yang digunakan dalam percobaan di laboratorium penelitian pasca mereka tidak digunakan lagi? Apa mereka pergi ke rumah penampungan tikus terlantar? Ah, kurasa tidak.

Mereka dimusnahkan tentu saja, menurut kebanyakan sumber informasi, sesuai dengan prosedur baku yang ada di masing-masing instalasi. Tapi bagi yang tidak benar-benar tahu, pemusnahan ini tetap saja masih menjadi misteri.

Tikus putih sebagaimana yang sering kita saksikan di layar kaca adalah tikus lab yang sering kali sejak lahir sudah ditentukan nasibnya untuk jadi percobaan di laboratorium. Galur wistar misalnya, atau rattus norvegicus (konon berasal dari Chinna tapi diberi nama karena terlihat bersama bangsa Norwegia), paling umum jadi bahan percobaan.

Mereka tinggal menunggu nasib, apakah akan jadi percobaan obat, percobaan melihat perjalanan penyakit, atau yang cukup beruntung menjadi bahan uji tingkah laku. Bayangkan jika racun disuntikkan ke tikus itu dan kemudian membuatnya menjadi menderita kanker, baru kemudian dicoba diobati dengan obat yang sedang diteliti. Mereka kemudian berakhir di meja bedah, untuk diambil organ-organ dalamnya dan diteliti.

Beberapa yang melewati penelitian dan masih hidup setelah penelitian biasanya akan dimusnahkan.

Beberapa pagi yang lalu saya bertemu teman yang kenal dengan orang yang meniliti dengan wistar. Saya bertanya apa penelitiannya sudah selesai, dan apa yang terjadi dengan tikus-tikus penelitian itu. Ya, kalian mungkin sudah bisa menduga jawabannya.

Namun demikian dalam setiap penelitian menggunakan hewan. Peneliti wajib menghargai hak asasi hewan, karenanya penelitian dan tindakan invasif yang berpotensi menyakiti hewan dilakukan dengan metode khusus yang tidak akan terlalu menyakitinya.

Memberikan perhatian pada hewan lab juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah penelitian dengan hewan. Pun demikian prosedur keamanan baku tetap dituntut untuk diterapkan, sehingga pemusnahan tikus lab seringkali merupakan keharusan.

Jika tidak, mungkin mereka akan protes seperti dalam kisah kartun dari Worner Bross, di mana pingky dan brain - dua tikus lab yang berhasrat untuk menguasai dunia sebagai balas dendamnya.

Tikus lab sudah banyak berjasa atas pelbagai inovasi di dunia bioteknologi, farmasi dan kedokteran. Karenanya, bukan berarti hewan yang bisa disepelekan. We should be thankful.

Minggu, 10 Oktober 2010

Apa kita memang damai di dalam?

Dari dulu kita mendengar bahwa kedamaian mesti tercipta dulu di dalam diri seseorang agar ada kedamaian di dunia. Tapi kini kita perlu bertanya dulu, adakah kedamaian di dalam diri kita.

Tubuh kita dirancang lebih banyak bekerja sesuai dengan hukum alam, yaitu mengalahkan atau memunaskah kehidupan lain untuk tetap bertahan hidup. Bayangkan saja, tidak ada kuman - kecuali yang bersifat komensalisme yang akan diampuni oleh sistem pertahanan tubuh jika sudah masuk ke dalam tubuh manusia.

Reaksi pikiran kita juga tidak jauh berbeda. Kita mendirikan kastil pertahanan di sekitar ide dan kepercayaan kita, jangan sampai ada yang merusaknya. Jika ada keyakinan lain yang masuk ke dalam, maka kita bersiap untuk membasminya. Atau setidaknya kita bersiap menolaknya.

Kita - jauh di dalam diri kita, mungkin kita tidak pernah terbuka sepenuhnya pada kehidupan, kita tidak cukup rentan untuk disentuh kehidupan yang beragam rupa ini, kadang kita khawatir akan pergerakan ke sesuatu yang baru atau sesuatu yang tidak kita kenali.

Kita telah memisahkan antara manusia dan kehidupan itu sendiri. Maka mungkin bukan hanya tiadanya kedamaian di dalam diri kita, bahkan kita tidak memahami apa sesungguhnya kedamaian itu.

Jumat, 01 Oktober 2010

Menyalakan Pelita Hati

Engkau mungkin merasa dalam dunia yang begitu gelap. Tidak bisa melihat apapun, bahkan udara yang teraba pun terasa begitu hitam pekat. Hati bisa jadi hanya berkeliaran rasa gundah dan gelisah. Pikiran pun tak hendak duduk barang sejenak untuk diajak berbincang dengan santu sembari menikmati indahnya alam.

Dunia begitu gelap, maka dari itu engkau harus menyalakan pelita hatimu sendiri. Mungkin tak akan ada yang membantumu. Jangan khawatir, karena angin kekhawatiran akan menghebuskan pelitamu bahkan sebelum ia menyala.

Jangan ragu dan takut jika pelitamu tidak cukup terang. Karena cahaya hati tetaplah sebuah cahaya, dan sebuah cahaya tidak memerlukan lebih banyak cahaya untuk menjadikannya bercahaya.

Kegagalan Bukanlah Akhir

Baru saja diajak teman baik saya melihat salah satu penguman seleksi di sebuah perusahaan negara. Dan pada seleksi tahap akhir ini ternyata namanya tidak muncul dalam daftar yang diloloskan.

Perasaan pasti berat, saya sendiri merasakan berat, padahal berharap nama sudah muncul. Jika dianggap kegagalan, ini mungkin akan tambah berat lagi.

Tapi toh ini bukan akhir segalanya, hal ini hanyalah jembatan bagi kita untuk mulai melangkah lagi mengambil kesempatan lainnya. Saya senang melihat orang yang tidak menghentikan langkahnya dan meratapi kegagalan. Namun tetap berjalan.

Dalam kehidupan itu, ndak klop rasanya jika ndak pernah gagal. Karena hanya orang gagal-lah yang bisa menghargai keberhasilan itu dengan lebih baik. Jadi ini bukanlah akhir, bersiaplah untuk melangkah lagi.

Sepatu Tua di Sudut Kota

Sepatu tua di sudut kota
Berjalan di tanah lepuh dari bata
Bertiup pula si angin senja
Seakan pikul bebab jadi sirna

Gedung-gedung tua menatap langit
Di kakinya berkerumun ratusan ruang sempit
Seperti hati penghuninya yang selalu memandang sipit

Hati berhimpit mencari suaka
Keselamatan dalam jendela suka
Setidaknya tidak melarat dalam duka
Menepuk daun mengarak asa

Demikianlah manusia
Dengan sepatu tua di sudut kota.