Rabu, 08 September 2010

Sekolah itu Digugu dan Ditiru?

Kemarin saya sempat pulang ke rumah di desa, dan bertemu keponakan
yang sudah memasuki tahun akhir di SMA. Saya ingin tahu ke mana dia
selanjutnya akan mencari. Seperti anak-anak pada umumnya, dia masih
bingung menentukan. Tapi yang jelas dia bilang, tidak ingin memasuki
jalur keguruan, tidak ingin menjadi guru, karena guru zaman sekarang -
katanya - lebih sering dihina murid daripada dipuji.

Kemudian saya berpikir apa benar demikian. Tapi saya rasa di mana-mana
selalu saja ada dua sisi yang bertentangan, satu mungkin yang baik dan
yang lainnya ya yang brengsek. Setiap dunia profesi memiliki warna
seperti itu.

Tapi mungkin juga saat ini, rusaknya negeri ini sudah merambah ke
dunia pendidikan. Komersialisasi dunia pendidikan ada di tengah-tengah
masyarakat sebagai bukti yang tidak terbantahkan, sebagai tanda bahwa
tempat melahirkan penerus negeri ini pun sudah ada yang terkorupsi.

Jangan kaget jika mendengar orang tua mengeluh bahwa sekolah
mewajibkan kegiatan ini dan itu - di luar kurikulum - dengan biaya
ekstra segini dan segitu.

Sekolah dan para guru seharusnya memiliki kompetensi untuk
berkreativitas dan melahirkan solusi pendidikan yang cerdas dan murah
serta menarik. Bukannya menjajakan sistem pendidikan siap pakai dengan
kerja sama mengandalkan kompetensi pihak ketiga.

Jadi murid dan orang tua murid mungkin tidak akan lagi mengeluh bahwa
mereka harus begini dan begitu yang sering kali tidak masuk akal
karena ulah sekolah yang terkesan mencari untung dan melakukan
komersialisasi pendidikan.

--
Sent from my mobile device

Sincerely yours,

Cahya Legawa
www.legawa.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar