Rabu, 29 September 2010

Agama itu ya damai

Orang berkata dan mungkin bertanya, mengapa sih orang mesti beragama? Jawaban umum yang berserakan di mana-mana, salah satunya ya guna menemukan kedamaian dalam hidup ini. Pun jawaban ini berserakan di mana-mana, berapa banyak yang tahu jawaban ini sungguh-sungguh merasa bahwa agama sudah membawa kedamaian?

Manusia selalu lebih mudah mencari perselisihan dibandingkan damai itu sendiri. Tidak peduli untuk hal-hal kecil ataupun hal-hal besar, manusia selalu ingin aku-nya diutamakan.

Jika Anda masih bisa berkata-kata kasar, mencerca, menghina pada lawan bicara - apalagi pada pembicaraan yang sopan. Ndak ada kesan damai sama sekali, masakah yang seperti itu dikatakan beragama? Saya jadi bingung kalau melihat hal-hal yang demikian.

Di satu sisi mengangungkan agama dan Tuhan, di sisi lain menghina dan merendahkan sesama manusia. Susahnya jadinya kalau yang begini berpapasan di jalan kehidupan saya.

Senin, 20 September 2010

Hari ini melenyapkan ratusan nyawa

Sedari pagi hujan terus mengguyur, mungkin tanah menjadi lembab, tampak ratusan ekor semut merah mulai naik ke lantai dan membangun sarangnya di sudut kamar. Tanpa pikir panjang kuambil semprotan anti serangga, dan nyawa ratusan semut itu pun melayang dalam hitungan detik.

Ah, aku tahu aku sadis, tidak usah berpura-pura. Demikian ratusan yang lainnya mulai mundur kembali, dan mencari rumah baru. Karena jika mereka hanya di sapu mereka akan kembali naik, sementara jika disemprot mereka tidak akan melewati daerah beracun dua kali. Serangga adalah mahluk hidup yang mampu bertahan hidup sejak ratusan juta tahun yang lalu, termasuk semut.

Di sekitar rumahku ada jutaan semut merah berkoloni, yah, mereka berguna bagi lingkungan sekitar, tapi begitu menginvasi, maka bendera perang berkirbar. I have no mercy for living things, since I am a heartless person.

Tapi manusia, sadar atau tidak, adalah penyebabnya matinya jutaan mahluk hidup lain setiap harinya, termasuk manusia itu sendiri.

Digg This

Kamis, 16 September 2010

Makan Nasi dengan Cumi

Ketika ditanya oleh kasir rumah makan saat akan membayar, maka seorang tamu menjawab, “saya makan nasi dengan cumi”… Lha, jika ada orang melihat anekdot ini dan usil, dia mungkin bertanya, “saya tidak lihat Anda sedang makan bersama cumi”.

Penggunaan kata hubung dalam bahasa Indonesia pun masih simpang siur dengan banyak salah kaprah. Yah, mau bagaimana lagi.

Digg This

Rabu, 08 September 2010

TI dan Komunikasi untuk Siswa?

Saya baru saja membuka-buka sebuah buku sekolah milik adik sepupu saya
yang berjudul "Teknologi Informasi dan Komunikasi" untuk SMP/MTs Kelas
VII.

Saya dulu semasa SMP tentu saja belum mendapat pengetahuan tentang
yang namanya teknologi informasi. Jika pun ada, paling hanya sebatas
mengenal komputer berbasis WordStar, dan itupun belajar atas inisiatif
sendiri, bukan kurikulum wajib.

Buku edisi kedua, yang terbit di tahun 2010 ini saya lihat masih
banyak kekurangannya.

Pertama, materi yang diberikan terlalu berlimpah. Untuk apa anak-anak
SMP tahu sejarah komputer, apakah itu begitu esensial, sampai sedetail
itu? Apa tidak ada sesuatu yang lebih aplikatif yang bisa menunjang
pendidikan mereka sendiri?

Kedua, materi terlalu condong untuk beberapa sisi saja. Misalnya,
contoh diberikan dengan menggunakan sistem operasi Windows XP yang
notabene sudah kedaluarsa di tahun ini. Bahkan sistem operasi
bersumber kode terbuka sama sekali tidak banyak terulas, seperti Linux
misalnya. Saya rasa jika ingin memerdekakan negeri ini dari
ketergantungan perangkat lunak, maka open source harus dikenalkan
secara dini pada anak-anak sekolahan.

--
Sent from my mobile device

Sincerely yours,

Cahya Legawa
www.legawa.com

Sekolah itu Digugu dan Ditiru?

Kemarin saya sempat pulang ke rumah di desa, dan bertemu keponakan
yang sudah memasuki tahun akhir di SMA. Saya ingin tahu ke mana dia
selanjutnya akan mencari. Seperti anak-anak pada umumnya, dia masih
bingung menentukan. Tapi yang jelas dia bilang, tidak ingin memasuki
jalur keguruan, tidak ingin menjadi guru, karena guru zaman sekarang -
katanya - lebih sering dihina murid daripada dipuji.

Kemudian saya berpikir apa benar demikian. Tapi saya rasa di mana-mana
selalu saja ada dua sisi yang bertentangan, satu mungkin yang baik dan
yang lainnya ya yang brengsek. Setiap dunia profesi memiliki warna
seperti itu.

Tapi mungkin juga saat ini, rusaknya negeri ini sudah merambah ke
dunia pendidikan. Komersialisasi dunia pendidikan ada di tengah-tengah
masyarakat sebagai bukti yang tidak terbantahkan, sebagai tanda bahwa
tempat melahirkan penerus negeri ini pun sudah ada yang terkorupsi.

Jangan kaget jika mendengar orang tua mengeluh bahwa sekolah
mewajibkan kegiatan ini dan itu - di luar kurikulum - dengan biaya
ekstra segini dan segitu.

Sekolah dan para guru seharusnya memiliki kompetensi untuk
berkreativitas dan melahirkan solusi pendidikan yang cerdas dan murah
serta menarik. Bukannya menjajakan sistem pendidikan siap pakai dengan
kerja sama mengandalkan kompetensi pihak ketiga.

Jadi murid dan orang tua murid mungkin tidak akan lagi mengeluh bahwa
mereka harus begini dan begitu yang sering kali tidak masuk akal
karena ulah sekolah yang terkesan mencari untung dan melakukan
komersialisasi pendidikan.

--
Sent from my mobile device

Sincerely yours,

Cahya Legawa
www.legawa.com