Selasa, 03 Agustus 2010

Wakil Rakyat

Sekarang rakyat pada bingung, lha bagaimana tidak bingung, masalah di masyarakat makin banyak. Mulai dari tabung gas yang meledak di mana-mana, harga melambung sejak TDL dinaikan (bahkan penjual burjo di tikungan sebelah bilang kalau cabe hijau sekarang mencapai Rp 50.000,00 sekilonya), warga yang terancam keamanannya karena ormas yang menggila - entah sudah damai atau hanya gencatan senjata semata.

Tentu saja permasalahan rakyat yang klasik lainnya, yang terlalu banyak untuk disebutkan bahkan untuk dipikirkan. Rakyat ingin sekali mengeluh, dan tentunya keluhan yang didengar oleh orang-orang yang konon memegang kuasa atas pemerintahan berdasarkan kepentingan rakyat itu sendiri. Konon dikisahkan bahwa jika rakyat mengeluh, maka perpanjangan lidah rakyat akan menjadi ujung tombaknya - mereka yang disebut sebagai wakil rakyat.

Wakil rakyat konon juga adalah orang-orang pilihan rakyat untuk memperjuangkan nasib mereka agar tidak ditekan oleh pihak-pihak yang memiliki kuasa, agar rakyat dapat hidup tanpa takut hak-haknya sebagai warga negara dikebiri.

Tapi kini, di mana-mana muncul krisis kepercayaan rakyat pada wakil-wakilnya. Di saat rakyat mengeluh, apa masih akan didengarkan. Lha wong satu kasus yang konon adalah perugian negara oleh sebuah bank dan beberapa pejabat negara saja sampai saat ini tidak jelas duduk perkara dan penyelesaiannya. Kalau satu masalah besar saja belum bisa diselesaikan, bagaimana dengan masalah yang lainnya. Apa jadinya rakyat yang ingin mengadu masalah-masalah yang mungkin akan dibilang hanya masalah kecil saja.

Wakil rakyat..., apa sebenarnya ada yang disebut wakil rakyat?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar