Rabu, 18 Agustus 2010

Detak Arloji

Langit yang biru cerah, awas-awas tipis tersapu angin, udara yang masih cukup lembab, dan suara kicauan burung. Katanya manusia harus bisa melepas penatnya, walau aku tak begitu memahami maksudnya.

Kita adalah saksi rapuh yang hanyut dalam sungai waktu, sedemikian hingga setiap embusan napas bisa menjadi persinggahan terakhir sebelum merangkul peristirahatan abadi. Dan itu telah menjadi kewajaran dalam kehidupan kita sebagai manusia.

Aku mendengar detak kecil dari arloji kecil di sisiku. Detak itu begitu jelas, seakan-akan dunia telah menghentikan segenap suaranya sedemikian hingga aku dapat mendengarkan detak ini. Dan aku tersadar, aku masih belum dapat menghentikan waktu dalam simpul senyumku yang melihat kebodohanku sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar