Kamis, 26 Agustus 2010

Adu kepala bukan berarti saling sundul

Beberapa orang sangat menyukai perdebatan, saya tidak tahu motifnya, namun jelas ada orang-orang yang menikmatinya. Bagi saya itu sih tidak masalah, selama dilakukan masih dalam tatanan yang sesuai.

Saya rasa berdebatpun memiliki seninya tersendiri. Kita berperang dengan argumentasi, mengadu ketajaman argumentasi. Seperti dunia pengadilan yang mengandalkan argumentasi terbaik dari masing-masing pihak.

Adu kepala mestinya dilakukan dengan kepala dingin, santun, terbuka, dan bijaksana. Adu argumentasi memerlukan suatu kematangan jiwa dan pemikiran, kebersediaan untuk duduk setara, tidak merasa paling hebat sendiri dan memandang rendah oposisi.

Jika tidak, maka adu argumentasi hanya akan jadi ajang saling sruduk membabi buta. Mulai dari melempar cemohan, hinaan, bahkan bisa sampai saling lembar batu dan golok di jalanan. Maka itu sudah bukan lagi adu argumentasi, tapi debat kusir yang masuk panggung dramatisasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar