Selasa, 31 Agustus 2010

Sama dan Beda

Manusia itu mahkluk yang aneh, di satu sisi dia tidak suka dibanding-bandingkan dengan orang-orang di sekitarnya, namun di sisi lain dia tidak mau disamakan dengan orang-orang di sekitarnya.

Mungkin inilah sifat dasar manusia yang dikenal sebagai eksklusifisme. Merasa dirinya memiliki nilai maupun keistimewaan tersendiri. Dan kadang saking parahnya, dalam pandangannya, keistimewaan itu menjadi sesuatu yang absolut dan tidak bisa ditawar-tawar.

Sehingga baik secara langsung maupun tidak langsung, orang bisa kita lihat meminta perlakuan yang tersendiri, VIP treatment - jika orang Barat mengatakannya.

Apakah kita sungguh individu yang begitu istimewa sehingga menjadi kelas tersendiri dibandingkan yang lainnya?

Mungkin saatnya kita mengetuk jendela hati kita sendiri. Apa sesungguhnya makna persamaan dan perbedaan dalam kemanusiaan itu?

Minggu, 29 Agustus 2010

Gonggongan tangisan

Saat membeli sarapan tadi pagi di depan kos, sekitar pukul 2.30 pagi. Saya mendengar gonggongan anjing yang memilukan, makin berjalan mendekati halam depan suara itu terdengar makin jelas. [more]

Rupanya gonggongan itu berasal dari rumah kontrakkan di seberang gang, ada beberapa mahasiswa baru di sana, dan tampaknya mereka memelihara seekor anjing.

Saat saya keluar gerbang, saya lihat ibu penjual nasi untuk sahur ada di dekat sana. Rupanya anjing itu diikat terlalu pendek - dapat kulihat dia merengek di balik pagar, dan dia tidak bisa menjangkau air minumnya. Ibu penjual nasi juga memberinya sepotong lauk, karena tampaknya anjing itu sangat kelaparan. Setelah makan dan minum, barulah anjing itu terdiam.

Kelihatannya mudah, tapi punya peliharaan itu tidaklah sesederhana itu bukan.

[tags peliharaan, hewan, anjing, tanggung jawab]

Sabtu, 28 Agustus 2010

Kue Pukis Kesukaan

Beberapa hari yang lalu saya akhirnya bisa membeli kue pukis, ha ha…, karena sebagian besar yang jualan kue pukis di Jogja pada tutup saat bulan puasa, maka mencarinya di lokasi-lokasi terdekat juga agak sulit.

Dari keu-kue impor, saya lebih menyukai kue pukis yang buatan tradisional. Apalagi jika di dalamnya ada pelbagai bahan rahasia, kadang Anda tidak tahu jika akan mendapatkan potongan pisang manis di dalamnya.

Sayang, kue ini sekarang cukup mahal. Sekitar Rp 2.000,00 per biji, dibandingkan saya saat kecil dulu, hanya sekitar Rp 100,00 hingga Rp 300,00 per biji (inflasi negeri ini memang gila). Tapi yang namanya sudah suka, seperti Doraemon yang menyukai Dorayaki, saya juga menyukai kue pukis.

Nyam…, nyam…

Kue Pukis

Digg This

Kamis, 26 Agustus 2010

Adu kepala bukan berarti saling sundul

Beberapa orang sangat menyukai perdebatan, saya tidak tahu motifnya, namun jelas ada orang-orang yang menikmatinya. Bagi saya itu sih tidak masalah, selama dilakukan masih dalam tatanan yang sesuai.

Saya rasa berdebatpun memiliki seninya tersendiri. Kita berperang dengan argumentasi, mengadu ketajaman argumentasi. Seperti dunia pengadilan yang mengandalkan argumentasi terbaik dari masing-masing pihak.

Adu kepala mestinya dilakukan dengan kepala dingin, santun, terbuka, dan bijaksana. Adu argumentasi memerlukan suatu kematangan jiwa dan pemikiran, kebersediaan untuk duduk setara, tidak merasa paling hebat sendiri dan memandang rendah oposisi.

Jika tidak, maka adu argumentasi hanya akan jadi ajang saling sruduk membabi buta. Mulai dari melempar cemohan, hinaan, bahkan bisa sampai saling lembar batu dan golok di jalanan. Maka itu sudah bukan lagi adu argumentasi, tapi debat kusir yang masuk panggung dramatisasi.

Selasa, 24 Agustus 2010

Pot Bunga dan Hujan

Sore ini hujan sangat deras mengguyur Yogyakarta. Langit yang biasanya terang berubah gelap. Udara pun menjadi sejuk seperti berada di kaki air terjun. Aku terduduk di beranda sesaat memerhatikan hujan, karena sudah lama aku tidak menikmati waktuku.

Aku melihat di kejauhan, dalam payung besar yang diguyur hujan, sosok yang sibuk memindahkan pot-pot bunga dan tanaman kebun. Ia memindahkannya ke tempat-tempat yang biasanya cukup teduh ke tempat yang dapat dengan bebas terguyur hujan.

Ya, manusia tidak dapat lupa bahwa ada hal-hal yang diperlukan oleh alam sekitarnya.

Sabtu, 21 Agustus 2010

Permata Yang Terlupakan

Negeri ini banyak sekali memiliki permata yang tersebar di sana-sini, dan itu adalah putra-putrinya yang berkarya untuk negeri ini. Entah mengapa di media - televisi misalnya - selalu saja ada banyak berita tentang hal-hal buruk di negeri ini, bahkan lebih banyak hal-hal seputar gosip kehidupan selebritas. Tapi di manakah suara yang mengabarkan apa yang telah diberikan putra-putri negeri ini?

Mengangkat profil mereka yang berprestasi seharusnya bisa memberikan semangat dan cara pandang yang beragam bagi banyak orang. Sayangnya hal-hal seperti jarang terangkat. Atau mungkin saya yang tak pernah berjodoh dengan acara seperti ini jika muncul di televisi.

Narablog Agung Pushandaka menulis tentang hal ini juga di tulisan terbarunya di pushandaka.com. Mungkin memang benar pendapatnya, daripada ketika Istana Negara membagikan buku-buku tentang keluarga presiden ketika peringatan kemerdekaan Republik ini, mungkin lebih baik membagi buku tentang putra-putri negeri yang berprestasi dan yang mengabdi sehingga bisa menjadi cerminan dan contoh bagi banyak orang.

Orang tidak selalu berkarya hanya demi alasan semata-mata untuk dikenang, karena ada dorongan yang lebih kuat daripada hanya sekadar nama besar. Negeri ini masih memerlukan orang-orang seperti mereka, seperti permata yang terlupakan.

Kamis, 19 Agustus 2010

Aroma Kamar Berantakan

Hah..., sudah beberapa hari ini aku tidak membereskan kamar. Sekarang malang lebih mirip sarang daripada kamar. Hi Hi..., sepertinya memang sudah saatnya dibersihkan kembali.

Namun tunggu dulu, aku sebenarnya sayang kalau membersihkan dan merapikan kamarku. Kadang aroma kamar yang berantakan adalah segala yang baik yang bisa kulihat. Membiarkannya sekejap berantakan, dan melihatnya dengan seksama.

Kata orang kamar adalah cerminan penghuninya, mungkin kamarku sedang mencerminkan suasana hatiku. Mungkin ada yang tidak beres dalam diriku yang tidak kusadari.

Jadi aroma kamar yang berantakan kadang memberikanku kesempatan untuk melihat ke dalam diriku dengan lebih seksama.

Rabu, 18 Agustus 2010

Detak Arloji

Langit yang biru cerah, awas-awas tipis tersapu angin, udara yang masih cukup lembab, dan suara kicauan burung. Katanya manusia harus bisa melepas penatnya, walau aku tak begitu memahami maksudnya.

Kita adalah saksi rapuh yang hanyut dalam sungai waktu, sedemikian hingga setiap embusan napas bisa menjadi persinggahan terakhir sebelum merangkul peristirahatan abadi. Dan itu telah menjadi kewajaran dalam kehidupan kita sebagai manusia.

Aku mendengar detak kecil dari arloji kecil di sisiku. Detak itu begitu jelas, seakan-akan dunia telah menghentikan segenap suaranya sedemikian hingga aku dapat mendengarkan detak ini. Dan aku tersadar, aku masih belum dapat menghentikan waktu dalam simpul senyumku yang melihat kebodohanku sendiri.

Tidak ada pertanyaan bodoh

Saya pernah dengar sebuah pernyataan yang mungkin berasal dari bahasa asing, seperti "Theres no stupid question!" - yang kurang lebih bermakna bahwa tidak ada pertanyaan yang cukup bodoh untuk diajukan.

Kalau dalam kata bijak orang tua dulu bilang, janganlah kita malu bertanya, atau kita akan tersesat di jalan. Ya, kita bertanya karena kita tidak tahu, dan jangan mempersepsikan bahwa ketidaktahuan itu identik dengan kebodohan.

Jika ketidaktahuan tidak diikuti dengan kesadaran untuk menyelidiki kebenaran akan hal yang tidak kita ketahui, atau katakan saja ketidatahuan yang sejalan bersama ketidakacuhan, niscaya itu akan jadi akar kebodohan.

Dan jangan juga mengidentikan bahwa pertanyaan berarti serta merta kita akan mendapat jawaban yang membuat kita berpindah dari sisi yang gelap ke sisi yang terang, karena respons dari pertanyaan belum tentu selalu mencerahkan.

Kadang pertanyaan akan menjadi batu lompatan menuju petunjuk-petunjuk yang dirangkai untuk menemukan jawaban dan kebenarannya. Atau dengan kata lain, respons terhadap pertanyaan awal bisa jadi melahirkan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Pada akhirnya bergeraklah secara perlahan namun tetap waspada, awas terhadap situasi-situasi yang bisa memunculkan petunjuk.

Namun jika pertanyaan itu kemudian justru melahirkan kesemrawutan di mana-mana dan justru menjauhkan titik yang semestinya dituju, apakah kemudian itu pertanyaan bodoh?

No, there is no stupid question, just that you stupid enough to ask that kind of questin :D.

Apakah kita sudah merdeka?

Pagi ini terbangun dengan udara dingin menembus kulit, padahal angin sama sekali tidak bertiup. Aku bertanya-tanya tentang suatu hal yang mungkin selama ini terlewatkan oleh perhatianku yang semakin menumpul.

Hari ini, negeri ini telah memasuki usianya yang 65 tahun sejak proklamasi kemerdekaan dikumandangan di bumi nusantara untuk yang pertama kalinya. Dan sejarah menunjukkan bahkan sejak pertama kali dikumandangkan itu negeri ini masih melalui banyak peristiwa berdarah yang tak kalah menyesakkan sukma dibandingkan ketika memproklamirkan kemerdekaan hanya sebagai cita dan asa belaka.

Kita generasi kita bisa dengan mudah mengucapkan kata dan pekik "MERDEKA" bahkan sembari bergurau pada rekan dan sahabatnya, sebuah kata yang dulu pernah menjadi tanda bahwa kematian bisa jadi sesuatu yang pasti jika para penjajah mendengar para pejuang kita mengucapkan kata-kata itu.

Ya, kita adalah generasi yang menikmati aroma bebas kemerdekaan yang telah ditukar oleh darah, tangis, dan kesedihan yang tak terkira oleh para pendahulu kita yang berjuang dengan penuh pengorbanan. Dan kini, adakah ini hanya menjadi ritualitas kenangan setiap tahun saja.

Kita konon adalah generasi di era kemerdekaan, namun buta dan tuli akan makna kemerdekaan itu sendiri, sementara sesumbar dengan berkata bahwa kita berjiwa nasionalis. Entahlah, saya tidak tahu.

Sungguhkah kita telah benar-benar merdeka, atau setidaknya merdeka dari kebodohan dan ketidakacuhan kita sendiri? Apa jawabnya?

Rabu, 11 Agustus 2010

Jenuh

Ada perasaan jenuh di sekitarku, rasanya seperti sesuatu yang lengket dan tidak hendak mengalir. Namun tidak hanya itu, ini seperti senja yang abadi ketika mendayung sampan di tengah lautan lumpur. Sesuatu yang membuat enggan untuk turun dari sampan, namun sama enggannya juga untuk melanjutkan mendayung.

Aku telah kehabisan kata-kata bahkan untuk menyemangati diriku sendiri. Ah, kadang ini menimbulkan warna kejengkelannya tersendiri. Aku hendak menertawakan diriku yang terbaring di atas sampan, memandang langit menjingga yang tak bisa kuraih kecuali melalui tatapan.

Aku tertinggal di batas kaki langit senja yang abadi, dan demikianlah dunia melukiskan kejenuhanku padanya.

Minggu, 08 Agustus 2010

Fast food?

Banyak yang menyukai fast food karena bisa disajikan dengan cepat, menghemat waktu, dan pas bagi kebanyakan selera orang-orang. Walau sudah jadi pandangan umum bahwa itu tidak menyehatkan, tapi banyak yang masih memilihnya.

Saya sendiri berusaha menghindarinya, makan sayuran dan tempe di warung tegal masih cukup nikmat, apalagi ada buahnya, wah, serasa memang hidup di negeri tropis.

Lalu kira-kira mengapa ya orang masih suka fast food?

Powered by Nokia Mail

Sabtu, 07 Agustus 2010

Kesimpulan atau Simpulan?

Saya ingat teguran oleh guru bahasa Indonesia kala zaman SMA dulu saat menggunakan kata ‘kesimpulan’ di akhir laporan saya, dan menurut beliau kata ‘simpulan’-lah yang lebih tepat.

Alasan untuk ini sama seperti yang disampaikan pada tulisan “Pemukiman atau Pemukiman?”. Karena melihat dari sisi bentukan kata, maka ‘simpulan’ adalah bentuk konsisten yang tepat.

Digg This

Jumat, 06 Agustus 2010

Gurauan Redenominasi Rupiah

Siapa yang belum mendengar isu redenominasi rupiah? Ah, sudah lebih dari sebulan isu ini bergulir, walau sekarang sepertinya terdengar lebih santer lagi. Walau saya - tentu saja - paham apa itu redenominasi sebagaimana yang disampaikan (pura-pura pintar, padahal ndak), namun ada beberapa yang menggelitik bagi saya.

Karena jika redenominasi benar-benar diterapkan sebagaimana wacana, maka harga-harga barang dan jasa akan mirip sekali seperti tempo dulu. Sepiring nasi komplit yang saat ini Rp 5.000,00 akan jadi hanya Rp 5,00. Jadi teringat dengan beberapa koin uang logam lama senilai Rp 5,00 yang masih saya simpan. Seandainya itu bisa digunakan lagi pastinya orang bisa kaya mendadak (ha ha, mimpi mungkin).

Tapi jika tidak salah, inflasi yang terkendali menjadi salah satu kunci utama keberhasilan pelaksaanaan redenumerisasi. Kalau inflasi terkendali, maka itu akan mencegah efek sia-sia jangka panjang untuk redenumerisasi. Bayangkan saja kalau setelah dimulainya redenumerisasi inflasi melambung tinggi, dan barang yang sudah jadi Rp 5,00 dalam sepuluh tahun jadi senilai Rp 50,00 atau bahkan Rp 500,00 - nah kalau sudah begitu kan sia-sia saja redenumerisasinya.

Apalagi sekarang pada hobi menaikan harga barang dan jasa, tarif dasar listrik-lah, tarif tol-lah, dan lain sebagainya. Padahal rakyat belum tentu sanggup.

Dan tentunya yang juga tidak boleh dilupakan adalah penyediaan pecahan yang terkecil secara merata. Ingat kan di pelbagai tempat saat ini di Indonesia, bahwa ada tempat belanja yang memberikan kembalian berupa permen dan bukannya uang recehan dengan alasan tidak tersedia uang receh.

Pokoknya masih banyak yang harus dipersiapkan dipersiapkan.

Hindari Swalayan Saat Keroncongan

Ini adalah apa yang terjadi pada saya beberapa hari yang lalu. Siang itu saya hendak pergi mencari beberapa keperluan sehari-hari di salah satu pasar swalayan terdekat. Sebenarnya saya sudah lumayan merasa lapar saat itu, namun saya memutuskan menunda dulu makan siang saya sampai selesai belanja, toh belanja tidak akan lama pikir saya.

Dan memang tidak perlu waktu lama untuk belanja bagi saya, memang berapa banyak sih keperluan cowok itu tiap bulannya, paling perlengkapan mandi dan kamar saja. Karena saya tidak memasak di rumah jadi seputar dapur bisa diabaikan.

Namun alangkah kagetnya saya setibanya di kassa saat akan melakukan pembayaran. Saya melihat keranjang saya penuh dengan camilan - lebih banyak dari barang yang ingin saya beli. Rupanya setengah sadar karena rasa lapar, saya keenakan melirik-lirik banyak camilan dan memasukkannya ke dalam keranjang.

Tapi sudah terlanjur, saya beli saja, walau sebenarnya saya ingin membeli kue pukis kesukaan saya, tapi sayangnya, hal itu mesti ditunda terlebih dahulu, karena pengeluaran untuk ini saja sudah cukup banyak.

Lain kali mungkin sebaiknya saya tidak pergi ke pasar swalayan saat sedang kelaparan, bahaya tak terduga bisa saja terjadi, terutama bahaya untuk isi dompet saya, he he.

Selasa, 03 Agustus 2010

Wakil Rakyat

Sekarang rakyat pada bingung, lha bagaimana tidak bingung, masalah di masyarakat makin banyak. Mulai dari tabung gas yang meledak di mana-mana, harga melambung sejak TDL dinaikan (bahkan penjual burjo di tikungan sebelah bilang kalau cabe hijau sekarang mencapai Rp 50.000,00 sekilonya), warga yang terancam keamanannya karena ormas yang menggila - entah sudah damai atau hanya gencatan senjata semata.

Tentu saja permasalahan rakyat yang klasik lainnya, yang terlalu banyak untuk disebutkan bahkan untuk dipikirkan. Rakyat ingin sekali mengeluh, dan tentunya keluhan yang didengar oleh orang-orang yang konon memegang kuasa atas pemerintahan berdasarkan kepentingan rakyat itu sendiri. Konon dikisahkan bahwa jika rakyat mengeluh, maka perpanjangan lidah rakyat akan menjadi ujung tombaknya - mereka yang disebut sebagai wakil rakyat.

Wakil rakyat konon juga adalah orang-orang pilihan rakyat untuk memperjuangkan nasib mereka agar tidak ditekan oleh pihak-pihak yang memiliki kuasa, agar rakyat dapat hidup tanpa takut hak-haknya sebagai warga negara dikebiri.

Tapi kini, di mana-mana muncul krisis kepercayaan rakyat pada wakil-wakilnya. Di saat rakyat mengeluh, apa masih akan didengarkan. Lha wong satu kasus yang konon adalah perugian negara oleh sebuah bank dan beberapa pejabat negara saja sampai saat ini tidak jelas duduk perkara dan penyelesaiannya. Kalau satu masalah besar saja belum bisa diselesaikan, bagaimana dengan masalah yang lainnya. Apa jadinya rakyat yang ingin mengadu masalah-masalah yang mungkin akan dibilang hanya masalah kecil saja.

Wakil rakyat..., apa sebenarnya ada yang disebut wakil rakyat?

Senin, 02 Agustus 2010

Sepak Bola Suram

Saya tidak mengikuti perkembang persepakbolaan nasional, tapi sekilas menonton - jika tidak salah - final liga Indonesia semalam sungguh membuat saya lebih tidak ingin lagi memberi perhatian pada hal ini.

Entah kenapa rasanya malu dan kecewa itu bercampur, dan pada akhirnya menjadi ketidakacuhan. Lebih baik tidak usah memikirkan hal itu, tidak ada gunanya - mungkin itu yang terlintas di benak saja.

Uang banyak terbuang untuk mempertunjukkan tontonan yang menyedihkan. Lebih baik digunakan untuk membantu banyak rakyat yang kesusahan, menciptakan lapangan kerja, dan mewujudkan kesehatan bagi semua.

Masih ada banyak duka di negeri ini. Kalau hanya ingin bersenang-senang dengan sepak bola suram, mungkin sebaiknya saya tidak usah ikut campur saja.