Jumat, 09 Juli 2010

Uang Tutup Mulut untuk Seniman Jalanan?

Beberapa saat yang lalu, saya menikmati makan siang di sebuah warung kecil. Baru beberapa suapan tiba-tiba terdengar suara khas sekelompok orang yang memainkan alat musik sederhana, diimbangi dengan tembang lokal dari salah satunya.

Mereka bisa dikatakan "pengamen" tradisional, seniman jalanan, atau mereka yang mempertujukkan seni untuk sesuap nasi - terserah bagi Anda untuk memberikannya sebutan.

Belum ada beberapa saat tembang mengalun pelan di udara siang yang sedikit teduh setelah hujan turun barusan. Saya melihat penjaga warung buru-buru mengambil uang receh dan menyerahkannya pada salah satu dari mereka. Dan musik serta tembang pun berhenti dengan ucapan terima kasih, sementara para seniman jalanan itu terus berjalan ke rumah atau warung berikut yang mungkin mereka temukan.

Bukan apa-apa, hanya saja terlintas dalam pikiran saya bahwa receh yang diserahkan oleh pemilik warung seakan-akan merupakan uang tutup mulut, agar suara-suara itu berhenti dan sumbernya segera pergi, dan penerima pun setelah mendapatkan uang tutup mulutnya segera pergi berlalu.

Apakah memang seperti itu dunia di sekitar kita. Ketika kehidupan sulit, orang mulai mencari berbagai cara untuk tetap bertahan hidup, pendapatan dari uang tutup mulut mungkin pahit ditelan, dan tidak banyak mengenyangkan.

Tidakkah ada cara mengakomodasi kemampuan dan apa yang mereka miliki dalam bingkisan yang berbeda? Tapi apa bisa dunia ini diubah sedemikian rupa, sehingga setiap orang benar-benar berhak atas kehidupan yang setara.

Sebuah kemanusiaan yang bisa melihat kemanusiaan dalam tiap individu yang tidak lagi berlabel.
Sincerely yours,
Cahya

Homepage: http://legawa.com | Blog: http://catatan.legawa.com | Twitter: @haridiva

Powered by Nokia Mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar