Minggu, 25 Juli 2010

Di antara 2 Awan

Apakah engkau tahu awan putih yang menghiasi langit biru ketika siang menerpa bumi dengan dihantarkan sinar mentari baik pada daratan maupun perairan. Manusia bagaikan mahluk mungil yang bahkan tak mampu menangkap betapa luasnya angkasa. Dan melihat betapa besarnya gumpalan-gumpalan putih di atas sana yang kita sebut awan.

Kita sering menyebutnya awan yang berarak, atau pun awan yang saling mengisi. Berbagai jenis awan dikenal oleh manusia dengan melihat pola-polanya. Namun apakah yang sesungguhnya ada di antara dua awan? Pernahkah seseorang menyelaminya?

Kita hanya melihat bentuk, namun tidak esensi alam ini, karena itulah kita gemar melakukan eksploitasi sedemikian hingga kita dapat hidup nyaman. Tapi kita mungkin sama sekali tidak mengenal alam ini.

Jadi apakah yang ada di antara dua awan? Dapatkah seseorang menjawabnya?

Tentu saja untuk menjawab ini, orang harus menemukan sesuatu yang lebih sederhana terlebih dahulu. Dapatkah orang menemukan "sebuah awan" sama sekali?

Ah, kurasa jika hanya sekadar bentuk tanpa esensi, itu akan menjadi sangat mudah.

Senin, 12 Juli 2010

Perbincangan dengan Dalai Lama

Siang ini saya berkesempatan mengikuti perbincangan dengan Dalai Lama - pimpinan spiritual masyarakat Tibetan Budhis - yang pasti sudah dikenal hingga ke pelosok dunia. Sejak serbuan China ke Tibet, Dalai Lama tinggal di lokasi yang disebut Little Lasha di India Utara tahun 1959 saat suaka disetujui oleh Perdana Menteri Nehru ketika itu.

Little Lasha berubah menjadi kota kecil dengan nuansa Tibet yang saya kental. Penduduk Tibet di "pengasingan" demikian dunia menyebutnya, membawa dan menghidupkan kebudayaan mereka di sini. Dan di sinilah Dalai Lama telah tinggal hampir selama 50 tahun.

Perbincangan dengan Dalai Lama kali ini saya ikuti dari sebuah program di salah satu televisi swasta nasional, di mana pembawa acara mengunjungi langsung Dalai Lama di Liittle Lasha untuk melakukan wawancara eksklusif.

Pesannya tidak berubah sejak dulu, tentang kedamaian dan kebijaksanaan. Ia bagai inspirasi banyak orang di muka di bumi. Namun dalam kesederhanaannya, Beliau selalu berkata bahwa ia hanyalah seorang manusia biasa, hanya saja dalam usia yang cukup senja dan setelah melewati kehidupan dengan banyak masalah, mungkin beberapa pengalamannya dapat bermanfaat bagi beberapa orang yang mendapatkan masalah yang serupa.

Ia berpesan bahwa manusia harus bisa mengembangkan kasih sayang yang tak terbatas dalam diri masing-masing, karena pada dasarnya setiap orang memiliki potensi yang sama untuk melahirkan kasih sayang dalam dirinya untuk semua bentuk kehidupan.

Sederhananya, karena sebuah batin yang penuh kasih sayang saja yang tidak akan dipengaruhi oleh amarah, di mana amarah akan memunculkan kebencian dan kebencian melahirkan konflik.

Banyak pesan Beliau yang lain, namun tak bisa saya sampaikan satu per satu di sini.

Jumat, 09 Juli 2010

Uang Tutup Mulut untuk Seniman Jalanan?

Beberapa saat yang lalu, saya menikmati makan siang di sebuah warung kecil. Baru beberapa suapan tiba-tiba terdengar suara khas sekelompok orang yang memainkan alat musik sederhana, diimbangi dengan tembang lokal dari salah satunya.

Mereka bisa dikatakan "pengamen" tradisional, seniman jalanan, atau mereka yang mempertujukkan seni untuk sesuap nasi - terserah bagi Anda untuk memberikannya sebutan.

Belum ada beberapa saat tembang mengalun pelan di udara siang yang sedikit teduh setelah hujan turun barusan. Saya melihat penjaga warung buru-buru mengambil uang receh dan menyerahkannya pada salah satu dari mereka. Dan musik serta tembang pun berhenti dengan ucapan terima kasih, sementara para seniman jalanan itu terus berjalan ke rumah atau warung berikut yang mungkin mereka temukan.

Bukan apa-apa, hanya saja terlintas dalam pikiran saya bahwa receh yang diserahkan oleh pemilik warung seakan-akan merupakan uang tutup mulut, agar suara-suara itu berhenti dan sumbernya segera pergi, dan penerima pun setelah mendapatkan uang tutup mulutnya segera pergi berlalu.

Apakah memang seperti itu dunia di sekitar kita. Ketika kehidupan sulit, orang mulai mencari berbagai cara untuk tetap bertahan hidup, pendapatan dari uang tutup mulut mungkin pahit ditelan, dan tidak banyak mengenyangkan.

Tidakkah ada cara mengakomodasi kemampuan dan apa yang mereka miliki dalam bingkisan yang berbeda? Tapi apa bisa dunia ini diubah sedemikian rupa, sehingga setiap orang benar-benar berhak atas kehidupan yang setara.

Sebuah kemanusiaan yang bisa melihat kemanusiaan dalam tiap individu yang tidak lagi berlabel.
Sincerely yours,
Cahya

Homepage: http://legawa.com | Blog: http://catatan.legawa.com | Twitter: @haridiva

Powered by Nokia Mail

Rabu, 07 Juli 2010

Ide Cemerlang Untuk Kekhawatiran

Aku seringkali memerhatikan diriku tanpa banyak pertimbangan. Kadang aku menemukan diriku dalam berbagai masalah, dan tentu saja menurut pemikiran normal kebanyakan orang, masalah ini harus dipecahkan.

Sebenarnya, aku menemukan pada awal setiap kali pemikiran akan masalah-masalahku, di sana ada sesuatu yang kebanyakan orang sebut kekhawatiran. Dan kekhawatiran ini bekerja seperti surya kanta, ia akan menampakkan masalah jauh lebih besar daripada yang sewajarnya. Atau bahkan ia bisa menampakkan masalah yang mungkin sebenarnya tidak ada dalam kenyataannya.

Jadi sebelum saya melanjutkan apa yang saya pikirkan tentang hal ini. Mari kita renungan dulu apakah ada sebuah ide cermerlang akan kekhawatiran kita?

Sincerely yours,
Cahya

Homepage: http://legawa.com | Blog: http://catatan.legawa.com | Twitter: @haridiva

Powered by Nokia Mail

Cinta Lama Bersemi Kembali?

Kadang manusia itu aneh ya, atau mungkin karena kita kurang memahami sesama kita? Misalnya dalam salah satu ungkapan, cinta lama bersemi kembali.

Ya ..., saya tahu itu adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan ada perasaan suka yang dulu pernah ada kemudian terputus dan sekarang muncul kembali. Menyampingkan apapun alasan dibalik hilangnya hubungan antara dua hati ini dulunya, maka hal-hal seperti ini cukup sering kita jumpai.

Tapi pernahkah kita bertanya, cinta itu seperti apa? Apa bisa hilang dan kemudian muncul lagi begitu saja? Apa dia seperti ego manusia yang disaat perlu atau ingin akan muncul, dan di sisi lain ketika tidak perlu akan hilang?

Ataukah cinta sesuatu yang lebih misterius dari semua itu. Jika seseorang tidak memahami cinta, bagaimana ia bisa mengatakan bahwa cinta bersemi kembali? Apakah pernah menyelidiki sebelum melontarkan pernyataan bahwa itu memang cinta yang hadir kembali?

Manusia suka menggunakan kata cinta seenak hatinya. Tapi dengan begitu mungkin beberapa di antaranya bisa memupus kerinduan akan perasaan yang tidak pernah sungguh-sungguh mereka temukan di dalam hidup ini.

Sincerely yours,
Cahya

Homepage: http://legawa.com | Blog: http://catatan.legawa.com | Twitter: @haridiva

Powered by Nokia Mail